ISBEDY STIAWAN ZS YANG SAYA KENAL.
Saya mengenalnya pada tahun 1984, setelah saya menulis dengan menggunakan
nama Humam S. Chudori. Sebelumnya saya memakai nama Humam Santosa C. Atas
usulan Harianto Gede Panembahan (HGP), agar yang disingkat nama tengahnya saja
tidak nama belakang. Dari sini saya mulai mengenal (secara pribadi – bukan sekedar
lewat tulisan) Nanang R. Supriyatin (NRS), Ayid Suyitno PS (ASPS),
Yon AG, Doddy Permadi Indrajaya (DIP), dll. Yang akhirnya, kami sepakat membentuk Kelompok
Diskusi Sastra Kita Jakarta.
Dari sini saya mulai kenal dan
intens berkomunikasi (ada yang hanya lewat surat menyurat –
karena dibatasi oleh jarak tempat tinggal - bahkan ada juga yang langsung kenal secara fisik) beberapa nama a.l. Diah Hadaning (DIHA), Putu Arya TirtaWirya (PAT), Odhy’s, AR Syam Matola, Isbedy Stiawan ZS, Wahyu
Prasetya, dll. Alamat mereka saya dapat dari NRS. Pada tahun 1985 (saya, NRS, ASPS,
HGP) mendapat undangan untuk acara baca cerpen dan puisi di salah satu SMA di Bandarlampung. Saat itu saya
membacakan cerpen yang berjudul “Sejak itu Aku Jadi Pembunuh”. Sementara dari Lampung ada beberapa nama (mudah-mudahan tidak keliru) a.l
Isbedy Stiawan ZS (ISZS), Hendra Z, Panji Sastra, Naim Emel Prahara,
Syaiful Irba Tanpaka dll. Kami mengisi acara yang bertajuk TIRAI SASTRA
di sana.
Dari semua teman-teman di Lampung,
hanya ISZS yang intens komunikasi (via surat) dengan saya. Hingga suatu Ketika Sastra Kita menerbitkan (untuk pertama
kalinya) antologi puisi yang bertajuk Sketsa Sastra Indonesia. Dua sajak
saya “terikut” di dalamnya.
Buku ini ternyata menjadi “catatan
bersejarah” buat persahabatan saya dengan ISZS. Betapa tidak, ISZS “ngonceki”
saya habis-habisan. Bahkan “melarang” saya menulis puisi. (karena memang
awalnya dia mengenal saya sebagai penulis cerpen). Tulisannya ini dimuat di media cetak Jakarta (entah Pelita atau
Terbit – saya lupa karena tak punya klipingnya). Saya memang bukan penyimpan
kliping yang baik (apalagi sering pindah-pindah rumah kontrakan sehingga tak
jarang terjadi ada yang hilang) tidak seperti halnya Arief Joko Wicaksono, Bambang Joko
Susilo, atau Nanang R. Supriyatin
yang begitu tertib menyimpan koleksi klipingan.
Mendapat “larangan” ISZS untuk tidak
menulis sajak. Saya makin penasaran untuk mengirim sajak ke media cetak. Benar.
Hampir setiap tulisan (sajak) yang saya krimkan –
saat itu – tidak dianggap layak muat.
Akibatnya tak ada sajak saya yang muncul di media
cetak. Sempat terpikir “kebenaran”
pendapat penyair yang kini bergelar Paus Sastra Lampung ini, bahwa saya lebih
baik menulis cerpen tak usah neko-neko, menulis sajak . Tapi, “kepo” saya untuk tulisan (sajak)
bisa dimuat di media cetak terus menggebu. Dan, seperti pepatah bilang dimana
ada kemauan di situ ada jalan, setelah sekian puluh kali kirim sajak. Akhirnya
sajak saya muncul juga. mula-mula di Merdeka Minggu, lalu menyusul di Yudha
Minggu, Pelita, Suara Karya, Banjarmasin Post, Harian Fajar, Jayakarta,
Surabaya Post, dll.
Komunikasi kami (saya dan Isbedy)
via pos sempat putus. Bukan karena “dendam” atau “sakit hati” atas larangannya terhadap saya untuk menulis sajak. Melainkan
saya kehilangan alamatnya. (lagi-lagi karena pindah kontrakan dan beberapa barang
ketlingsut juga hilang). Saya yakin ISZS pun mungkin kehilangan alamat
saya (kalau pun kirim kabar ke saya juga pasti tak sampai – karena saya pindah
alamat).
Pada akhir tahun 1990, saya mendapat
alamatnya lagi dari Nanang R. Supriyatin. Dan, kami Kembali saling
berkabar via pos. Jika ia mendapati tulisan saya dimuat di Lampung Post, Ia pun
tak segan mengirimkan kliping tulisan saya tersebut. Komunikasi yang intens inilah yang membuat
saya makin “pede” menulis sajak. Meski ia tak pernah
lagi “melarang” saya menulis sajak. Tak juga “menganjurkan”
saya menulis sajak. Sebab komunikasi yang dijalin saat itu bahkan seringkali
mengabarkan keluarga masing-masing. (Sayangnya lagi, beberapa
surat dari Isbedy tersebut juga pada ketlingsut)
Hingga suatu saat saya sempat menulis sajak untuknya atas pertanyaan-pertanyaannya
(via pos), tentang kabar isteri dan keluarga saya. Kebetulan saya belum lama
menikah. Maka jadilah tulisan di bawah ini:
KABAR BAGI ISBEDY STIAWAN ZS
kutulis sajak ini
: bukan rinduku
bukan lama tak
bertemu
bukan ungkapan
kemesraan sahabat
bukan pada
kemauan pribadi
tetapi,
yang maha gaib telah menggugah
pikiran, jiwa, batin
mata, telinga, tangan
agar memberi kabar padamu
bung!
yang engkau tanyakan
kini telah disampingku
saat menulis sajak ini.
Tangerang,
1993
Entah apa penilaian sang paus
sastra lampung ini, terhadap tulisan di atas. Yang pasti, tulisan itu dimuat di
harian Pelita tahun 1993 (saya tak membubuhkan tgl pemuatannya pada kliping
saya yang kebetulan masih ketemu) pada rubrik sajak yang diasuh oleh HS.
Djurtatap.
Apa layak disebut sajak atau tidak. Hehehehe…
Andaikata saya tak “dendam” (padahal
hubungan saya dengan Isbedy baik-baik saja lho, bahkan sesekali masih WA-nan.
Dan terakhir ketemu dengannya di rumah Nanang R. Supriyatin setahun
lalu) dan tak merasa “sakit hati” atas ulasannya di media .cetak (yang
dimuat di pelita atau terbit –
karena tak punya klipingannya) tersebut. Barangkali saya tak pernah menulis
sajak lagi. Dan, mungkin hanya menulis cerpen seperti “saran” yang ditulisnya. Lepas
dari apakah saya akan disebut penyair atau tidak. Yang pasti sudah banyak sajak
saya yang akhirnya muncul di media cetak (koran dan majalah).
Terima kasih, akhi Isbedy Stiawan
ZS, dan SELAMAT ULANG TAHUN. Semoga Allah mengekalkan persahabatan kita
dengan dasar lillahi ta’ala. Amin.
Tangsel 06062020
No comments:
Post a Comment