BEKERJA:
SALAH SATU MANIFESTASI IBADAH
Oleh
Humam S. Chudori
Setiap manusia di dunia ini, mau
tidak mau, harus bekerja kalau tidak ingin men-derita. Hasil jerih payah dalam
bekerja itu-lah yang sanggup menutup tuntutan hi-dupnya. Tanpa bekerja, mustahil
bisa me-menuhi kebutuhannya sendiri. Sebab Allah tak akan mungkin memberikan
rezeki bagi orang yang tidak mau bekerja, tidak mau berusaha, dan pemalas.
Bekerja adalah su-natullah yang telah ditetapkan-Nya untuk memakmurkan bumi
ini.
Dalam suatu riwayat diceritakan
tentang seorang yang siang dan malam harinya te-kun beribadat, hingga tidak
kemana-mana. Lalu Nabi bertanya, “Siapa yang menja-min makan dan minumnya?”
“Saudaranya,” jawab para sahabat
itu.
“Saudaranya itu lebih baik
daripada dia,” demikian Rasulullah.
Betapa pentingnya bekerja bagi
sese-orang mu’min, hingga Rasulullah menya-takan saudaranya lebih baik daripada
orang (yang tekun beribadah) tersebut. Kendati, ia beribadat siang malam.
Tetapi, telah melupakan sunatullah yakni kewa-jibannya mencari nafkah.
Dalam riwayat lain, disebutkan,
suatu ketika Rasulullah s.a.w. sekembalinya dari peperangan Tabuk, beliau
bertemu dengan sahabatnya, Mu’az. Pada saat bersalaman, beliau mendapati tangan
Mu’az. Lalu be-liau pun bertanya, apa sebab tangan Mu’az demikian kasar.
“Saya membajak tanah, untuk
nafkah ah-li rumahku, ya Rasulullah,” jawab Mu’az.
Betapa gembiranya Rasulullah
mende-ngar jawaban sahabatnya itu, hingga be-liau mencium sahabatnya seraya
berkata, “Engkau tidak akan disentuh api neraka, ya Mu’az”
Bekerja, dalam hal ini mencari
nafkah, bagi ummat Islam hukumnya wajib. Apa-lagi yang dilakukan dengan ikhlas,
lahir dan batin, serta dengan niat Lillahi
ta ala. Demikian mulianya seseroang yang be-kerja, mencari nafkah demi keluarga.
Hingga Rasulullah menyatakan “tak akan disentuh api neraka,” kepada sahabatnya
itu.
Perintah Bekerja
Perintah bekerja ini bayak
terdapat da-lam alquran. Dalam surat al insyiqaq ayat 6, misalnya, “Hai manusia! Sesungguhnya engkau mesti
bekerja keras dengan sesungguhnya (menuju) kepada Tuhan, kemudian itu kamu akan
menemui-Nya.”
Benar. Bahwa manusia itu
diciptakan Tuhan dengan tujuan hidup yang mulia dan tugas yang berat sebagai
makhluk yang termulia di dunia ini. Sebab itu, ma-nusia perlu bekerja keras dan
me-numpahkan seluruh tenaga dan kesang-gupannya untuk menjalankan tugasnya dan
mencapai tujuan yang luhur itu. De-ngan demikian, manusia dapat mengatasi
segala kesulitan dan merasai kenikmatan dunia dan akherat.
Dan, apabila selesai mengerjakan sembahyang, kamu sekalian boleh ber-tebaran
di muka bumi dan carilah karunia Allah, dan ingatlah Allah sebanyak-ba-nyaknya
supaya kamu beruntung (S. Al jumuah: 10)
Bekerja, memang, merupakan pokok
ke-tinggian derajat seseorang. Cita-cita yang tinggi selangit atau rencana apa
pun, ti-daklah akan berarti jika tidak
disertai de-ngan kegiatan bekerja.
Dan masing-masing orang memperoleh tingkatan (derajat) menurut
pekerjaannya, dan tuhanmu tidak melengahkan apa yang mereka kerjakan (S.Al
an-am 132)
Tak heran jika seorag calon mertua, mi-salnya, akan mempertanyakan apa
peker-jaan calon menantunya terlebih dahulu. Sebelum menerima seseorang menjadi
menantunya. Sebab orangtua tidak ingin menerima menantu yang tidak mempunyai
pekerjaan alias pengangguran. Keingin-annya ini adalah wajar, karena orangtua
mana yang sudi menerima menantu yang berstatus sebagai pengangguran.
Salah Tafsir
Sayangnya, di Indonesia ini
masih ba-nyak orang yang salah menafsirkan beker-ja – mencari nafkah – ini.
Bekerja atau mempunyai pekerjaan, diartikan sebagai karyawan atau pegawai di
suatu instansi, perusahaan tertentu. Hingga kadang-kadang penilaian seseorang
berdasarkan atas perusahaan di mana seseorang beker-ja. Bukan dirinya sendiri.
Jangan heran bila banyak angkatan kerja – yang keba-nyakan beragama Islam –
merasa was-was, cemas, takut dengan situasi dengan kondisi dewasa ini.
lantaraan lowongan kerja yang tersedia semakin sempit, tidak sebanding dengan
angkatan kerja yang tersedia. Takut kalau dirinya tidak sempat mendapatkan pekerjaan,
karena semakin ketatnya persaingan.
Padahal bekerja tidak harus
identik de-ngan berkantor di perusahaan/instansi ter-tentu. Tidak harus duduk
di belakang me-ja. Tidak harus menerima gaji bulanan dari kantor dan
seterusnya. Tidak demikian yang namanya bekerja atau mencari naf-kah. Bekerja
adalah melakukan suatu perbuatan yang diupayakan untuk mencari nafkah. Tentu
saja dengan jalan yang halal, yang diridhoi Allah SWT. Dengan demikian,
seseorang tidak perlu punya ketergantungan
terhadap ada atau tidak-nya lowongan kerja. Bukankah Allah men-jamin
rezeki bagi makhluk-Nya – Wallahu yarzuqu
man yahsyaa bighoiri hisaab
Rasulullah dan para sahabatnya
juga be-kerja. Mereka mempunyai mata penca-harian, misalnya, Amr bin Ash –
pemuka Mesir. Ia seorang tukang potong hewan. Zubeir bin Awwam, Abubakar Shiddiq, Ustman bin
Affan, Talhah bin Ubaidilllah, Abdurrahman bin Auf, semuanya sau-dagar-saudagar yang cerdik. Umar bin Khattab seorang
salesman, Sa’ad bin Abi Waqqash, tukan pintal tali. Wahid bin Mughirah adalah tukang pandai besi. Ash bin
Wail dukun binatang (semacam dokter hewan sekarang, pen.), Abu Hanifah,
sau-dagar sutra. Malik bin Dinar, penjual ker-tas. Muhallab bin Abi Shufrah
seorang ahli perkebunan. Uyaimah adalah seorang guru.
Kiranya contoh-contoh di atas tak perlu
diperpanjang lagi. Yang jelas, bahwa me-reka adalah pekerja keras yang tidak
ter-gantung dengan lapangan kerja yang dise-diakan oleh pihak lain.
Mungkin karena selama ini
pertanyaan yang senantiasa dilontarkan orang adalah “kerja di mana?” tak heran jika bekerja selalu diidentikan
dengan berkantor di suatu tempat. Bekerja pada suatu peru-sahaan.
Bisa dipahami kalau ada seseorang ber-tanya “Apa pekerjaannya?”
dianggap tidak etis. Betapa tidak, jika kebetulan yang ditanya punya jabatan
yang mem-banggakan atau pekerjaan yang dianggap tidak memalukan. Bisa
menyebutkan diri sebagai direktur atau
manager di suatu perusahaan. Atau menjadi seorang pengusaha. Namun, jika yang
ditanya pu-nya posisi yang kurang enak disebut. maka komunikasi ini akan terasa
menohok ko-munikan.
Karena itu, tak heran jika
pertanyaan yang berkaitan dengan usaha mencari nafkah cenderung kepada di mana
sese-orang bekerja. Toh bila yang bersangkutan bekerja sebagai seorang office boy atau supir, misalnya. Yang
bersangkutan tidak akan merasa dipermalukan. Bahkan tidak tertutup kemungkinan
yang bersangkutan akan tetap tidak merasa disudutkan. Se-butlah yang bersangkutan
akan bisa mem-beri jawaban, ‘kalau anak saya ini kerja di Bank Anu atau
perusahaan X,’ tanpa me-rasa harus malu.
Semua makhluk
Allah memang menjamin rejeki semua makhluk-Nya. Namun, perintah bekerja
ini juga diberikan juga kepada binatang. Ten-tu yang dimaksud bekerja bagi
binatang bukan berarti sebagaimana kerja yang dila-kukan manusia.
Bagi burung, misalnya. Bekerja yang da-lam arti untuk mendapatkan
penghidupan yaitu dengan jalan meninggalkan sarang pada pagi hari dalam keadaan
lapar dan pulang sore hari dalam keadaan perut ke-nyang.
Bahkan hewan yang tampaknya hanya tenang-tenang saja, menunggu rejeki
yang datang. Mereka tetap harus melakukan upaya untuk bisa bertahan hidup.
Laba-laba,misalnya, sepintas lalu – mereka hanya menunggu serangga (nyamuk atau
lalat yang akan terperangkap dalam je-bakannya. Tetapi, perlu kita ingat, bahwa
sesungguhnya mereka sudah bekerja ter-lebih dahulu (baca: membuat rumah untuk
jebakan). Lalu mereka baru bertawakal menunggu datangnya rejeki.
Nah, kalau untuk hewan semacam laba-laba saja bertindak seperti itu.
Kenapa ma-nusia yang diberi banyak kelebihan dari-pada binatang tidak bisa
seperti mereka? Padahal yang dilakukan manusia – jika nawaitu dalam mencari nafkah adalah menjalankan perintah-Nya
(bukankah se-tiap hari kita berikrar – inna sholati wa nusuki wa mahyaya wa
mamaati lillahi robbil alamin). Maka bekerja tidak saja akan mendapat
imbalan (rejeki). Me-lainkan juga dinilai sebagai ibadah. Seba-gai bentuk
pengabdian manusia terhadap Sang Kholik. Pekerjaan menjadi salah satu bentuk
realisasi dari ibadah kepada-Nya. Bekerja menjadi sarana kepatuhan kita
terhadap perintah-Nya.
Jika Allah berfirman “wa maa kholaqtul jinna wal insa illa li
ya’budun”, tentu saja ibadah di sini bukan hanya dalam bentuk ibadah mahdhah.
Melainkan pula segala pekerjaan yang diniatkan dengan tujuan un-tuk meraih
ridho-Nya.
Wallahu alam bishshawab.****
Humam S. Chudori, pekerja seni, kegi-atan sehari-harinya
mengenalkan huruf hijaiyah kepada anak-anak, tinggal di Tangerang
Selatan.
Sumber: Tabloid SALAM, 14
Jumadil Akhir 1410 H
horas...bermanfaat....
ReplyDelete