Hijrah menceritakan
kisah seorang jawara, Sanwani, yang memiliki ilmu – beladiri dan spiritual –
yang mumpuni. Tak heran ia sangat disegani, bukan hanya oleh masyarakat biasa
namun juga dari kalangan begal. Tak sedikit orang yang hanya tahu namanya saja.
Tampilannya berbeda dari kaum jawara pada umumnya. Ia tak
pernah mengenakan celana pangsi hitam, menenteng golok, rambut awut-awutan, dan
berikat kepala, seperti pada umumnya jawara di Betawi.
Kendati ia sangat ditakuti dan disegani banyak orang,
yang membuat dirinya selalu percaya diri. Namun, setelah istrinya terbunuh
Sanwani baru menyadari dirinya ternyata tak punya kemampuan apa-apa.
Hidupnya pun sering gelisah. Atas saran salah satu guru
spiritualnya – Guru Suhaemi - akhirnya Sanwani hijrah. Pindah tempat tinggal
agar masa lalunya yang kelam bisa terlupakan.
Lalu, apa yang dilakukan guru spiritualnya hingga Sanwani
bersedia hijrah. Kenapa pula sang jawara ini tak setuju anaknya – Sabeni – melanjutkan ‘profesi’nya sebagai Jawara.
Bagaimana pergulatan batin Sanwani ketika mendapat
nasehat dari salah satu guru spiritualnya untuk berhijrah. Sebab seperti kita
tahu hijrah bukan cuma pindah. Melainkan juga berarti menghindar atau
menyingkir, Sementara menghindar atau menyingkir sama artinya kalah. Bagaimana
mungkin seorang jawara harus ‘kalah” dalam menghadapi hidup. Simak ceritanya
dalam Hijrah sejarah hidup orang Betawi diungkap ringan penuh pesan oleh sastrawan Humam
S. Chudori***Rida Noor, Pemred Prabu21

No comments:
Post a Comment