Tuesday, September 16, 2025

KARTU UNDANGAN, RESEPSI, DAN SUMBANGAN, oleh Humam S. Chudori

 

KARTU UNDANGAN, RESEPSI, DAN SUMBANGAN

 

 

Salah seorang tetangga, dengan bangganya, menunjukkan sebuah undangan perkawinan yang diterima dari saudaranya. Bangga bukan karena acaranya diadakan di hotel, bukan lantaran undangan tersebut dicetak secara luks. Melainkan  di dalam undangan itu menyebutkan nomor rekening bank dan code QRIS.

 

“Ini baru namanya mengikuti perkembangan zaman. Kita menyumbang cukup mentransfer ke rekening atau lewat QRIS,” katanya.

 

“Lho, emangnya mau bikin resepsi atau cari dana dia?” tanya saya, “Kalau saya sih malu. Jika memang tak ada dana kenapa mesti dipaksain bikin pesta. Ujung-ujungnya ya akan kecewa sendiri jika sumbangan yang diharapkan tidak sesuai ekspektasi.”

 

Lalu saya ceritakan pengalaman seorang teman yang rumahnya terjual setelah mengadakan resepsi. Rupa-rupanya ia mengadakan pesta itu bermodal pinjaman dari rentenir. Berharap biaya yang telah dikeluarkan akan tertutupi oleh angpao. Namun, perhitungannya meleset jauh. Bukan saja lantaran banyak tamu yang tidak datang (karena cuaca tidak bersahabat) Tetapi, ia hanya menghitung dari pemasukan tersebut atas dasar harga makanan yang disiapkan untuk tamu. Ia lupa bahwa ada biaya-biaya lain yang mesti ditanggung: sewa tenda, kursi, dekorasi, sound system, hiburan, dll. Ini betul-betul terjadi dengan teman saya.

 

Tetangga saya yang semula merasa bangga, akhirnya cuma melongo mendengar penuturan saya.

****

Mencantumkan nomor rekening atau kode QRIS, dalam undangan, sepintas lalu terlihat seperti modern. Mengikuti perkembangan zaman. Namun, hakekatnya sama saja dengan ‘mengemis’. Entah tidak menyadari atau tak merasa malu jika untuk kebutuhan ‘pesta’ yang cuma kesenangan sesaat harus meminta sumbangan.

 

Bahkan belakangan ini di medsos, sering kita saksikan jika ada yang menyumbang amplopnya langsung dibuka dan diumumkan. Ada pula yang membatasi makanan yang boleh dimakan (disesuaikan dengan uang yang disumbangkan). Apakah ini cuma konten atau benar-benar nyata. Tetapi, yang pasti (kalau pun cuma konten) berarti pihak sahibul hajat tidak lagi punya rasa malu. Karena terang-terangan minta disumbang.

 

Padahal, tanpa meminta pun, biasanya para tamu (undangan) akan tetap memberi sumbangan. Hanya saja, sebelum tahun 2000-an, sumbangan itu berupa barang (kado). Pada umumnya kado ini berisi perabotan rumahtangga seperti: piring, gelas, tea set, panci, penggorengan, sendok garpu, talenan, termos, tempat nasi, seprei, bingkai atau album foto (saat itu foto  harus dicetak), dan lain-lain. Hingga pasangan yang baru disahkan, menjadi suami-istri tidak repot untuk mengisi rumahnya dengan perabotan. Waktu itu nyaris tak ada yang memberikan amplop kecuali pada acara khitanan. Jika khitanan amplop akan diberikan kepada anak yang disunat.

 

Menjelang awal tahun 2000 setiap kartu undangan perkawinan akan mencantumkan “Mohon tanda kasih/simpati anda jangan diberikan dalam bentuk barang atau karangan bunga.” Tanpa dijelaskan pun, orang yang diundang akan paham maksudnya. Bahwa sumbangan harap diberikan dalam bentuk uang alias diamplopin.

 

Sejak itu, di sebelah meja penerima tamu akan disediakan “kotak amal”. Meski pada awalnya masih saja ada yang memberi sumbangan dalam bentuk kado (barang). Namun, Sebagian tetamu (yang sudah paham) akan memasukkan amplop ke “kotak amal” dan tidak membawa kado.

 

Setelah orang paham kebiasaan menyumbang dengan angpao. Meski dalam kartu undangan tak lagi mencantumkan kalimat “mohon tanda kasih/simpati tidak diberikan dalam bentuk barang atau karangan bunga” tamu undangan pasti menyiapkan amplop untuk dimasukkan ke “kotak amal” saat mengisi buku tamu.

 

Apakah mencantumkan no. rekening atau kode QRIS berharap sumbangan yang lebih besar dari sekedar amplop. Sebab rasanya “tidak pantas” jika transfer hanya 100 ribu apalagi jika kurang dari itu.

 

Padahal seperti yang saya tulis di atas, kenapa memaksakan diri mengadakan resepsi jika harus “meminta” sumbangan. Hingga ada yang sampai mengorbankan rumahnya sekedar kemewahan sesaat. Toh, dalam pernikahan yang penting sah – baik secara agama atau pun negara. Tidak ada kewajiban pernikahan harus mengadakan resepsi (apalagi dengan segala kemewahan yang dipaksakan).

 

Ketika saya menikah tak ada pesta-pestaan. Saya menikah di daerah tempat isteri. Setelah resmi, saya pulang ke Tangerang. Hanya bikin acara slametan – sekaligus memperkenalkan istri ke tetangga dekat – ala kadarnya. Cuma menyiapkan makanan kecil – kue-kue basah – dan kopi. Saya tak mungkin bikin pesta, karena tak ada biaya (maklum penghasilan dari menulis tak bisa diandalkan – ups kok jadi curhat). Namun, karena rejeki ya akhirnya ada saja (pada hari berikutnya) yang bertamu ke rumah memberikan kado (sumbangan) kepada kami. Mulai dari piring, gelas, perabotan dapur, seprei, dll.

 

****

 

Apakah kartu undangan akan menjadi berubah dengan mencantumkan no. Rekening atau kode QRIS. Akan menjadi trend? Terus terang jika saya mendapat undangan semacam ini, barangkali, tidak akan pernah menghadiri undangan tersebut. Bagi saya, menghadiri resepsi pernikahan, bukan karena “ingin” makan enak. Kalau sekedar ingin makan enak, toh kita bisa ke restauran yang sesuai dengan selera kita. Waktunya pun tak ditentukan. Menghadiri resepsi perkawinan adalah untuk membuktikan bahwa kita masih bisa “ikut bahagia” atas pernikahan mereka. Menghadiri resepsi perkawinan, jika tak ada ikatan emosional – antara sahibul hajat dan tamu undangan – belum tentu dilakukan. Sebab untuk menghadiri undangan perlu waktu khusus – sesuai dengan waktu yang ditentukan. Punya kepedulian, tak sekedar karena dapat kartu undangan. Lalu kenapa masih berharap sumbangan dengan mencantumkan no. Rekening. Tanpa mencantumkan pun, sebetulnya, jika ada yang hendak menyumbang dalam jumlah tertentu yang bersangkutan akan menanyakan no. Rekening sahibul hajat. Toh, sekali lagi, jika tak ada kedekatan emosional. Belum tentu yang diundang akan hadir. Ataukah barangkali sahibul hajat hanya perlu sumbangan saja? Tak hadir juga tak apa. Yang penting ada transferan ke rekening bank yang nomornya dicantumkan di kartu undangan. Wallahu alam.***Humam S. Chudori

 

Sunday, September 14, 2025

#Sajakhumamschudori

 

PUISI  HUMAM S. CHUDORI

 

DELAPAN PULUH TAHUN MERDEKA

 

 

1.

delapan puluh tahun, usia

bukanlah deretan angka

bagi kelangsungan hidup negara

yang terlahir karena jutaan nyawa

rakyat, yang secara sukarela

mengorbankan diri, demi anak cucunya

 

 

2.

“negoro iki biso dadi irik irikiblik

ora gampang, Le. akeh sing kelangan

omah, bondo, lan nyowo,”

kata Mbah Kung, jujur dan lugu

di antara nafasnya yang satu-satu

saat menuturkan kisahnya

bergerilya mengusir penjajah

kepada kami, cucu-cucunya

 

 

3.

Mbah Kung dan berjuta rakyat lainnya

tak akan pernah tercatat nama mereka

dalam buku sejarah perjuangan bangsa

karena mereka tidak pernah berharap

nyawa dan darahnya akan menjadi tinta emas

atau akan terukir dalam sebuah puisi

sebab,

cita-cita mereka sangat bersahaja

agar irik-irikiblik tetap berdiri

hingga kiamat tiba nanti

 

 

4,

sayang berjuta sayang

belum seabad lengkap usia irik-irikiblik *)

tanda kiamat pun belum tampak adanya

sudah dibuat kacau para opportunis

yang merasa berjasa terhadap negara

padahal benih kepalsuan yang mereka

tebar, mengatasnamakan bangsa

 

 

5.

delapan puluh tahun usia, merdeka

hanya buat mereka yang berkuasa

: merdeka melakukan korupsi

  merdeka berbuat menzalimi (warga)

  merdeka untuk membohongi (rakyat)

  merdeka menjual aset negara

 

 

6.

delapan puluh tahun usia, merdeka

tidak bagi para pengabdi seni

dua pengamen cilik diinterogasi polisi

setelah mereka bernyanyi

mempertanyakan ijazah asli

demikian pula yang dialami

band sukatani yang menyoroti

praktek pungli polisi

pun, lukisan karya Yos Suprapto

dilarang pameran di galeri (nasional)

konon, dianggap menyindir mukidi

 

 

7.

barangkali bila mbah Kung dan kawan

seperjuangan. yang rela bertaruh nyawa

sekarang masih ada di antara kita

pasti akan menangis darah mereka

tak henti-henti. lihat republik ini

tidak seindah bait-bait puisi.

 

 

Tangerang Selatan, 15 Juli 2025

 

***

 

Catatan

 

*) irik-irikiblik: maksudnya negara republik

Kakek saya jika mengatakan irik-irikiblik maksudnya negara republik. Maklum beliau tak pernah mengenyam pendidikan hingga tiap kata akan diucapkan seperti ‘seenak sendiri’. jika beliau bilang Tapsiun (maksudnya stasiun), oto (mobil), pit (sepeda), rebuwes (SIM), menteri (mantri kesehatan) brok (jembatan), dll. Tapi sebagai cucu, kami paham maksud mbah Kung.

 

 Mbah Kung (mbah kakung) : kakek

 

 *****

 

APA GUNA BERNEGARA

 

apa guna bernegara

jika rakyat jelata

yang sudah menderita

dipaksa hidup terlunta

aset tak seberapa

yang mereka punya

disita para penguasa

 

 

apa guna pemerintahan

kalau peraturan yang disahkan

hanya untuk kepentingan jabatan

demi menangguk kekayaan

lantaran tidak seorang

penegak hukum dan keadilan

bernyali menjatuhkan hukuman

pada mereka yang surplus kekuasaan

pada mereka yang berlebih kekayaan

 

 

apa arti kebijakan

bila sesungguhnya yang diputuskan

adalah aturan yang tak bijak

kecuali untuk membatasi gerak

agar rakyat tak berani berontak

meski terus menerus dipalak pajak.

 

 

 

Tangerang Selatan, 10 Juli 2025

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bionarasi

 

Humam S. Chudori, lahir di Pekalongan 12 Desember 1958

 

Mulai memublikasikan tulisan pada tahun 1982. Sejak itu tulisan-tulisannya (puisi, cerpen, artikel, dll) tersebar di media cetak – pusat dan daerah.

 

Sejumlah cerpen dan puisinya juga tergabung dalam buku antologi bersama.

Buku-bukunya yang telah terbit antara lain: Bukan Hak Manusia, Hijrah, Ghuffron, Shobrun Jamil, Kontradiksi di Dalam Batin, dll (novel). Barangkali Tuhan Sedang Mengadili Kita, Perkawinan, dll (kumpulan cerpen). Perjalanan Seribu Airmata (kumpulan puisi).

 

Tahun 2024, mendapat penghargaan dari Badan Bahasa, Kemendikbud, atas dedikasinya berkarya di bidang kesastraan selama lebih dari 40 tahun.

 

Tinggal di Pondok Maharta, Blok B-22 No. 7, Pondok Kacang Timur, Tangerang Selatan. Telp. 089652019832  e-mail: hoesanchu@gmail.com

 

 

Humam S. Chudori

 

 

 

 

Friday, September 5, 2025

Cerpen Humam S. Chudori: Ketika Piast Menatap Langit

 

KETIKA  PIAST MENATAP  LANGIT

Cerpen  Humam  S.  Chudori

            Siang terik. Hawa  sangat panas. Menyengat. Awan berarak di langit. Menyerupai berbagai bentuk binatang;  domba, kucing,  kelinci, bahkan seperti  beruang  kutub. Putih. Bersih. Mereka berjalan. Beriringan. Tertiup angin. Tak lama kemudian, bentuk-bentuk itu berubah sendiri.

            Piast duduk di teras rumah. Ia melihat awan putih berubah menjadi sebuah siluet sesosok perempuan. Persis seperti mantan  kekasihnya; Dagu Belah. Perempuan itu,  memang, tidak lama pacaran  dengan Piast. Mereka putus  bukan  Piast tak mencintainya lagi. Bukan Piast terpikat gadis lain. Bukan pula Dagu Belah dipaksa kawin dengan laki-laki pilihan orangtuanya. Tetapi, Piast diteror oleh Temalsh, kakaknya sendiri.

            Lima belas tahun yang lalu, saat cinta Piast tengah menggebu-gebu. Menggelora. Dahsyat.  Setiap  malam ia menatap foto Dagu Belah sebelum berangkat tidur. Lalu akan menciumi foto itu sambil berkata, “Papa tidur dulu, sayang.”

Piast meletakkan foto  ukuran kartu pos di bantal. Sambil memeluk guling, ia membayangkan seolah-olah hendak tidur bersama sang kekasih. Setelah kantuknya tak tertahankan baru matanya bisa terpejam. Tidak jarang ia menuai mimpi indah bersama sang gadis pujaan. Adakalanya, ia mimpi bercinta dengan Dagu Belah. Tahu-tahu Piast mendapati celananya basah.

            Suatu malam, Temalsh memergoki adiknya menciumi foto gadis itu. Mungkin  saking  asyiknya, Piast tak menyadari kalau Temalsh sudah berada di depan pintu kamar tidurnya yang  tidak dikunci.

            “Kamu sudah gila, Piast,”  kata sang kakak.

            Piast tersentak.  Kaget. Malu. Bingung. Sedih. Kesal. Marah. Berbagai perasaan itu campur aduk menjadi satu. Tidak tahu harus berbuat apa terhadap sang kakak yang telah mengganggu kenikmatannya. Mencumbu foto sang kekasih.

“Apa  Kamu sudah berpikir masak-masak mencintai gadis itu. Ingat  Piast! Dagu Belah punya adik tujuh. Berapa penghasilanmu. Apa mungkin Kamu bisa menanggung adik Dagu Belah sebanyak itu?”.     

 Piast  diam.

 “Apa kita sudah berbakti kepada orangtua, hingga berani mencintai perempuan. Saya juga belum berani. Kenapa? Karena saya belum merasa berbakti kepada orangtua.”

“Tapi, Kak ….”

“Diam!” potong Temalsh, “Saya belum selesai bicara.”

Piast diam. Ia menghela napas panjang. Batinnya berontak. Ia ingin menjerit sekeras mungkin. Agar Temalsh tidak berpanjang kata.

Sudah menjadi kebiasaan jika Temalsh bicara tidak pernah mau kalah. Bahkan terhadap ibunya sendiri. Bukan sekali dua kali Temalsh berbantahan dengan perempuan yang telah melahirkannya. Ada saja upaya untuk pembenaran diri. Hingga ibunya merasa tersudut.

Tatkala ibunya kehabisan kosakata, jika berdebat dengannya. Kesempatan ini tidak disia-siakan Temalsh untuk membuktikan dirinya benar. Pendapatnya tidak keliru. Yang salah adalah cara berpikir ibunya.

            Entah karena bingung. Kecewa, sedih. atau marah. Mungkin pula semua perasaan itu menjadi satu. Membaur. Menggumpal dalam jiwa. Membuat dada sang ibu mendadak sesak napas. Lalu tak tahan lagi. Emosinya meledak. Menjadi jeritan. Ya, jika ibunya sudah berdebat dengan Temalsh –  hampir bisa dipastikan – ia akan menjerit. Berteriak. “Cukup!” Kemudian tangisnya tak terbendung lagi.

            Sejurus kemudian, biasanya, ada dua atau tiga orang tetangga dekat bertandang ke rumah. Ketika ada tamu, Temalsh langsung masuk kamar. Begitulah! Kebiasaan Temalsh kalau pulang kampung.

            Jika Temalsh dan ibunya terlibat pembicaraan. Sang ayah segera meninggalkan rumah. Pergi. Entah kemana.

            Apakah saya harus berteriak seperti ibu, pikir Piast. Tetapi, apa kata tetangga di sini kalau saya  berteriak seperti ibu, di tengah malam pula. Padahal tetangga di sini bukan seperti di kampung yang  …..

            “Apa Kamu tidak tahu, Piast?”  tanya  Temalsh membuyarkan pikiran adiknya, “Kita dikasih akal oleh Tuhan untuk digunakan.”

            Piast diam.

            “Nah.  Bukankah kita merantau ke Jakarta  untuk memperbaiki hidup. Agar hidup kita lebih baik daripada orangtua. Tidak jumud .Tidak monoton. Tapi  progresip. Mengerti!” lanjut  Temalsh, “Lalu apakah yang Kamu lakukan tadi pantas?”

            Piast tak menyahut.

            “Kawin itu tidak gampang, Piast. Kawin bukan sekedar hidup bersama. Tidur satu  ranjang. Bersetubuh. Beranak pinak. Lalu kita disebut orangtua.  Orangtua kita dipanggil kakek-nenek. Dan seterusnya. Perkawinan bukan sekedar itu, Piast. Tetapi, banyak hal lain yang belum kita mengerti arti perkawinan. Itulah sebabnya kenapa sampai sekarang saya belum memikirkan pernikahan.”

            Malam itu, Piast “diceramahi” kakaknya habis-habisan. Namun, ia tak mau protes

            SEJAK  ITU,  hampir tiap malam, Temalsh selalu “berceramah” kepada adiknya yang tinggal di rumah kontrakan di sebuah kawasan kumuh di Jakarta.

***

            SETELAH  Temalsh menikah, Piast ingin pindah.  Ingin kontrak rumah sendiri. Lantaran sejak menikah, Temalsh mencari pembantu. Sementara itu, rumah yang mereka tempati hanya ada dua kamar tidur.

            “Kamu jangan cari alasan. Kalau soal bedinde  biar dia tidur di dapur saja. Kamu tetap tidur di kamar belakang,” ujar Temalsh, tatkala Piast  menyampaikan  keinginannya hendak pindah rumah, “Kalau kamu keluar dari rumah ini, berarti ada tambahan biaya yang harus kamu keluarkan.”

            Suatu malam, dalam keadaan setengah mabuk Piast pulang setelah minum dua botol bir di rumah salah seorang kawannya. Ia langsung ke kamar mandi, hendak buang air. Tatkala melewati dapur, ia melihat seorang perempuan tidur di sana. Tanpa pikir lagi, lelaki yang selalu membawa kunci rumah tersebut meniduri perempuan  yang tengah terlelap. Semua berjalan mulus. Tanpa ada perlawanan. Di samping itu, Temalsh dan istrinya berada di kampung. Piast baru menyadari sesuatu telah terjadi, ketika ia bangun pagi. Ternyata perempuan yang tidur disampingnya bukan  Dagu Belah.

            Ketika kakaknya kembali, setelah satu minggu berada di kampung, tanpa pernah direncanakan sebelumnya. Tiba-tiba ia membuat pengakuan, dirinya telah melakukan perbuatan tercela. Betapa gusarnya Temalsh mendengar pengakuan adiknya. Ia kalap. Tangannya langsung menerpa pipi adiknya, “Kurang ajar!”

            Piast tak melawan.

            “Dasar tak tahu diri! Apa selama ini saya kurang toleran  sama kamu. Setiap ada perempuan yang saya suka, kamu selalu mencintai adiknya. Saya terpaksa mengalah. Apa sih maumu meniduri Saliyem?”

            Piast diam. Pikirannya menerawang ke masa lampau, tatkala ia pulang dari rumah Nengfi. Temalsh menginterogasinya, “Kenapa kamu tidak bilang kalau mencintai Nengfi. Apa Kamu tak tahu kalau saya suka sama kakaknya. Saya belum melakukan pendekatan, karena mencari tahu latar belakang keluarganya. Tetapi, tahu-tahu kamu nyelonong ke sana. Kalau demikian  apa saya harus tetap mendekati Mafi?”

            Temalsh  pernah melontarkan pernyataan serupa, ketika Piast mendekati Bangir. Temalsh mengaku mencintai Kamate, kakak Bangir. Demikian pula saat Piast memacari Titik. Temalsh mengaku akan mendekati Koma – kakak Titik. Paling tidak, sudah lima gadis yang didekati Piast. Namun, semua terganjal kakaknya. Alasannya Piast  dianggap lancang. Berani  mencintai adik dari perempuan  yang dicintai kakaknya. Piast terpaksa meninggalkan mereka.

            Ketika Piast mencintai Dagu Belah, Temalsh tak bisa mengatakan hal yang sama. Lantaran perempuan yang ngenger  di rumah bude-nya tersebut anak sulung dari delapan  bersaudara. Karena itu, Piast yakin Temalsh tidak punya alasan untuk memojokkannya. Namun, dugaan Piast keliru. Kali ini pun Temalsh tetap tidak setuju. Bahkan saat  pulang kampung, Temalsh bilang kepada ibunya, Piast telah merebut Dagu Belah.

            Piast masih ingat benar, tatkala ia disuruh pulang kampung oleh ibunya.  Ketika itu ibunya sempat membicarakan Dagu Belah.

“Memangnya perempuan cuma satu. Hingga perlu berebut dengan kakakmu,” tanya ibunya ketika itu.

            “Apa tak ada gadis yang pantas dijadikan istri, selain Dagu Belah,” lanjut ibunya.

            Piast diam. Kini, ia baru mengerti maksud ibunya mengirim surat. Menyuruhnya pulang.

            Kembali dari kampung, meski menanggung kepedihan yang teramat dalam, Piast terpaksa memutuskan hubungannya dengan Dagu Belah. Ia tak ingin ribut dengan kakak sulungnya di rumah kontrakan.

            Sikap Temalsh terhadap sang adik, sebetulnya, disebabkan ketidakmampuannya mendekati perempuan. Untuk menutupi kelemahannya, Temalsh bersikap keras terhadap Piast. Buktinya perempuan yang menjadi istri Temalsh, ternyata berasal dari sebuah rubrik jodoh. Hal ini diketahui Piast, setelah ia menemukan surat perkenalan dari beberapa perempuan yang ditujukan kepada Temalsh.

            Andaikata saya tahu kakak cuma menutupi kekurangan, tetap akan saya kawini Dagu Belah. Tidak peduli resikonya. Apalagi kalau cuma sekedar harus menanggung biaya adiknya yang tujuh orang, pikir Piast.

            Tiba-tiba guntur menggelegar. Dahsyat! Padahal langit masih cerah. Suara alam menggema di angkasa itu terdengar di telinga Piast sebagai sebuah teriakan. Piast seolah-olah mendengar suara Dagu Belah berteriak. Lantang. “Bohooonnnngggg.”

            Lelaki yang akhir-akhir ini sering merindukan mantan kekasihnya itu tersentak. Kaget. Tanpa sadar mulutnya berkata, “Sungguh! Saya tidak bohong. Saya masih tetap seperti dulu. Saya tak mungkin melupakan  …..”

            “Ngomong sama siapa, Pa?” sebuah suara anak kecil menghentikan kalimat Piast.

            Piast menoleh. Seorang gadis kecil, sudah berdiri di belakangnya.

            “Papa ngomong sama binatang yang ada di langit itu, ya?”  lanjut Lulu, gadis kecil berambut panjang itu.

            Piast  hanya tersenyum. Kecut. Sejurus kemudian, pandangannya diarahkan ke langit. Benar. Tidak ada lagi si Dagu Belah di sana. Melainkan barisan binatang, seperti beberapa saat sebelumnya. Ada kucing, domba, kelinci, beruang kutub.          

            “Andaikata perjalanan nasib seseorang bisa seperti awan di langit itu. Bila hidup boleh surut kebelakang. Barangkali  Dagu Belah yang akan menjadi ibumu, Nak. Bukan Saliyem,” Piast membatin.

            “Papa, buku catatan matematika Lulu sudah habis. Nanti beli ya, Pa,” lanjut  Lulu, membuyarkan pikiran  papanya.

            Untuk kedua kalinya Piast menoleh. Tanpa  sepatah kata pun, ia menarik tubuh gadis kecil. Lelaki yang belum lama kena phk itu tak mampu lagi membendung airmata.

“Papa belum punya uang ya?”  tanya Lulu, “kalau begitu tidak usah beli dulu.”

Bocah yang masih polos itu, memang, tak tahu apa yang telah membuat sang papa menitikkan airmata. Ia hanya menduga kalau orangtua laki-lakinya menangis karena belum punya uang untuk  membeli buku.***