Sunday, March 31, 2013

Cerpen URIP oleh Humam S. Chudori


U  R  I  P

Cerpen  Humam S. Chudori

            TIDAK ada pertayaan yang paling menyakitkan hati Urip, setiapkali berkenalan dengan orang lain, kecuali pertanyaan yang menyangkut hubungannya dengan Intan. Ya, hampir bisa dipastikan setiap orang yang baru dikenal Urip selalu menanyakan hubungan Urip dengan Intan, penulis wanita yang cukup terkenal itu. Padahal, ia sendiri belum pernah bertemu Intan. Apalagi punya hubungan darah dengan wanita itu.   
            “Mas Urip ini kakaknya Intan, ya?”
            “Apa Mas Urip masih saudara dengan Intan?”
            “Apa hubungannya Mas Urip dengan Intan?”
            Entah kalimat apalagi yang pernah sampaikan orang-orang kepadanya, ia sudah tidak ingat satu per satu. Yang pasti, pertanyaaan dengan maksud yang sama selalu dilontarkan orang yang baru dikenalnya.
            Mula-mula Urip tidak pernah mempedulikan pertanyaan semacam itu. Ia tidak merasa  tersinggung jika ada yang bertanya demikian. Sebab nama lengkap Intan adalah Intan Rahayu Slamet. Sementara itu,  ia sendiri nama lengkapnya Urip Rahayu Slamet. Baik Intan maupun dirinya sama-sama penulis fiksi. “Barangkali lantaran sama-sama pakai Rahayu slamet,” pikir Urip. Hingga Urip merasa pertanyaan yang dilontarkan itu sesuatu yang wajar. Ia hanya tersenyum manakala setiap mendapat pertanyaan semacam itu.
            Namun, akhir-akhir ini ia merasa pertanyaan semacam itu seolah-olah memojokkan dirinya. Orang-orang yang menanyakan hubungannya dengan Intan dianggap melecehkan dirinya. Meskipun kadang-kadang ia menyadari pertanyaan seperti itu cukup wajar dilontarkan orang yang  baru mengenalnya. Tetapi, ia tetap tak bisa menerimanya. Urip menilai pertanyaan semacam itu merupakan basa-basi sinisme yang ditujukan buat dirinya. Bukan semata-mata ketidaktahuan mereka.
            Dulu, pertama-tama Urip menulis sebuah cerita fiksi. Ia mencantumkan namanya tidak lengkap. Hanya Urip R.S. Setelah sekian kali tulisannya muncul di media cetak. Tiba-tiba ia merasa tidak puas jika namanya sendiri disingkat. Sebab nama yang diberikan orangtuanya bukan Urip er es. Melainkan Urip Rahayu Slamet. Tetapi sejak  namanya ditulis lengkap mengakibatkan dirinya merasa diteror dengan pertanyaan yang mempersoalkan hubungannya dengan Intan. Gara-garanya Alvin, sahabat Urip, mempermasalahkan nama Urip yang ditulis lengkap.
            “Mengapa belakangan ini namamu ditulis lengkap. Tidak cukup dengan Urip er es seperti sebelumnya?” tanya Alvin.
            Urip tertawa. Lalu katanya, “What is a name? Toh  Urip er-es atau Urip Rahayu Slamet, ya orangnya saya ini.”
            “Betul.”
            “Lalu?”
            “Masalahnya bukan begitu Rip, sebagai seorang sohib, saya cuma ingin mengingatkan. Dengan ditulisnya namamu secara lengkap belakangan ini, tidak tertutup kemungkinannya, ada yang menduga kamu hendak mengekor popularitas Intan.”
            Urip diam.
            “Harus kita akui, Intan lebih dulu mempublikasikan tulisannya ketimbang kamu. Ia sudah lebih dulu dikenal daripada kamu.”
            “Tapi, kan nama saya memang Urip Rahayu Slamet. Ini bukan nama samaran. Alvin bisa lihat sendiri ijazah-ijazah saya, kartu identitas saya juga tertulis lengkap.”
            “Saya mengerti. Tetapi, apakah setiap orang akan memahaminya?”
            “Maksudmu?”
            “Apa tidak mungkin jika ada orang menganggap kamu mendompleng popularitas penulis wanita itu?” Alvin mengulangi pertanyaan sebelumnya.
            “Masa bodoh! Yang pasti memang nama saya itu lengkapnya Urip Rahayu Slamet.”
            “Itu benar. Tetapi, suatu ketika kamu akan kecewa lantaran setiap orang pasti menanyakan hubunganmu dengan Intan,” ujar Alvin.
            Benar. Satu minggu sejak percakapannya dengan Alvin, Urip senantiasa mendapatkan pertanyaan yang menyangkut hubungannya dengan penulis wanita itu. Dan belakangan ini pertanyaan orang-orang yang baru dikenalnya tersebut membuat dirinya gelisah. Ya, ia merasa disindir orang-orang dengan pertanyaan tentang namanya yang mirip dengan nama Intan,  Sayang, ia tak mungkin membawa surat-surat penting miliknya untuk membuktikan bahwa ia tidak pernah meniru nama orang lain – nama orang yang sudah dikenal orang terlebih dulu. Sebab semua ijazahnya ditulis namanya secara lengkap Urip Rahayu Slamet.
            Pernah terpikir olehnya untuk mengganti nama itu. Biar tidak dianggap meniru-niru nama orang lain. Apalagi mirip nama seorang wanita. Namun, setiap kali ia mencoba menulis sebuah nama, tak pernah berhasil. Yang tertulis selalu Urip Rahayu Slamet. Bahkan setiap tokoh laki-laki dalam cerita yang ditulisnya, sejak percakapannya dengan Alvin beberapa bulan lalu, pasti namanya sendiri. Padahal ia tak pernah bermaksud menggunakan namanya sendiri dalam setiap cerita fiksi yang ditulisnya.
            Urip merasa ada sesuatu yang tak beres dalam dirinya. Karena itulah ia mencoba berkonsultasi dengan seorang psikiater. Hasilnya nihil. Sang psikiater tak berhasil menemukan kelainan dalam dirinya. Meskipun sudah berulangkali konsultasi itu dilakukan. Urip hanya mendapat saran agar membicarakan nama itu dengan orangtuanya.
            “Barangkali nama itu terlalu berat buat Saudara,” ujar sang psikiater.
            “Berat?” tanya Urip setengah tak percaya.
            Lelaki berkacamata itu mengangguk.
            “Apa maksudnya?” desak Urip.
            “Kadang-kadang memang ada orang yang memang tidak kuat menyandang nama tertentu.”
            Urip diam.
            “Barangkali nama saudara tidak cocok. Kalau memang demikian tidak ada jalan  lain kecuali Saudara harus mengganti nama. Untuk itu sebaiknya Saudara tanyakan kepada orang yang memberi nama . Dalam hal ini orangtua, tentunya.”
            “Tapi itu tidak mungkin. Sangat tidak rasional,” sanggah Urip. Ia berani menyanggah demikian lantaran orang yang dihadapinya bukan orang pintar dalam tanda kutip atau semacam para normal. Melainkan seorang intelektual. Dari kaum akademisi. Yang dalam memutuskan segala sesuatu harus logis, rasional, dan realistik.
            “Apakah kehidupan itu harus selalu rasional?” psikiater itu balik bertanya.
            Untuk kedua kalinya Urip diam.
            “Sesuatu peristiwa akan kita katakan rasional kalau memang akal kita mampu mencernanya. Kalau tidak, apakah tidak mungkin terjadi karena dianggap irrasional.”
            “Saya makin tidak mengerti.”
            “Pernah tahu istilah santet?”
            Urip mengangguk.
            “Apakah rasional jika perut seseorang ada silet atau jarumnya? Apakah rasional jika ada daging ditebas dengan golok yang tajam tidak luka?”
            Urip menggeleng.
            “Tetapi terjadi kan? Ini artinya keberadaan santet, ilmu kebal, atau yang semacamnya. Walaupun tidak rasional, toh diakui masyarakat luas,” lanjut psikiater itu, “Demikian juga halnya dengan nama Saudara. Barangkali nama Saudara terlalu berat.”
            Urip menganggukkan kepalanya, beberapa kali.
            “Yang perlu Saudara ketahui hidup ini tidak untuk dimengerti. Tidak untuk dipahami. Meskipun boleh saja dipelajari. Namun, harus  diingat bahwa logika kita terbatas. Karena itu hidup harus dijalani. Mengerti ataut tidak, bukan merupakan persoalan serius untuk menjalani kehidupan ini. Toh jutaan manusia tak benar-benar memahami kehidupan tetapi mereka hidup. Menikmatinya. Terpaksa atau tidak. Suka atau tidak suka. Setuju atau tidak dengan lakon yang mesti diperankannya.
            Setelah mendapat saran dari psikiater tempat ia berkonsultasi, Urip pulang ke kampung. Menjumpai orangtuanya. Ia minta ijin untuk mengganti namanya sendiri.
            “Ganti nama?” tanya Takir, ayah Urip, setelah tahu maksud kedatangan anaknya itu.
            Urip mengangguk.
            “Untuk apa kamu mesti ganti nama?”
            Urip diam. Tiba-tiba ia merasa tidak mampu menjelaskan alasannya hendak mengganti nama.
            “Memangnya kenapa dengan namamu yang sekarang?” lanjut Takir, “Apa namamu kurang keren. Kampungan, begitu?”
            Dijejali pertanyaan demi pertanyaan, Urip makin tak bisa berkutik.
            “Sebetulnya  dengan nama Urip itulah kamu sampai sekarang masih hidup. Dulu, kamu itu sakti-sakitan dan beberapa kali hampir mati. Bahkan setelah dua kali ganti nama kamu tetap sakit-sakitan. Lalu kakekmu menghubungi orang pinter. Dan namamu yang sekarang hasil perhitungan beliau. Ya, kakekmu yang memberi nama Urip Rahayu Slamet yang dibolehkan oleh orang pinter itu,” Takir menjelaskan, “Jadi, kalau kamu ingin ganti nama mesti minta ijin sama almarhum kakekmu. Tapi, apakah itu mungkin?”
            Gagal mendapat ijin untuk mengganti nama. Urip kembali ke Jakarta. Di terminal, saat hendak berangkat ke Jakarta, ia bertemu dengan teman SMA-nya, “Hebat kamu Rip, pacarmu benar-benar cantik,” kata temannya itu, memuji.
            Urip diam. Ia tersenyum. Merasa lucu dengan pujian yang dilontarkan Untung. Sebab ia tak pernah merasa punya pacar. Tetapi, ia tak hendak membantah omongan temannya.
            “Saya lihat  sudah lihat fotonya, cantik sekali Rip. Kemarin dimuat di suratkabar daerah,” lanjut Untung, “Kamu berhasil meyakinkan perempuan itu. Meskipun ia belum kamu nikahi, ia telah menggunakan embel-embel namamu, Rahayu Slamet. Nama perempuan itu Intan bukan?”
            Urip hanya tersenyum.
            “Oh, ya. Ngomong-ngomong kapan kamu mau menikah?”
            “Nantilah, pasti saya kirim undangan,” jawab Urip sekenanya. Lalu ia meninggalkan Untung. Menuju bisa yang akan mengantarnya kembali ke Jakarta.
            Di atas bis antarkota itu, Urip kembali teringat dengan kata-kata psikater tempat ia berkonsultasi.
            “Hidup ini tidak untuk dimengerti. Tidak untuk dipahami. Sebab logika kita terbatas. Mengerti atau tidak, paham atau tidak. Yang jelas, hidup harus dijalani.”
            Kini, ia baru saja menemukan sesuatu yang tidak dapat mengerti. Mengapa Untung menganggp Intan itu calon istrinya. Hanya lantaran nama lengkap perempuan itu mirip dengan namanya sendiri.****

sumber SUARA MERDEKA, 2 Januari 1994


           
           
                           

Saturday, March 16, 2013

Cerpen Humam S. Chudori: KETIKA DUNIA TELAH TUA


KETIKA  DUNIA  TELAH  TUA

 

Cerpen  Humam S. Chudori

            DENGAN dipimpin Jibril, serombongan malaikat turun ke bumi. Entah pesawat apa yang digunakan mereka. Yang pasti, suaranya sangat berisik. Memekakkan telinga. Ada kilatan cahaya putih yang dapat membutakan siapa saja yang memandangnya. Dari radius 9.000.000.000.000 kilometer, getaran pesawat menghancurkan semua makhluk di angkasa raya.
            Asteroid yang berjumlah 1500 itu mendadak menjadi jutaan kali. Lantaran pecah berkeping-keping setelah dilewati pesawat tersebut. Demikian pula halnya dengan Mars, Jupiter, Neptunus, Pluto, Saturnus, Uranus, Venus, dan jutaan planet lainnya. Matahari buyar. Lalu disusul bunyi sebuah ledakan. Suaranya menggelegar. Bulan meledak. Semua penghuni jagat raya kaget.
            Semut-semut berlarian keluar dari sarangnya. Bergerombol jadi satu. Laksana sepasukan marabunta. Kera-kera menjerit. Ular mendesis sambil mengibaskan ekornya. Harimau mengaum ketakutan. Seluruh hewan keluar dari persembunyiannya. Mereka seperti sedang dikejar predatornya. Berlari tunggang langgang, tak tentu arah dan saling bertabrakan satu sama lain.
            Bumi bergetar makin keras. Dahsyat! Semua orang keluar dari rumah masing-masing. Ada yang terbengong-bengong. Ada yang menggigil ketakutan. Ada yang seperti orang gila. Ada yang menangis. Tak sedikit yang berteriak-teriak tak karuan atau menjerit histeris.
            “Ada apa sebenarnya ini?”
            “Entahlah!”
            “Perang bintang, barangkali.”
            “Bukan perang bintang. Tapi ini gempa.”
            “Kacau, mana tahun depan saya mesti kawin.”
            “Goblok kamu! Tak usah mikirin kawin. Yang penting selamakan dirimu sekarang.”
            “Ya, ampun! Pesawat tivi saya. Padahal kreditannya belum lunas.”
            “Tolong! Selamatkan cucu saya,” teriak seorang nenek tua sambil menangis.
            “Jangan sok pahlawan kamu, atau kamu mau bunuh diri?” tanya  kata seorang bapak kepada anaknya yang hendak membantu nenek itu.
            Jeritan nenek tua itu makin histeris.
            Bumi berguncang semakin hebat. Rumah-rumah penduduk ambruk, seketika rata dengan tanah. Gedung-gedung pencakar langit roboh. Tak sedikit pula yang amblas ke bumi.
            Pohon-pohon besar tumbang. Akar-akarnya yang kokoh mencengkeram tanah tercerabut. Rerumputan dan ilalang mendadak layu. Mengering. Berubah warna kecoklat-coklatan.
            Sebuah laboratorium nuklir meledak. Mengeluarkan kepulan asap berwarna hitam. Lalu disusul dengan ledakan-ledakan berikutnya. Makin lama makin kencang. Percikan apinya meloncat hingga ratusan ribu kilometer jauhnya. Sebuah percikannya melintas di atas sebuah kilang minyak. Secepat kilat, kilang minyak itu terbakar. Dan apinya merambat ke seluruh penjuru dunia, melalui aliran listrik yang belum dipadamkan dan lewat tumpahan minyak yang menggenangi lautan. Kobaran api terjadi di mana-mana.
            Manusia semakin sibuk dengan diri sendiri. Mereka berlari ke sana kemari, berusaha mencari perlindungan. Tetapi, tak ada tempat lagi. Setiap orang dilanda rasa bingung, gelisah, cemas, ketakutan, lupa, dan gampang marah.
            Seorang berwajah beringas bertubrukan dengan seorang lelaki gendut. Kedua-duanya jatuh. Si gendut marah.
            “Kamu taruh di mana matamu?” sergah si gendut.
            Mendapat pertanyaan seperti ini, si beringas tersinggug. Ia tak mau kalah, “Jangan sembarangan bicara mulutmu itu!”
            “Kamu mau menantang?”
            Tanpa bicara lagi si beringas langsung memukul si gendut. Terjadi perkelahian seru. Saling pukul, saling tangkis, saling tendang. Baku hantam itu tak ada yang mencoba melerai. Sebagian orang yang menyaksikan justru bertepuk tangan. Bersorak sorai. Layaknya menyaksikan sebuah pertunjukkan di arena terbuka.
            Untuk sekian kalinya bumi berguncang dengan hebatnya. Kedua orang yang sedang bergumul itu tak menyadari jika tempat yang mereka injak, perlahan tapi pasti, mulai retak-retak. Tidak lama kemudian tanah itu menganga. Keduanya tertelan bumi.
            Para penonton ‘pertunjukan’ tadi bubar. Mereka berlarian meninggalkan kedua orang yang telah ditelan bumi. Masing-masing berusaha mencari keselamatan. Namun sulit. Lantaran api telah berkobar di mana-mana.
            Sementara itu, pesawat yang membawa rombongan malaikat semakin dekat ke bumi. Suaranya meraung-raung menyebabkan gunung-gunung berapi meletus bersahut-sahutan. Menggelegar ke seluruh ruang angkasa. Lalu penyemat bumi itu lepas dari tempatnya berpijak.
            Bumi oleng. Ia kehilangan gravitasi.
            Angin yang bertiup semakin kencang. Mempermainkan isi dunia. Mengobrak-abrik segala sesuatu yang melekat di bumi. Gunung-gunung diterbangkannya. Jutaan manusia melayang-layang di awan.
            Pesawat yang bukan buatan manusia itu sudah dekat dengan bumi. Dalam waktu sekejap pesawat itu sudah berjuta kali mengelilingi dunia. Tetapi, tak juga berusaha mendarat di bumi. Bukan karena dunia telah porak poranda melainkan juga lantaran dunia ternyata lebih kecil dari pesawat yang supra canggih itu.
            Akhirnya pesawat itu berhenti di awang-awang. Jutaan kilometer jauhnya dari bumi. Ia tak menyentuh bumi. Kendati demikian, ia tetap kokoh berdiri.
            Tiba-tiba terdengar suara yang membuat semua makhluk yang sudah tak berpijak di bumi gemetaran, ketakutan, bahkan menjerit. Suara itu sangat mendirikan bulu roma. Suara itu terlalu nyaring, seperti dipantulkan oleh loudspeaker berkekuatan jutaan kilowatt.          

            Al qooriah
            Maal qooriah
            Wamaa adraaka maal qooriah
            Yauma yakuunun naasu kalfaraasyil mabtsuts
            Wa takuunul jibaalu kal ihnil manfuusy
            Fa aammaaman tsaqulat mawaaziinuh
            Fahuwa fii ‘iisyatir rodhiah
            Wa aammaaman khoffat mawaaziinuh
            Faummuhuu haawiyah
            Wa maa adrooka maahiyah
            Naarun haamiyah!

            Jagat raya bertambah kacau. Makin tak teratur. Semua makhluk berteriak ketakutan. Menjerit histeris setelah mendengar suara gaib itu.
            Isrofil mengambil sangkakala. Meniupnya. Suaranya menggema memenuhi alam semesta. Dan semua makhluk hidup, langsung mati.
            Kini, tinggallah sepi. Sunyi. Tidak terdengar suara apa pun. Isrofil termangu, menunggu perintah Tuhan selanjutnya. Kapan sangkakala itu mesti ditiup lagi.****

Sumber: Harian Pelita, 12 April 1992


Thursday, March 7, 2013

Humam S. Chudori: Bahasa Indonesia Masih Membingungkan


BAHASA INDONESIA MASIH MEMBINGUNGKAN

Oleh  Humam S. Chudori

            Menjadi bangsa Indonesaia, terus terang, saya merasa sangat bangga dan sangat bersyukur. Kebanggaan ini bukan disebabkan pandangan chauvinisme yang sempit. Bukan pula lantaran kebetulan saya dilahirkan sebagai bangsa Indonesia. Dengan kata lain, kebanggan saya menjadi bangsa Indonesia bukan kebanggaan semu. Banyak faktor yang membuat saya bersyukur dan bangga menjadi bangsa Indonesia. Salah satu diantaranya, adalah karena mempunyai bahasa persatuan – Bahasa Indonesia – yang bukan berasal dari bahasa penjajah.
            Betapa tidak, setelah sekian lamanya negeri ini terjajah. Namun, kita masih mampu mempertahankan bahasa Indonesia sebagai satu-satunya bahasa resmi, yang nota bene adalah bahasa persatuan.
            Berbeda dengan kebanyakan negara yang pernah terjajah lainnya. Pada umumnya bahasa mereka sangat didominasi oleh bahasa penjajah. Paling tidak bahasa penjajah menjadi bahasa kedua yang dipergunakan dalam percakapan sehari-hari oleh masyarakat.
            Bahasa Indonesia sebagai satu-satunya bahasa resmi (lihat UUD 45 vide pasal 36) memang bisa dikatakan masih sangat muda usianya. Sebab bahasa Indonesia baru diikrarkan pada tahun 1928. kendati sebelumnya bahasa Melayu yang merupakan cikal bakal bahasa Indonesia dipergunakan sudah merupakan lingua-franca di Indonesia.
            Karena itu, wajar sebetulnya jika bahasa Indonesia dikatakan masih belum cukup sempurna. Bahasa Indonesia senantiasa masih berkembang. Banyak faktor yang menyebabkan Bahasa Indonesia belum sempurna dan terus disempurnakan. Sayangnya, selama ini penyempurnaan bahasa Indonesia lebih banyak dilakukan dalam bidang ejaan.

Pembakuan singkatan
            Belum adanya pembakuan singkatan dalam bahasa Indonesia acapkali membingukan masyarakat. WTS, misalnya. Semula singkatan ini merupakan kepanjangan dari Wanita Tuna Susila. Lalu WTS ini berkembang di dalam dunia media cetak dan diartikan sebagai singkatan dari Wartawan Tanpa Surat Kabar. Tetapi, akhir-akhir ini WTS muncul pula dalam dunia akuntan yang merupakan kependekan dari Wajar Tanpa Syarat atas hasil pemeriksaan laporan keuangan suatu perusahaan oleh akuntan publik.
            Dulu, istilah muntaber hanya dikenal sebagai kependekan dari kata muntah berak alias diare. Namun, belakangan ini muntaber juga dikenal dalam dunia kewartawanan. Muntaber ini maksudnya adalah wartawan bodreks alias muncul tanpa berita.
            Jika ada singkatan IAI, kita pun bertambah bingung karena IAI dapat berarti kependekan dari Ikatan Akuntan Indonesia. Tetapi, ia pun juga bisa merupakan kependekan dari Ikatan Arsitektur Indonesia. Lantaran kedua oraganisasi profesi ini menggunakan singkatan yang sama hanya mengambil huruf depannya saja.
            Singkatan lain yang juga tak kalah membingungkan adalah BTN. Sebab BTN selama ini hanya dikenal sebagai singkatan dari Bank Tabungan Negara. Tetapi, akhir-akhir ini BTN, muncul di bidang olahraga. BTN merupakan singkatan dari Badan Tim Nasional.
            Ada lagi singkatan di dalam singkatan yaitu AMD. Ia adalah singkatan dari ABRI Masuk Desa. Padahal ABRI sendiri sudah merupakan singkatan dari Angkatan Bersenjata Republik Indonesia.
            Contoh-contoh di atas kiranya tak perlu diperpanjang lagi. Yang jelas, hal tersebut membuktikan belum adanya pembakuan singkatan dalam Bahasa Indonesia. Sehingga hal tersebut tidak jarang dapat membuat masyarakat menjadi bingung. Tak heran jika beberapa tahun yang lalu Bimbo dalam salah satu lagunya yang berjudul singkatan mengatakan dsb adalah singkatan dari dan saya bingung. Karena pada kenyataannya banyak singkatan dibuat tetapi dapat berarti kepanjangan dari berbagai macam kata.
            Memang, tidak semua singkatan belum dibakukan. Ada pula singkatan yang sudah dibakukan. Yang sudah baku ini, meskipun huruf yang digunakan untuk singkatan adalah sama. Namun, ada perbedaannya. Jenis huruf yang digunakan, misalnya. Dokter dan doktor. Memang sama-sama disingkat dengan huruf e dan r. Tetapi, ada perbedaan yang jelas dari kedua singkatan ini. Yang pertama, kedua-duanya menggunakan  huruf kecil (dr). Sedangkan yang kedua, huruf pertama menggunakan huruf kapital (Dr). Dengan demikian, singkatan yang sudah dibakukan tidak membingungkan masyarakat. Lantaran masyarakat sudah mempunyai pedomannya.
            Di antara singkatan-singkatan serta akronim yang terdapat dalam Bahasa Indonesia, tak dapat di sangkal, media cetak mempunyai peranan yang sangat besar dalam merekayasa, menyebarkan, serta mempopulerkannya.
            Tak heran jika Gunawan Muhammad memintakan perhatian terhadap orang yang membuat akronim untuk menciptakan efek propaganda dalam permusuhan politik. Misalnya, Manikebu untuk Manifestasi Kebudayaan, Nekolim untuk Neo Kolonialisme, Cinkom untuk Cina Komunis, ASU untuk Ali Surachman. Bahasa Jurnalistik dari sikap obyektif, seharusnya menghindarkan akronim jenis terakhir ini. Juga akronim bahasa pojok sebaiknya dihindarkan dari bahasa pemberitaan. Misalnya, Jagung untuk Jaksa Agung, Gepeng untuk Gerakan Penghematan (padahal terakhir ini gepeng diartikan juga dengan gelandangan dan pengemis, pend.). sas-sus untuk desas-desus, demikian kata Gunawan Muhammad (H. Rosihan Anwar. Bahasa Jurnalistik indonesia  dan Komposisi, Proyek Pembinaan dan Pengembangan Pers, departemen penerangan RI, Jakarta , 1990).
            Namun, ironisnya justru TEMPO – majalah yang dipimpin Gunawan Muhammad – yang membuat dan mempopulerkan akronim bupati (buka paha tinggi) sekwilda (sekitar wilayah dada), tatkala majalah mingguan berita ini mengangkat permasalahan film di Indonesia beberapa waktu lalu.

Hukum D.M
            Jika dalam bahasa Inggris kita kenal dengan kaidah bahasa dengan istilah hukum M.D, yakni kata pertama menerangkan  (M) kata berikutnya. – kata kedua adalah kata yang diterangkan (D) oleh kata sebelumnya. Misalnya, Military Police, Airport Taxi, Blue Film, Marketing Manager, dan sebagainya.
            Sementara itu, dalam bahasa Indonesia yang berlaku sebaliknya yakni D.M. –kata pertama merupakan kata yang diterangkan (D), dan kata kedua adalah kata yang menerangkan (M) kata berikutnya. Contoh: Polisi Militer, film biru, Pemimpin (manajer) pemasaran, dan sebagainya.
            Walaupun demikian, karena berbagai alasan, kaidah hukum D.M. ini bisa tidak berlaku dalam bahasa Indonesia. Karena ada perasaan tidak enak, misalnya.
            Seperti yang disinyalir oleh Slamet Djabarudi dalam tulisannya yang berjudul Tunasusilawan. Ia mengatakan, kaum wanita memang sensitif. Itu saya rasakan setelah ada perubahan nama Ikatan Pengusaha Wanita Indonesia (disingkat IPWI) menjadi Ikatan wanita pengusaha Indonesia (IWAPI). Jika ditinjau dari kelaziman kaidah bahasa Indonesia, nama yang lama lebih tepat. Mungkin khawatir  dikira bidang usahanya adalah wanita, pengurus organisasi itu membalik susunan kata pengusaha wanita menjadi wanita pengusaha. Kegiatan berburu di hutan belum banyak menarik minat wanita, sehingga belum ada soal nama yang tepat wanita pemburu atau pemburu wanita (Matra, April 1992). Bukankah Polwan (polisi wanita) lebih sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia dan bukan wanita polisi.

K.B.B.I
            Ketika KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) diterbitkan semula saya kira menyempurnakan kamus bahasa Indonesia sebelumnya – KUBI (Kamus Umum Bahasa Indonesia) yang disusun oleh WJS Poerwadarminto. Namun, setelah membuka-buka KBBI. Ia tak lebih dari menambah beberapa kosa kata bahasa Indonesia.
            Saya katakan, belum ada kesempurnaan dalam kedua kamus bahasa Indonesia tersebut, lantaran kedua kamus tersebut tidak dilengkapi dengan gambar untuk menerangkan sesuatu maksud yang memang harus dijelaskan dengan gambar. Sebagai misal kata harimau, n binatang buas rupanya sebagai kucing besar. Lalu kata kucing: n binatang, rupanya sebagai harimau kecil, biasa dipelihara orang, kemudian kata musang n binatang rupanya seperti kucing.
            Bagi yang tidak tahu ketiga jenis binatang tersebut, misalnya, kamus tersebut  tentu saja tidak membantu memberi pemahaman terhadap artikata – baik kucing, harimau, maupun musang – tersebut.
            Berbeda dengan kamus bahasa lain. Bahasa Inggeris, misalnya. Baik susunan AS Hornby, Wittermans, maupun Procter. Jika terdapat kata yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Maka pembaca akan dituntun dengan gambar. Betapa tidak, jika nama binatang tidak dibantu dengan gambar akan sulit bagi pembaca untuk mengerti maksudnya.
            Demikian pula nama-nama lainnya. Nama alat musik tiup, misalnya. Jika nama alat musik tiup tidak disertai gambar maka akan sulit bagi pembaca untuk memahaminya. Lantaran begitu banyak jenis alat musik tiup ini. Ada suling, terompet, saxophone, clarinet, harmonika, oboe, trombone, dan masih banyak lagi. Kalau dalam bahasa inggris, hal ini diterangkan lewat gambar.
            Dengan demikian , Kamus bahasa Indonesia yang ada sekarng ini sebetulnya belum banyak membantu pembacanya untuk memahami arti kata yang terdapat di dalamnya. Dengan kata lain bahwa bahasa Indonesia sampai sekarang ini masih cukup membingungkan. Bukan saja karena terbatasnya jumlah kosa kata dalam Bahasa Indonesia, tetapi juga dalam hal stadardisasi bahasa.
            Agar persoalan salah benar – dalam Bahasa Indonesia – tidak menjadi berlarut-larut Barangkali sudah saatnya para pakar Bahasa Indonesia mulai memikirkan stadardisasi bahasa, baik dalam bidang tata bahasa, singkatan, akronim maupun istilah. Dan yang tak kalah pentingnya adalah penyempurnaan Kamus Bahasa Indonesia – agar disertai dengan gambar sebagaimana kamus bahasa lain. Sebuah PR buat Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. ***
Sumber: Harian Jayakarta,