LOVE OR FRIENDSHIP
* Sebuah catatan harian
tentang Obsesi Tyas Kusuma
Oleh Humam S. Chudori
Menghadirkan konflik dalam sebuah cerita fiksi memang
merupakan salah satu ‘keharusan’ sebuah cerita fiksi. Entah cerpen, novelet,
maupun novel. Semakin banyak konflik yang disajikan, tentu saja, akan semakin
menarik. Sebab salah satu keindahan sebuah cerita fiksi justru terletak pada
konflik yang dihadirkan.
Barangkali berangkat dari
pemikiran itulah Tyas Kusuma akhirnya menyodorkan sebuah novel yang berjudul
“LOVE or FRIENDSHIP”. Novel yang diterbitkan oleh penerbit Restu Agung ini
menceritakan kehidupan seorang gadis yang bernama Rara, (lengkapnya Rara Risna
Dewanti) seorang mahasiswi di sebuah perguruan tinggi dengan segala macam
aktivitasnya sebagai seorang remaja. Baik sebagai seorang mahasiswa, sebagai
gadis, maupun sebagai seorang penulis. Rara digambarkan sebagai seorang penulis
cerita fiksi yang sukses. Hingga tulisannya sering menghiasi halaman media
massa. Terutama majalah remaja.
Novel ini – seperti
kebanyakan kisah cinta remaja pada umumnya – menyodorkan tema yang tidak jauh
berbeda. Cinta segitiga antara Rara, Adi, dan Bagas. Namun, pada akhirnya Rara
justru menikah dengan Putra. Seorang aktivis Rohis di kompleks (?) perumahan
tempat Rara tinggal. Sesungguhnya tidak ada yang istimewa dalam kisah cinta
yang yang coba disajikan oleh Tyas Kusuma.
Meski Tyas Kusuma berusaha
untuk menghadirkan konflik. Tetapi, semuanya terasa hambar. Tak ada greget sama
sekali. Mungkin karena konflik yang disodorkan dalam novel ini terlalu banyak,
hingga alur cerita tidak mampu menggugah emosi pembaca. Terasa dipaksakan.
Akibatnya Novel ini terasa sangat kedodoran dalam menyajikan alur cerita.
Bahkan terasa sangat dipaksakan sekali oleh penulisnya.
Ketidak cermatan Tyas dalam menggarap novel ini belum
apa-apa sudah terasa. Pada lembar pertama tulisannya, Tyas sudah tidak cermat.
Tyas terasa seperti tidak memahami ada perbedaan antara ponsel dengan telpon
rumah.
…..Rara
menarik napas, terdengar kembali dering handphone-nya.
“Assalamualaikum!”
“Waalaikum salam. Bisa bicara dengan Rara?” suara Bagas
terdengar agak dibedakan.
“Ada apa, Gas?” tanya Rara
yang langsung mengenali suara si penelpon.
“Bagas? Siapa itu?”
“Kamu mau merubah suaramu
jadi apa pun, aku tahu ini kamu. Bagas!” (hal.5)
Kalimat yang dilontarkan
Rara terasa sangat janggal. Bukankah semua orang tahu setiap HP akan
memunculkan nomor (kalau sudah disimpan akan muncul nama) pengirim dering alias
penelpon. Anehnya Rara berkata “kamu merubah suaramu dst…” seharusnya ia tidak
melontarkan kalimat semacam ini. Mungkin lebih tepat jika Rara bicara, “Memang
HP gue tidak ada layarnya.” Lain halnya jika Bagas menelpon bukan ke HP Rara,
tetapi nomor telpon rumah. (Meskipun dengan telpon rumah pun orang bisa mengetahui
nomor penelpon pengirim. Namun, yang demikian masih jarang orang menggunakan.
Mungkin karena dianggap tidak perlu dan hanya menambah pengeluaran).
Sebagaimana judulnya,
novel ini ingin menggambarkan sang tokoh, yang nota bene seorang gadis yang
normal, pada akhirnya harus menerima kenyataan. Harus bergaul dengan lawan
jenisnya. Semula Rara sempat merasa cuek dan tak acuh dengan lawan jenisnya
(yang oleh penulisnya disebutkan sebagai makhluk berjudul cowok). Bahkan ia
ingin melakukan balas dendam terhadap setiap laki-laki.
Semenjak itu Rara benci sekali pada makhluk
berjudul cowok. Tapi, ia tidak diam begitu saja. Rara pun berniat untuk
mewujudkan keinginannya. Keinginan untuk menjatuhkan cowok atas nama cinta.
(hal. 13)
Pemaparan kebencian sang tokoh terhadap cowok,
hanya gara-gara Rian jadian dengan Mela tampak mengada-ada. Bagaimana
tidak, Rara masih dengan santainya bisa membuat cerpen yang maksudnya hendak
menyindir persahabatannya – dengan Mela – yang putus setelah Mela berhasil
merebut hati Rian. Andaikata sang penulis mampu menjabarkan perasaan seorang
Rara terhadap Rian sehingga hatinya begitu sakit setelah tahu ternyata cowok
itu berhasil digaet Mela. Maka, LOVE or FRIENDSHIP akan mampu membuat pembaca
ingin tahu kelanjutan kisahnya. Sayang, Tyas kurang mampu menjabarkan dalam
tulisan, hingga dari awal sendiri kisah ini kurang punya daya pikat. Padahal
sebagai seorang perempuan harusnya ia lebih mampu memaparkan emosi semacam ini.
Tentu saja masih banyak konflik-konflik yang bisa
dikemas lebih punya greget ketimbang sekedar bercerita. Cerita yang mengalir
tanpa alur yang jelas menunjukkan kegagapan sang penulis dalam menuangkan
ide-idenya.
Cerita ini berakhir happy ending bagi tokoh
utama (baca: Rara), karena semua harapannya berjalan mulus. Menjadi penulis
terkenal. Menikah dengan seorang yang alim, Putra. Bahkan untuk mengesankan
novel ini sebuah novel Islami, Tyas memaparkan resepsi pernikahan yang serba
tersekat. Bahwa antara laki-laki dan perempuan tidak dijadikan satu. Tidak
membaur.
Sebenarnya kisah semacam ini bukan sesuatu yang
luar biasa. Sayang sang penulis masih tampak gagap, kedodoran, dan kurang
menguasai bahasa Indonesia (Barangkali penulis lebih menguasai bahasa
Inggeris). Banyak terjadi kemubaziran kata. Hampir tak ada ekonomi kata. Sering
terjadi pemakaian kata yang berulang hingga beberapa kali. Misal, kata “nya”.
Coba kita simak kalimat berikut:
Saat sedang asyik berkonsentrasi dengan tulisannya,
sepintas nama Bagas muncul dalam pikirannya. Rara menghentikan ketikannya.
Menyandarkan dirinya di kursi. Menatap ke sebuah buku Kahlil Gibran yang
dulu diberikan Bagas. Hhh…apa kabar kamu, Gas? Rara melempar
pandangannya jauh ke luar jendela kamarnya, menembus sisa-sisa
malam yang semakin pekat. Mencoba untuk meminta izin pada waktu untuk
memperbolehkannya mengingat Bagas saat itu saja. Ia janji untuk tidak
memikirkan Bagas di waktu berikutnya. Rara menaikkan kakinya ke
atas kursi dan menelungkupkan wajahnya di tangannya yang terlipat
di atas kedua kakinya (Hal: 99 – 100)
Padahal, jika Tyas mau sedikit bersusah payah
untuk mencari rangkaian kalimat tanpa harus mengulang-ulang kata “nya”
berkali-kali. Penggunaan kata “nya” tidak perlu hingga sebanyak itu.
Ketika sedang
konsentrasi, tiba-tiba nama Bagas muncul dalam pikiran gadis yang tengah
menyelesaikan tulisan itu. Ia berhenti mengetik. Menyandarkan tubuh ke kursi.
Menatap buku Kahlil Gibran pemberian Bagas. Hhh.. apa kabar kamu, Gas? Rara
melempar pandangan keluar, melalui jendela kamar. …..etc.etc. Rara menaikkan
kaki ke atas kursi, menelungkupkan wajah di tangan yang terlipat di atas kedua
kaki …etc.etc. (bukankan pada paragraf sebelumnya sudah menerangkan apa yang
tengah dikerjakan Rara saat itu).
Over dosis pemakaian kata’nya’ hampir tiap halaman dapat kita temui. Disinilah tampak
kegagapan Tyas mempergunakan bahasa. Kegagapan ini tampaknya karena Tyas kurang
memahami ekonomi kata. Akibatnya hampir tiap kalimat terasa kedodoran.
Seolah-olah novel ini ditulis untuk memenuhi target “kejar tayang”. Pun Tyas
tidak konsisten dalam penggunaaan bahasa. Adakalanya ia menggunakan bahasa baku
(bahasa yang sesuai dengan kaidah-kaidah kebahasaan), tapi seringkali dicampur
dengan bahasa yang (barangkali maksud sang penulis) dipergunakan oleh kawula
muda. Alias bahasa gaul. Tragisnya kalimat-kalimat semacam ini justru
digunakan pada saat Tyas memaparkan narasi. Bukan pada percakapan. Dalam
percakapan Tyas kurang berani menggunakan kata “elu” “gue”. Padahal, diakui
atau tidak, jika percakapan itu terjadi di antara anak muda yang tinggal di
sekitar Jakarta. Penggunaan kata ini lebih ‘hidup’ daripada menggunakan saya –
kamu.
Membaca novel Love or Friendship, ibarat membuka
buku harian Tyas. Sebab menuliskan aktivitas keseharian (inklusif uneg-unegnya)
dalam buku harian tentu tidak memerlukan penguasaan bahasa Indonesia. Apa yang
terlintas dalam pikiran, apa yang sedang dilakukan, langsung ditulis. Yang
penting, tahu maksudnya. Nah, untuk sebuah novel tentu saja tidak demikian.
Karena ia dibaca banyak orang. Tidak untuk konsumsi sendiri.
Saya hanya menangkap message yang ingin
disampaikan dalam Love or Friendship ini yaitu Tyas ingin memberikan pemahaman
kepada pembaca bahwa pernikahan yang Islami adalah yang terpisah. Ada sekat.
Antara tamu pria dan wanita tidak bisa bergabung. Sayangnya Tyas tidak berusaha
memaparkan dasar pemikiran perkawinan semacam ini. Pada point inilah sang
penulis seharusnya bisa membeberkan resepsi yang ‘kurang lazim’ (?) bahkan di
kalangan ummat Islam sendiri. Padahal jika bagian ini digarap dengan lebih
serius, di sinilah akan menjadi ‘kekuatan’ novel ini. Ia tidak akan sekedar
menjadi sebuah cerita melainkan sekaligus punya nilai balighu ani walau
ayah. Tapi, benarkah perkawinan yang Islami demikian? barangkali novelis ini perlu menjelaskan riwayat haditsnya siapa perawinya dan sebagainya. hingga ummat Islam tidak taklid buta. Itu yang penting
Namun, terlepas dari semua kekurangan di atas yang
pasti sebuah prestasi telah ditelorkan oleh Tyas. Paling tidak, novel ini menambah
deretan daftar buku sastra di negeri kita tercinta ini. Buku yang diterbitkan
Restu Agung ini semakin menyemarakkan khasanah dunia perbukuan, khususnya di
bidang fiksi.
Mari kita tunggu karya Tyas Kusuma yang lain.
Mudah-mudahan lebih punya greget daripada menyodorkan sebuah buku harian
tentang obsesi dirinya. Insya-Allah! * *
-----
*) makalah ini
disampaikan dalam acara launching novel Love or Friendship karya Tyas Kusuma,
di UNISMA, Bekasi, 3 April 2006.
No comments:
Post a Comment