Saturday, June 6, 2020

ISBEDY STIAWAN ZS YANG SAYA KENAL

ISBEDY STIAWAN ZS YANG SAYA KENAL.

Saya mengenalnya pada tahun 1984, setelah saya menulis dengan menggunakan nama Humam S. Chudori. Sebelumnya saya memakai nama Humam Santosa C. Atas usulan Harianto Gede Panembahan (HGP), agar yang disingkat nama tengahnya saja tidak nama belakang. Dari sini saya mulai mengenal (secara pribadi – bukan sekedar lewat tulisan) Nanang R. Supriyatin (NRS), Ayid Suyitno PS (ASPS), Yon AG, Doddy Permadi Indrajaya (DIP), dll.  Yang akhirnya, kami sepakat membentuk Kelompok Diskusi Sastra Kita Jakarta.
            Dari sini saya mulai kenal dan intens berkomunikasi (ada yang hanya lewat surat menyurat – karena dibatasi oleh jarak tempat tinggal - bahkan ada juga yang langsung kenal secara fisik)  beberapa nama a.l. Diah Hadaning (DIHA), Putu Arya TirtaWirya (PAT),  Odhy’s, AR Syam Matola, Isbedy Stiawan ZS, Wahyu Prasetya, dll. Alamat mereka saya dapat dari NRS. Pada tahun 1985 (saya, NRS, ASPS, HGP) mendapat undangan untuk acara baca cerpen dan puisi di salah satu SMA di Bandarlampung. Saat itu saya membacakan cerpen yang berjudul “Sejak itu Aku Jadi Pembunuh”. Sementara dari Lampung ada beberapa nama (mudah-mudahan tidak keliru) a.l Isbedy Stiawan ZS (ISZS), Hendra Z, Panji Sastra, Naim Emel Prahara, Syaiful Irba Tanpaka dll. Kami mengisi acara yang bertajuk TIRAI SASTRA di sana.
            Dari semua teman-teman di Lampung, hanya ISZS yang intens komunikasi (via surat) dengan saya. Hingga suatu Ketika  Sastra Kita menerbitkan (untuk pertama kalinya) antologi puisi yang bertajuk Sketsa Sastra Indonesia. Dua sajak saya “terikut” di dalamnya.
            Buku ini ternyata menjadi “catatan bersejarah” buat persahabatan saya dengan ISZS. Betapa tidak, ISZS “ngonceki” saya habis-habisan. Bahkan “melarang” saya menulis puisi. (karena memang awalnya dia mengenal saya sebagai penulis cerpen). Tulisannya ini dimuat di media cetak Jakarta (entah Pelita atau Terbit – saya lupa karena tak punya klipingnya). Saya memang bukan penyimpan kliping yang baik (apalagi sering pindah-pindah rumah kontrakan sehingga tak jarang terjadi ada yang hilang) tidak seperti halnya Arief Joko Wicaksono, Bambang Joko Susilo, atau Nanang R. Supriyatin yang begitu tertib menyimpan koleksi klipingan.
            Mendapat “larangan” ISZS untuk tidak menulis sajak. Saya makin penasaran untuk mengirim sajak ke media cetak. Benar. Hampir setiap tulisan (sajak) yang saya krimkan – saat itu – tidak dianggap layak muat. Akibatnya tak ada sajak saya yang muncul di media cetak. Sempat terpikir “kebenaran” pendapat penyair yang kini bergelar Paus Sastra Lampung ini, bahwa saya lebih baik menulis cerpen tak usah neko-neko, menulis sajak . Tapi, “kepo” saya untuk tulisan (sajak) bisa dimuat di media cetak terus menggebu. Dan, seperti pepatah bilang dimana ada kemauan di situ ada jalan, setelah sekian puluh kali kirim sajak. Akhirnya sajak saya muncul juga. mula-mula di Merdeka Minggu, lalu menyusul di Yudha Minggu, Pelita, Suara Karya, Banjarmasin Post, Harian Fajar, Jayakarta, Surabaya Post, dll.
            Komunikasi kami (saya dan Isbedy) via pos sempat putus. Bukan karena “dendam” atau “sakit hati” atas larangannya  terhadap saya untuk menulis sajak. Melainkan saya kehilangan alamatnya. (lagi-lagi karena pindah kontrakan dan beberapa barang ketlingsut juga hilang). Saya yakin ISZS pun mungkin kehilangan alamat saya (kalau pun kirim kabar ke saya juga pasti tak sampai – karena saya pindah alamat).
            Pada akhir tahun 1990, saya mendapat alamatnya lagi dari Nanang R. Supriyatin. Dan, kami Kembali saling berkabar via pos. Jika ia mendapati tulisan saya dimuat di Lampung Post, Ia pun tak segan mengirimkan kliping tulisan saya tersebut.  Komunikasi yang intens inilah yang membuat saya makin “pede” menulis sajak. Meski ia tak pernah lagi “melarang” saya menulis sajak. Tak juga “menganjurkan” saya menulis sajak. Sebab komunikasi yang dijalin saat itu bahkan seringkali mengabarkan keluarga masing-masing. (Sayangnya lagi, beberapa surat dari Isbedy tersebut juga pada ketlingsut)
Hingga suatu saat saya sempat menulis sajak untuknya atas pertanyaan-pertanyaannya (via pos), tentang kabar isteri dan keluarga saya. Kebetulan saya belum lama menikah. Maka jadilah tulisan di bawah ini:

KABAR BAGI ISBEDY STIAWAN  ZS

kutulis sajak ini
: bukan rinduku
  bukan lama tak bertemu
  bukan ungkapan kemesraan sahabat
  bukan pada kemauan pribadi
tetapi,
yang maha gaib telah menggugah
pikiran, jiwa, batin
mata, telinga, tangan
agar memberi kabar padamu

bung!
yang engkau tanyakan
kini telah disampingku
saat menulis sajak ini.

Tangerang, 1993

Entah apa penilaian sang paus sastra lampung ini, terhadap tulisan di atas. Yang pasti, tulisan itu dimuat di harian Pelita tahun 1993 (saya tak membubuhkan tgl pemuatannya pada kliping saya yang kebetulan masih ketemu) pada rubrik sajak yang diasuh oleh HS. Djurtatap. Apa layak disebut sajak atau tidak. Hehehehe…
            Andaikata saya tak “dendam” (padahal hubungan saya dengan Isbedy baik-baik saja lho, bahkan sesekali masih WA-nan. Dan terakhir ketemu dengannya di rumah Nanang R. Supriyatin setahun lalu) dan tak merasa “sakit hati” atas ulasannya di media .cetak (yang dimuat di pelita atau terbit – karena tak punya klipingannya) tersebut. Barangkali saya tak pernah menulis sajak lagi. Dan, mungkin hanya menulis cerpen seperti “saran” yang ditulisnya. Lepas dari apakah saya akan disebut penyair atau tidak. Yang pasti sudah banyak sajak saya yang akhirnya muncul di media cetak (koran dan majalah).
            Terima kasih, akhi Isbedy Stiawan ZS, dan SELAMAT ULANG TAHUN. Semoga Allah mengekalkan persahabatan kita dengan dasar lillahi ta’ala. Amin.
                                   

 Tangsel 06062020

No comments:

Post a Comment