Thursday, August 5, 2021

Perjalanan Rohani Seorang Penyair

 

PERJALANAN ROHANI SEORANG PENYAIR



 

Judul buku      : Tidur di Ranjang Petir (antologi puisi)

Penulis             : Pulo Lasman Simanjuntak

Jumlah hal.      ; 95 + viii

Penerbit           ; Megalitera

Isbn                 : 978-623-6656-72-3

 

                Untuk ke sekian kali, penyair Pulo Lasman Simanjuntak, menerbitkan buku kumpulan puisi tunggalnya. Buku antologi puisi yang bertajuk “Tidur di Ranjang Petir” berisi 50 puisi yang ditulis sang penyair setelah era milenium. Sementara itu, tajuk buku ini diambil dari salah satu puisi yang ada di dalamnya.

Seperti antologi puisi tunggal sebelumnya, buku ini banyak menyajikan puisi-puisi kontemplatif sang penyair. Puisi-puisi di buku ini lebih banyak menyajikan puisi rohani. Ini barangkali karena sang penyair juga punya “profesi” sebagai pelayan gereja. Dalam perjalanan hidupnya, tentu saja, ia tak lepas dari bertemu banyak orang (baca; jemaat) dengan berbagai permasalahannya. Apalagi akhir-akhir ini begitu banyak orang yang demikian ketakutan menghadapi kenyataan (salah satunya virus yang banyak diviralkan di medsos).

……

Aku pun teringat cerita Nabi Musa yang juga marah saat bangsa Ibrani menyembah ilah ilah lain

……

(halaman 86)

Membaca penggalan puisi di atas, saya membayangkan bagaimana Nabi Musa marah karena mereka takut kepada kekuasan Firaun (hingga menyembah sang raja) serta menyembah berhala yang diyakini firaun sebagai tuhan.

Hal yang sama, tampaknya, juga terjadi di sebuah negeri. Rakyat begitu takut dengan peraturan peraturan penguasa, hingga (terpaksa) mengikutinya. Juga dipaksa dengan berbagai dalih untuk membenarkan dan mengikuti aturan (yang terkadang tidak logis) dari penguasa. Dan, peraturan-peraturan yang ditetapkan sang penguasa, oleh sang penyair, dikatakan sebagai ilah-ilah lain.

Menghadapi situasi yang serba tidak menentu saat ini, tak sedikit anggota masyarakat yang mengalami kontradiksi di dalam batin. Merasakan tekanan mental. Mendapatkan pressure karena peraturan-peraturan yang membelenggu kehidupan. Dan, kegelisahan jiwa manusia ini telah dicatat dengan apik oleh sang penyair dalam puisi yang berjudul “Depresi”.

……..

Ssssstttt……ssssstttt……sssstttt……sssstttt….

Puih!

            Zzzzzzz…zzzzzz……zzzzz…..zzzzz….

            Bangsat!

Suara-suara gaib itu

Siapa

Kemana?

(halaman 90)

Puisi pendek ini menggambarkan kontradiksi batin (Sebagian besar) masyarakat yang tengah dilanda ketakutan. Bukan takut menghadapi kehidupan. Tetapi, takut melihat keadaan yang tak sesuai kenyataan. Dan, pada puncaknya hanya mampu memaki dalam batin. Sebab tak mungkin melakukan protes kepada aturan yang sudah dijadikan undang-undang. Hingga tak sedikit yang terkena dampak negatif yang merugikan kalangan masyarakat, tidak terkecuali masyarakat petani. Maka simaklah bait-bait di bawah ini

…..

Petani ternyata masih merintih

Berhari-hari harga gabah

Terluka parah

Celanaku berdarah

Disuntik mata uang rupiah

Kemiskinan ini jadi sebuah sungai

Yang mengalir deras

Terselip senyum Mbok Minah

Perlahan hilang

Diterjang hujan

(halaman 54)

Kendati kenyataannya kemiskinan menjadi sebuah sungai. mengalir dimana-mana. Namun, tak sedikit pejabat yang dengan tanpa merasa berdosa terus saja melakukan tindak kejahatan (baca: korupsi). Dan, para koruptor ini digambarkan oleh sang penyair sebagai (manusia) yang telah “Bersetubuh dengan Tikus”.

Kami harus bersetubuh

dengan tikus-tikus tajir ini

di atas ranjang batu

Terowongan dapur tembus ke ruang tamu

Berselimutkan tanah merah

Birahiku melepuh

            Sungguh sudah berminggu-minggu

            Kukunyah habis spermamu

            Jadi berita utama

            Di layar televisi, suratkabar, dan media digital

Sehingga puisi yang malam ini kutulis

Terbuang (percuma)

Ditelan dengkur tidurmu

(halaman 1)

Pemilihan diksi dalam puisi di atas sungguh luar biasa. Menggunakan metafora yang tepat. Masyarakat sudah paham bahwa koruptor sering diidentikkan dengan tikus. Dan apabila ada berita tentang korupsi, ia akan menjadi head line di mana-mana. Media cetak atau media elektronika. Namun, semua itu akhirnya hanya menjadi sesuatu yang tak ada artinya (baca: dilupakan) bersamaan dengan sang koruptor yang akhirnya menjadi buron. Hilang laksana ditelan makhluk gaib. Pun, masyarakat dijejali dengan berita lain yang seringkali akan menina bobokan hingga lupa dengan peristiwa korupsi yang telah merugikan rakyat dan negara.

Menyimak ke 50 puisi yang ada dalam buku ini, kita bisa ‘membaca’ perjalanan rohani seorang Pulo Lasman Simanjuntak. Namun, yang ingin digarisbawahi di sini, perjalanan rohani tak melulu masalah-masalah ibadah. Tetapi, juga catatan sikon masyarakat yang pernah disinggahi sang rohaniawan ini dalam bentuk puisi. Itu saja.***Humam S. Chudori, penikmat sastra, tinggal di Tangerang Selatan.

           

 

 

 

 

Tuesday, April 13, 2021

kenangan usai mengisi acara di STIANI, Parung, Bogor


 

SURAT SASTRA UNTUK HUMAM S. CHUDORI

 Surat Sastra

Humam S. Chudori

. Entah, bagaimana cara aku menulis surat terbuka ini. Padahal kita sama-sama bergerak dan berjuang untuk menciptakan karya abadi. Aku sudah sangat sangat mengenal fakta dan fiksi darimu. Setidaknya, aku banyak menggali dan belajar dari ilmu yang engkau miliki. Tapi belakangan ini aku begitu takjub dan bahkan agak gugup. Ternyata, di usiamu saat ini, kamu begitu gigih belajar tentang banyak hal, dan kamu dengan santainya bahkan masuk ke dunia milenial. Sesuatu yang memang digandrungi generasi kita.

#Humam, Puisi, Cerita Pendek.

Apalah artinya puisi? Puisi hanya sebatas ungkapan yang tersaji dengan bahasa linier. Ia mudah ditulis, bahkan oleh anak-anak SD. Namun, masalahnya bukan hanya sekadar sebagai bahasa tulis. Semudah-mudahnya puisi dicipta, pastilah terkandung nilai-nilai historis. Chairil Anwar, mungkin dalam hidupnya hanya menulis puisi (murni) kurang dari 100 puisi. Tapi coba perhatikan dan amati, bagaimana puisi-puisi Chairil mampu menusuk jiwa raga hingga mengobarkan heroik? Dan, pada masanya HB Jassin, Iwan Simatupang, Arifin C. Noor, dsb-nya, juga pernah melahirkan karya puisi. Untuk cipta puisi, mereka termasuk tidak produktif. Tapi, dikarenakan Jassin sudah lebih dulu diakui sebagai kritikus dan penerjemah. Iwan diakui sebagai novelis. Dan Arifin, kita tahu ia sebagai seorang dramawan dan penulis naskah drama. Tentulah harus kita acungi jempol buat mereka.

Humam, engkau termasuk penulis puisi dan rajin mengirim puisi untuk media massa serta untuk antologi bersama. Bahkan engkau pernah melahirkan sebuah antologi puisi berjudul "Perjalanan Seribu Airmata" (2013). Kalau boleh jujur, engkau tetaplah seorang novelis yang menulis dengan humanis. Meskipun awalnya engkau banyak melahirkan cerita pendek, tentunya sama-sama karangan berbentuk prosa. "Rumah Yang Berkabung" (bersama Harianto Gede Panembahan), "Dua Dunia", "Barangkali Tuhan Sedang Mengadili Kita", dan "Percakapan Malam Hari" -- adalah judul buku kumpulan cerpenmu.

#Humam dan Novel.

Aku membayangkan di hari-harimu dalam suasana sepimu, khususnya saat kau tak sedang galau, tenang, tentram. Anak-anak yang pendiam, istri yang penyabar. Keluarga yang sakral. Engkau begitu khusyuk bersila di sebuah karpet, dengan kipas angin berputar dan tentunya laptop di hadapanmu. Menggali ide dan menemukan tema-tema agamis dan tradisi lokal, dengan tetangga yang harmonis. Begitu totalitasnya engkau berkarya. Ya, aku jadi teringat bagaimana seorang Putu Wijaya menghabiskan waktunya dalam sebuah kamar hingga melahirkan karya besar. Korrie Layun Rampan yang sangat rajin mengurai kalimat di buku maupun kertas eceran untuk sebuah cerita seperti novel "Upacara"-nya yang kemudian menjadi buku novel terbaik versi DKJ (1978). Pergulatan literasi ini tentunya akan sangat banyak diungkapkan pengarang, yang kemudian dinamakan sebagai proses kreatif.

Aku tak bisa membayangkan untuk berapa lama kamu menulis novel "Bukan Hak Manusia" (2007), "Sepiring Nasi Garam" (2007), "Gufron" (2008), "Shobrun Jamil (2010), "Rezeki" (2016), "Berlibur di Desa" (2010), serta yang terakhir "Hijrah" (2021). Novel-novel ini, sebagian pernah aku lihat di toko buku ternama. Tentulah ada kebanggan tersendiri.

#Humam dan Budaya Betawi.

Kita nyaris bertetangga ya? Saat aku tinggal di Gembira. Kamu ngontrak di Setiabudi. Tak jauh dari rumah pelawak Bagio. Kamu juga pernah menetap di Menteng Atas (?). Kini, aku masih di kawasan Menteng. Kamu sudah hijrah ke Tangerang Selatan (Pondok Mahartha). Tapi yang pasti, pergaulan kita tetap sama. Sama-sama tak beda dengan masyarakat Jakarta.

Sudah hampir seharian aku mengamati novel barumu, "Hijrah". Keren abis. Kenapa aku katakan keren abis? Ya, kamu kelahiran Pekalongan (tapi sudah menetap di Jakarta sekitar tahun 1980-an). Sesuatu yang biasa saja. Toh SM Ardan (Syamardan) juga kelahiran Medan. Nyatanya beliau diakui sebagai Pengarang Betawi karena karyanya "Terang Bulan Terang Di Kali", dengan cerita menggunakan bahasa keseharian. Termasuk juga Aman Datuk Madjoindo, juga bukan asli orang betawi, tapi telah melahirkan karya abadi "Si Doel Anak Betawi" (1936).

Humam Santoso Chudori. Judul-judul novelmu seperti "Sepiring Nasi Garam", "Gufron" dan "Sobrun Jamil" sudah menyiratkan bahwa isi dalam novelmu pastilah bernuansa Betawi. Tak dipungkiri, novelmu "Hijrah" (Penerbit CV Prabu21, Maret 2021) nyatanya makin tajam merefleksikan ke-betawi-an itu. Aku yang asli lahir di Jakarta, nyatanya harus membaca ulang perpustakaan/ kebahasaan yang tercantum sebagai 'Glosarium (kosa kata Betawi). 363 'kata betawi' masuk dalam percakapan 24 episode yang terangkum jadi sebuah novel.

"Kalo elu mau 'beli', liat-liat dulu deh..." (istilah yang sering digunakan di kalangan perampok, agar memperhatikan siapa calon korbannyq. Agar tidak sembarang orang dijadikan korban.)

"Berak di sini ceboknya juga di sini..." (istilah ini digunakan untuk menyebut orang yang hanya berani mencuri di lingjungannya sendiri, tetangga sendiri yang dijadikan korban pencurian.)

Banyak istilah/ ucapan betawi dimasukan dalam percakapan masyarakat pada novel ini, misalnya satronin, terime, nyamperin, dan sebagainya.

Novelmu lumayan tebal ya, 299 halaman. Novel ini kelak akan menjadi sesuatu yang abadi dalam peta kesusasteraan Indonesia, mungkin juga nenjadi best seller. Artinya pasca kepengarangan Aman Datuk Madjoindo, SM Ardan, Firman Muntaco dan M. Balfas, kita masih memiliki generasi sesudahnya.

Dan terakhir sebelum kututup surat sastra terbuka ini, usahakan JJ. Rizal (Sejarawan), Ridwan Saidi (Budayawan),

Yahya Andi Saputra

(Penyair), dan Nur Zein Hae (Pengamat), memiliki novel ini. Chairil Gibran Ramadhan, Zeffry Alkatari dan Aba Mardjani, ke mana ya?

Salam,

Nanang R Supriyatin

 



 

Saturday, March 6, 2021

sekilas tentang novel "HIJRAH" karya Humam S. Chudori

 



Novel  HIJRAH, karya Humam S. Chudori

Hijrah menceritakan kisah seorang jawara, Sanwani, yang memiliki ilmu – beladiri dan spiritual – yang mumpuni. Tak heran ia sangat disegani, bukan hanya oleh masyarakat biasa namun juga dari kalangan begal. Tak sedikit orang yang hanya tahu namanya saja.

 

Tampilannya berbeda dari kaum jawara pada umumnya. Ia tak pernah mengenakan celana pangsi hitam, menenteng golok, rambut awut-awutan, dan berikat kepala, seperti pada umumnya jawara di Betawi.

 

Kendati ia sangat ditakuti dan disegani banyak orang, yang membuat dirinya selalu percaya diri. Namun, setelah istrinya terbunuh Sanwani baru menyadari dirinya ternyata tak punya kemampuan apa-apa.

 

Hidupnya pun sering gelisah. Atas saran salah satu guru spiritualnya – Guru Suhaemi - akhirnya Sanwani hijrah. Pindah tempat tinggal agar masa lalunya yang kelam bisa terlupakan.

 

Lalu, apa yang dilakukan guru spiritualnya hingga Sanwani bersedia hijrah. Kenapa pula sang jawara ini tak setuju anaknya – Sabeni –  melanjutkan ‘profesi’nya sebagai Jawara.

 

Bagaimana pergulatan batin Sanwani ketika mendapat nasehat dari salah satu guru spiritualnya untuk berhijrah. Sebab seperti kita tahu hijrah bukan cuma pindah. Melainkan juga berarti menghindar atau menyingkir, Sementara menghindar atau menyingkir sama artinya kalah. Bagaimana mungkin seorang jawara harus ‘kalah” dalam menghadapi hidup. Simak ceritanya dalam Hijrah sejarah hidup orang Betawi diungkap ringan penuh pesan oleh sastrawan Humam S. Chudori***Rida Noor, Pemred Prabu21