Sunday, June 3, 2012

Bekerja sebagai manifestasi ibadah


BEKERJA: SALAH SATU MANIFESTASI IBADAH

Oleh Humam S. Chudori

  
   Setiap manusia di dunia ini, mau tidak mau, harus bekerja kalau tidak ingin men-derita. Hasil jerih payah dalam bekerja itu-lah yang sanggup menutup tuntutan hi-dupnya. Tanpa bekerja, mustahil bisa me-menuhi kebutuhannya sendiri. Sebab Allah tak akan mungkin memberikan rezeki bagi orang yang tidak mau bekerja, tidak mau berusaha, dan pemalas. Bekerja adalah su-natullah yang telah ditetapkan-Nya untuk memakmurkan bumi ini.
   Dalam suatu riwayat diceritakan tentang seorang yang siang dan malam harinya te-kun beribadat, hingga tidak kemana-mana. Lalu Nabi bertanya, “Siapa yang menja-min makan dan minumnya?”
   “Saudaranya,” jawab para sahabat itu.
   “Saudaranya itu lebih baik daripada dia,” demikian Rasulullah.
   Betapa pentingnya bekerja bagi sese-orang mu’min, hingga Rasulullah menya-takan saudaranya lebih baik daripada orang (yang tekun beribadah) tersebut. Kendati, ia beribadat siang malam. Tetapi, telah melupakan sunatullah yakni kewa-jibannya mencari nafkah.
   Dalam riwayat lain, disebutkan, suatu ketika Rasulullah s.a.w. sekembalinya dari peperangan Tabuk, beliau bertemu dengan sahabatnya, Mu’az. Pada saat bersalaman, beliau mendapati tangan Mu’az. Lalu be-liau pun bertanya, apa sebab tangan Mu’az demikian kasar.
   “Saya membajak tanah, untuk nafkah ah-li rumahku, ya Rasulullah,” jawab Mu’az.
   Betapa gembiranya Rasulullah mende-ngar jawaban sahabatnya itu, hingga be-liau mencium sahabatnya seraya berkata, “Engkau tidak akan disentuh api neraka, ya Mu’az”
   Bekerja, dalam hal ini mencari nafkah, bagi ummat Islam hukumnya wajib. Apa-lagi yang dilakukan dengan ikhlas, lahir dan batin, serta dengan niat Lillahi ta ala. Demikian mulianya seseroang yang be-kerja, mencari nafkah demi keluarga. Hingga Rasulullah menyatakan “tak akan disentuh api neraka,” kepada sahabatnya itu.

Perintah Bekerja
   Perintah bekerja ini bayak terdapat da-lam alquran. Dalam surat al insyiqaq ayat 6, misalnya, “Hai manusia! Sesungguhnya engkau mesti bekerja keras dengan sesungguhnya (menuju) kepada Tuhan, kemudian itu kamu akan menemui-Nya.”
   Benar. Bahwa manusia itu diciptakan Tuhan dengan tujuan hidup yang mulia dan tugas yang berat sebagai makhluk yang termulia di dunia ini. Sebab itu, ma-nusia perlu bekerja keras dan me-numpahkan seluruh tenaga dan kesang-gupannya untuk menjalankan tugasnya dan mencapai tujuan yang luhur itu. De-ngan demikian, manusia dapat mengatasi segala kesulitan dan merasai kenikmatan dunia dan akherat.
   Dan, apabila selesai mengerjakan sembahyang, kamu sekalian boleh ber-tebaran di muka bumi dan carilah karunia Allah, dan ingatlah Allah sebanyak-ba-nyaknya supaya kamu beruntung (S. Al jumuah: 10)
   Bekerja, memang, merupakan pokok ke-tinggian derajat seseorang. Cita-cita yang tinggi selangit atau rencana apa pun, ti-daklah  akan berarti jika tidak disertai de-ngan kegiatan bekerja.
   Dan masing-masing orang memperoleh tingkatan (derajat) menurut pekerjaannya, dan tuhanmu tidak melengahkan apa yang mereka kerjakan (S.Al an-am 132)
   Tak heran jika seorag calon mertua, mi-salnya, akan mempertanyakan apa peker-jaan calon menantunya terlebih dahulu. Sebelum menerima seseorang menjadi menantunya. Sebab orangtua tidak ingin menerima menantu yang tidak mempunyai pekerjaan alias pengangguran. Keingin-annya ini adalah wajar, karena orangtua mana yang sudi menerima menantu yang berstatus sebagai pengangguran.

Salah Tafsir
   Sayangnya, di Indonesia ini masih ba-nyak orang yang salah menafsirkan beker-ja – mencari nafkah – ini. Bekerja atau mempunyai pekerjaan, diartikan sebagai karyawan atau pegawai di suatu instansi, perusahaan tertentu. Hingga kadang-kadang penilaian seseorang berdasarkan atas perusahaan di mana seseorang beker-ja. Bukan dirinya sendiri. Jangan heran bila banyak angkatan kerja – yang keba-nyakan beragama Islam – merasa was-was, cemas, takut dengan situasi dengan kondisi dewasa ini. lantaraan lowongan kerja yang tersedia semakin sempit, tidak sebanding dengan angkatan kerja yang tersedia. Takut kalau dirinya tidak sempat mendapatkan pekerjaan, karena semakin ketatnya persaingan.
   Padahal bekerja tidak harus identik de-ngan berkantor di perusahaan/instansi ter-tentu. Tidak harus duduk di belakang me-ja. Tidak harus menerima gaji bulanan dari kantor dan seterusnya. Tidak demikian yang namanya bekerja atau mencari naf-kah. Bekerja adalah melakukan suatu perbuatan yang diupayakan untuk mencari nafkah. Tentu saja dengan jalan yang halal, yang diridhoi Allah SWT. Dengan demikian, seseorang tidak perlu punya ketergantungan  terhadap ada atau tidak-nya lowongan kerja. Bukankah Allah men-jamin rezeki bagi makhluk-Nya – Wallahu yarzuqu man yahsyaa bighoiri hisaab
    Rasulullah dan para sahabatnya juga be-kerja. Mereka mempunyai mata penca-harian, misalnya, Amr bin Ash – pemuka Mesir. Ia seorang tukang potong hewan. Zubeir  bin Awwam, Abubakar Shiddiq, Ustman bin Affan, Talhah bin Ubaidilllah, Abdurrahman bin Auf, semuanya  sau-dagar-saudagar  yang cerdik. Umar bin Khattab seorang salesman, Sa’ad bin Abi Waqqash, tukan pintal tali. Wahid bin Mughirah adalah tukang pandai besi. Ash bin Wail dukun binatang (semacam dokter hewan sekarang, pen.), Abu Hanifah, sau-dagar sutra. Malik bin Dinar, penjual ker-tas. Muhallab bin Abi Shufrah seorang ahli perkebunan. Uyaimah adalah seorang guru.
     Kiranya contoh-contoh di atas tak perlu diperpanjang lagi. Yang jelas, bahwa me-reka adalah pekerja keras yang tidak ter-gantung dengan lapangan kerja yang dise-diakan oleh pihak lain.
 Mungkin karena selama ini pertanyaan yang senantiasa dilontarkan orang adalah “kerja di mana?”  tak heran jika bekerja selalu diidentikan dengan berkantor di suatu tempat. Bekerja pada suatu peru-sahaan.
Bisa dipahami kalau ada seseorang ber-tanya “Apa pekerjaannya?” dianggap tidak etis. Betapa tidak, jika kebetulan yang ditanya punya jabatan yang mem-banggakan atau pekerjaan yang dianggap tidak memalukan. Bisa menyebutkan diri sebagai  direktur atau manager di suatu perusahaan. Atau menjadi seorang pengusaha. Namun, jika yang ditanya pu-nya posisi yang kurang enak disebut. maka komunikasi ini akan terasa menohok ko-munikan.
Karena itu, tak heran  jika pertanyaan yang berkaitan dengan usaha mencari nafkah cenderung kepada di mana sese-orang bekerja. Toh bila yang bersangkutan bekerja sebagai seorang office boy atau supir, misalnya. Yang bersangkutan tidak akan merasa dipermalukan. Bahkan tidak tertutup kemungkinan yang bersangkutan akan tetap tidak merasa disudutkan. Se-butlah yang bersangkutan akan bisa mem-beri jawaban, ‘kalau anak saya ini kerja di Bank Anu atau perusahaan X,’ tanpa me-rasa harus malu.

Semua makhluk
Allah memang menjamin rejeki semua makhluk-Nya. Namun, perintah bekerja ini juga diberikan juga kepada binatang. Ten-tu yang dimaksud bekerja bagi binatang bukan berarti sebagaimana kerja yang dila-kukan manusia.
Bagi burung, misalnya. Bekerja yang da-lam arti untuk mendapatkan penghidupan yaitu dengan jalan meninggalkan sarang pada pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang sore hari dalam keadaan perut ke-nyang.
Bahkan hewan yang tampaknya hanya tenang-tenang saja, menunggu rejeki yang datang. Mereka tetap harus melakukan upaya untuk bisa bertahan hidup. Laba-laba,misalnya, sepintas lalu – mereka hanya menunggu serangga (nyamuk atau lalat yang akan terperangkap dalam je-bakannya. Tetapi, perlu kita ingat, bahwa sesungguhnya mereka sudah bekerja ter-lebih dahulu (baca: membuat rumah untuk jebakan). Lalu mereka baru bertawakal menunggu datangnya rejeki.
Nah, kalau untuk hewan semacam laba-laba saja bertindak seperti itu. Kenapa ma-nusia yang diberi banyak kelebihan dari-pada binatang tidak bisa seperti mereka? Padahal yang dilakukan manusia – jika nawaitu dalam mencari nafkah adalah menjalankan perintah-Nya (bukankah se-tiap hari kita berikrar – inna sholati wa nusuki wa mahyaya wa mamaati lillahi robbil alamin). Maka bekerja tidak saja akan mendapat imbalan (rejeki). Me-lainkan juga dinilai sebagai ibadah. Seba-gai bentuk pengabdian manusia terhadap Sang Kholik. Pekerjaan menjadi salah satu bentuk realisasi dari ibadah kepada-Nya. Bekerja menjadi sarana kepatuhan kita terhadap perintah-Nya.
Jika Allah berfirman “wa maa kholaqtul jinna wal insa illa li ya’budun”, tentu saja ibadah di sini bukan hanya dalam bentuk ibadah mahdhah. Melainkan pula segala pekerjaan yang diniatkan dengan tujuan un-tuk meraih ridho-Nya.
Wallahu alam bishshawab.****
Humam S. Chudori, pekerja seni, kegi-atan sehari-harinya mengenalkan huruf hijaiyah kepada anak-anak, tinggal di Tangerang Selatan.


Sumber: Tabloid SALAM, 14 Jumadil Akhir 1410 H

1 comment: