Thursday, May 31, 2012

Sekilas tentang novel "Love or Friendship" Karya Tyas Kusuma, terbitan Restu Agung, Jakarta


LOVE OR FRIENDSHIP

* Sebuah catatan harian tentang Obsesi Tyas Kusuma

Oleh  Humam S. Chudori

           
            Menghadirkan konflik dalam sebuah cerita fiksi memang merupakan salah satu ‘keharusan’ sebuah cerita fiksi. Entah cerpen, novelet, maupun novel. Semakin banyak konflik yang disajikan, tentu saja, akan semakin menarik. Sebab salah satu keindahan sebuah cerita fiksi justru terletak pada konflik yang dihadirkan.
            Barangkali berangkat dari pemikiran itulah Tyas Kusuma akhirnya menyodorkan sebuah novel yang berjudul “LOVE or FRIENDSHIP”. Novel yang diterbitkan oleh penerbit Restu Agung ini menceritakan kehidupan seorang gadis yang bernama Rara, (lengkapnya Rara Risna Dewanti) seorang mahasiswi di sebuah perguruan tinggi dengan segala macam aktivitasnya sebagai seorang remaja. Baik sebagai seorang mahasiswa, sebagai gadis, maupun sebagai seorang penulis. Rara digambarkan sebagai seorang penulis cerita fiksi yang sukses. Hingga tulisannya sering menghiasi halaman media massa. Terutama majalah remaja.
            Novel ini – seperti kebanyakan kisah cinta remaja pada umumnya – menyodorkan tema yang tidak jauh berbeda. Cinta segitiga antara Rara, Adi, dan Bagas. Namun, pada akhirnya Rara justru menikah dengan Putra. Seorang aktivis Rohis di kompleks (?) perumahan tempat Rara tinggal. Sesungguhnya tidak ada yang istimewa dalam kisah cinta yang yang coba disajikan oleh Tyas Kusuma.
            Meski Tyas Kusuma berusaha untuk menghadirkan konflik. Tetapi, semuanya terasa hambar. Tak ada greget sama sekali. Mungkin karena konflik yang disodorkan dalam novel ini terlalu banyak, hingga alur cerita tidak mampu menggugah emosi pembaca. Terasa dipaksakan. Akibatnya Novel ini terasa sangat kedodoran dalam menyajikan alur cerita. Bahkan terasa sangat dipaksakan sekali oleh penulisnya.
            Ketidak cermatan Tyas dalam menggarap novel ini belum apa-apa sudah terasa. Pada lembar pertama tulisannya, Tyas sudah tidak cermat. Tyas terasa seperti tidak memahami ada perbedaan antara ponsel dengan telpon rumah.
 …..Rara menarik napas, terdengar kembali dering handphone-nya.
            “Assalamualaikum!”
            “Waalaikum salam. Bisa bicara dengan Rara?” suara Bagas terdengar agak dibedakan.
            “Ada apa, Gas?” tanya Rara yang langsung mengenali suara si penelpon.
            “Bagas? Siapa itu?”
            “Kamu mau merubah suaramu jadi apa pun, aku tahu ini kamu. Bagas!” (hal.5)
            Kalimat yang dilontarkan Rara terasa sangat janggal. Bukankah semua orang tahu setiap HP akan memunculkan nomor (kalau sudah disimpan akan muncul nama) pengirim dering alias penelpon. Anehnya Rara berkata “kamu merubah suaramu dst…” seharusnya ia tidak melontarkan kalimat semacam ini. Mungkin lebih tepat jika Rara bicara, “Memang HP gue tidak ada layarnya.” Lain halnya jika Bagas menelpon bukan ke HP Rara, tetapi nomor telpon rumah. (Meskipun dengan telpon rumah pun orang bisa mengetahui nomor penelpon pengirim. Namun, yang demikian masih jarang orang menggunakan. Mungkin karena dianggap tidak perlu dan hanya menambah pengeluaran).
            Sebagaimana judulnya, novel ini ingin menggambarkan sang tokoh, yang nota bene seorang gadis yang normal, pada akhirnya harus menerima kenyataan. Harus bergaul dengan lawan jenisnya. Semula Rara sempat merasa cuek dan tak acuh dengan lawan jenisnya (yang oleh penulisnya disebutkan sebagai makhluk berjudul cowok). Bahkan ia ingin melakukan balas dendam terhadap setiap laki-laki.
Semenjak itu Rara benci sekali pada makhluk berjudul cowok. Tapi, ia tidak diam begitu saja. Rara pun berniat untuk mewujudkan keinginannya. Keinginan untuk menjatuhkan cowok atas nama cinta. (hal. 13)
Pemaparan kebencian sang tokoh terhadap cowok, hanya gara-gara Rian jadian dengan Mela tampak mengada-ada. Bagaimana tidak, Rara masih dengan santainya bisa membuat cerpen yang maksudnya hendak menyindir persahabatannya – dengan Mela – yang putus setelah Mela berhasil merebut hati Rian. Andaikata sang penulis mampu menjabarkan perasaan seorang Rara terhadap Rian sehingga hatinya begitu sakit setelah tahu ternyata cowok itu berhasil digaet Mela. Maka, LOVE or FRIENDSHIP akan mampu membuat pembaca ingin tahu kelanjutan kisahnya. Sayang, Tyas kurang mampu menjabarkan dalam tulisan, hingga dari awal sendiri kisah ini kurang punya daya pikat. Padahal sebagai seorang perempuan harusnya ia lebih mampu memaparkan  emosi semacam ini.
Tentu saja masih banyak konflik-konflik yang bisa dikemas lebih punya greget ketimbang sekedar bercerita. Cerita yang mengalir tanpa alur yang jelas menunjukkan kegagapan sang penulis dalam menuangkan ide-idenya.
Cerita ini berakhir happy ending bagi tokoh utama (baca: Rara), karena semua harapannya berjalan mulus. Menjadi penulis terkenal. Menikah dengan seorang yang alim, Putra. Bahkan untuk mengesankan novel ini sebuah novel Islami, Tyas memaparkan resepsi pernikahan yang serba tersekat. Bahwa antara laki-laki dan perempuan tidak dijadikan satu. Tidak membaur.
Sebenarnya kisah semacam ini bukan sesuatu yang luar biasa. Sayang sang penulis masih tampak gagap, kedodoran, dan kurang menguasai bahasa Indonesia (Barangkali penulis lebih menguasai bahasa Inggeris). Banyak terjadi kemubaziran kata. Hampir tak ada ekonomi kata. Sering terjadi pemakaian kata yang berulang hingga beberapa kali. Misal, kata “nya”.
Coba kita simak kalimat berikut:
Saat sedang asyik berkonsentrasi dengan tulisannya, sepintas nama Bagas muncul dalam pikirannya. Rara menghentikan ketikannya. Menyandarkan dirinya di kursi. Menatap ke sebuah buku Kahlil Gibran yang dulu diberikan Bagas. Hhh…apa kabar kamu, Gas? Rara melempar pandangannya jauh ke luar jendela kamarnya, menembus sisa-sisa malam yang semakin pekat. Mencoba untuk meminta izin pada waktu untuk memperbolehkannya mengingat Bagas saat itu saja. Ia janji untuk tidak memikirkan Bagas di waktu berikutnya. Rara menaikkan kakinya ke atas kursi dan menelungkupkan wajahnya di tangannya yang terlipat di atas kedua kakinya (Hal: 99 – 100)
Padahal, jika Tyas mau sedikit bersusah payah untuk mencari rangkaian kalimat tanpa harus mengulang-ulang kata “nya” berkali-kali. Penggunaan kata “nya” tidak perlu hingga sebanyak itu.
Ketika sedang konsentrasi, tiba-tiba nama Bagas muncul dalam pikiran gadis yang tengah menyelesaikan tulisan itu. Ia berhenti mengetik. Menyandarkan tubuh ke kursi. Menatap buku Kahlil Gibran pemberian Bagas. Hhh.. apa kabar kamu, Gas? Rara melempar pandangan keluar, melalui jendela kamar. …..etc.etc. Rara menaikkan kaki ke atas kursi, menelungkupkan wajah di tangan yang terlipat di atas kedua kaki …etc.etc. (bukankan pada paragraf sebelumnya sudah menerangkan apa yang tengah dikerjakan Rara saat itu).
Over dosis pemakaian kata’nya’ hampir tiap halaman dapat kita temui. Disinilah tampak kegagapan Tyas mempergunakan bahasa. Kegagapan ini tampaknya karena Tyas kurang memahami ekonomi kata. Akibatnya hampir tiap kalimat terasa kedodoran. Seolah-olah novel ini ditulis untuk memenuhi target “kejar tayang”. Pun Tyas tidak konsisten dalam penggunaaan bahasa. Adakalanya ia menggunakan bahasa baku (bahasa yang sesuai dengan kaidah-kaidah kebahasaan), tapi seringkali dicampur dengan bahasa yang (barangkali maksud sang penulis) dipergunakan oleh kawula muda. Alias bahasa gaul. Tragisnya kalimat-kalimat semacam ini justru digunakan pada saat Tyas memaparkan narasi. Bukan pada percakapan. Dalam percakapan Tyas kurang berani menggunakan kata “elu” “gue”. Padahal, diakui atau tidak, jika percakapan itu terjadi di antara anak muda yang tinggal di sekitar Jakarta. Penggunaan kata ini lebih ‘hidup’ daripada menggunakan saya – kamu.
Membaca novel Love or Friendship, ibarat membuka buku harian Tyas. Sebab menuliskan aktivitas keseharian (inklusif uneg-unegnya) dalam buku harian tentu tidak memerlukan penguasaan bahasa Indonesia. Apa yang terlintas dalam pikiran, apa yang sedang dilakukan, langsung ditulis. Yang penting, tahu maksudnya. Nah, untuk sebuah novel tentu saja tidak demikian. Karena ia dibaca banyak orang. Tidak untuk konsumsi sendiri.
Saya hanya menangkap message yang ingin disampaikan dalam Love or Friendship ini yaitu Tyas ingin memberikan pemahaman kepada pembaca bahwa pernikahan yang Islami adalah yang terpisah. Ada sekat. Antara tamu pria dan wanita tidak bisa bergabung. Sayangnya Tyas tidak berusaha memaparkan dasar pemikiran perkawinan semacam ini. Pada point inilah sang penulis seharusnya bisa membeberkan resepsi yang ‘kurang lazim’ (?) bahkan di kalangan ummat Islam sendiri. Padahal jika bagian ini digarap dengan lebih serius, di sinilah akan menjadi ‘kekuatan’ novel ini. Ia tidak akan sekedar menjadi sebuah cerita melainkan sekaligus punya nilai balighu ani walau ayah. Tapi, benarkah perkawinan yang Islami demikian? barangkali novelis ini perlu menjelaskan riwayat haditsnya siapa perawinya dan sebagainya. hingga ummat Islam tidak taklid buta. Itu yang penting
Namun, terlepas dari semua kekurangan di atas yang pasti sebuah prestasi telah ditelorkan oleh Tyas. Paling tidak, novel ini menambah deretan daftar buku sastra di negeri kita tercinta ini. Buku yang diterbitkan Restu Agung ini semakin menyemarakkan khasanah dunia perbukuan, khususnya di bidang fiksi.
Mari kita tunggu karya Tyas Kusuma yang lain. Mudah-mudahan lebih punya greget daripada menyodorkan sebuah buku harian tentang obsesi dirinya. Insya-Allah! * *

-----

*) makalah ini disampaikan dalam acara launching novel Love or Friendship karya Tyas Kusuma, di UNISMA, Bekasi, 3 April 2006.



No comments:

Post a Comment