Thursday, July 16, 2020

sajak Humam S. Chudori, PEMERASAN


SAJAK  HUMAM S. CHUDORI


PEMERASAN

angka itu sudah final
menjadi batas kesempurnaan
kelahiran setiap insan manusia
karena ada sedulur papat limo pancer
makanan bergizi yang baik dan lengkap
empat sehat lima sempurna         
indera menjadi paripurna
juga harus berjumlah lima
kurang satu menjadi tuna
apalagi bila hanya satu
maka tak akan ada artinya

angka itu adalah nyata
keimanan yang diakui negara *)
meski berbeda cara
dalam pengabdiannya

apa karena angka lima
juga sebuah rukun agama
atau jumlah pengabdian kepada-Nya
dalam sehari semalam. menjadi tanda
mereka jadi alergi dengan semua
bilangan dengan jumlah lima

atau mungkin karena sudah biasa
lakukan pemerasan dimana-mana
hingga yang sudah paripurna
juga perlu diperas
sebab,
kalau tak melakukan pemerasan
merasa tidak bekerja
o, otak para pemeras
apakah jiwa kalian masih waras?
hati nurani selalu bertanya-tanya


2020

*) Islam, Kristen, Hindu, Budha, dan Konghucu

Saturday, June 6, 2020

ISBEDY STIAWAN ZS YANG SAYA KENAL

ISBEDY STIAWAN ZS YANG SAYA KENAL.

Saya mengenalnya pada tahun 1984, setelah saya menulis dengan menggunakan nama Humam S. Chudori. Sebelumnya saya memakai nama Humam Santosa C. Atas usulan Harianto Gede Panembahan (HGP), agar yang disingkat nama tengahnya saja tidak nama belakang. Dari sini saya mulai mengenal (secara pribadi – bukan sekedar lewat tulisan) Nanang R. Supriyatin (NRS), Ayid Suyitno PS (ASPS), Yon AG, Doddy Permadi Indrajaya (DIP), dll.  Yang akhirnya, kami sepakat membentuk Kelompok Diskusi Sastra Kita Jakarta.
            Dari sini saya mulai kenal dan intens berkomunikasi (ada yang hanya lewat surat menyurat – karena dibatasi oleh jarak tempat tinggal - bahkan ada juga yang langsung kenal secara fisik)  beberapa nama a.l. Diah Hadaning (DIHA), Putu Arya TirtaWirya (PAT),  Odhy’s, AR Syam Matola, Isbedy Stiawan ZS, Wahyu Prasetya, dll. Alamat mereka saya dapat dari NRS. Pada tahun 1985 (saya, NRS, ASPS, HGP) mendapat undangan untuk acara baca cerpen dan puisi di salah satu SMA di Bandarlampung. Saat itu saya membacakan cerpen yang berjudul “Sejak itu Aku Jadi Pembunuh”. Sementara dari Lampung ada beberapa nama (mudah-mudahan tidak keliru) a.l Isbedy Stiawan ZS (ISZS), Hendra Z, Panji Sastra, Naim Emel Prahara, Syaiful Irba Tanpaka dll. Kami mengisi acara yang bertajuk TIRAI SASTRA di sana.
            Dari semua teman-teman di Lampung, hanya ISZS yang intens komunikasi (via surat) dengan saya. Hingga suatu Ketika  Sastra Kita menerbitkan (untuk pertama kalinya) antologi puisi yang bertajuk Sketsa Sastra Indonesia. Dua sajak saya “terikut” di dalamnya.
            Buku ini ternyata menjadi “catatan bersejarah” buat persahabatan saya dengan ISZS. Betapa tidak, ISZS “ngonceki” saya habis-habisan. Bahkan “melarang” saya menulis puisi. (karena memang awalnya dia mengenal saya sebagai penulis cerpen). Tulisannya ini dimuat di media cetak Jakarta (entah Pelita atau Terbit – saya lupa karena tak punya klipingnya). Saya memang bukan penyimpan kliping yang baik (apalagi sering pindah-pindah rumah kontrakan sehingga tak jarang terjadi ada yang hilang) tidak seperti halnya Arief Joko Wicaksono, Bambang Joko Susilo, atau Nanang R. Supriyatin yang begitu tertib menyimpan koleksi klipingan.
            Mendapat “larangan” ISZS untuk tidak menulis sajak. Saya makin penasaran untuk mengirim sajak ke media cetak. Benar. Hampir setiap tulisan (sajak) yang saya krimkan – saat itu – tidak dianggap layak muat. Akibatnya tak ada sajak saya yang muncul di media cetak. Sempat terpikir “kebenaran” pendapat penyair yang kini bergelar Paus Sastra Lampung ini, bahwa saya lebih baik menulis cerpen tak usah neko-neko, menulis sajak . Tapi, “kepo” saya untuk tulisan (sajak) bisa dimuat di media cetak terus menggebu. Dan, seperti pepatah bilang dimana ada kemauan di situ ada jalan, setelah sekian puluh kali kirim sajak. Akhirnya sajak saya muncul juga. mula-mula di Merdeka Minggu, lalu menyusul di Yudha Minggu, Pelita, Suara Karya, Banjarmasin Post, Harian Fajar, Jayakarta, Surabaya Post, dll.
            Komunikasi kami (saya dan Isbedy) via pos sempat putus. Bukan karena “dendam” atau “sakit hati” atas larangannya  terhadap saya untuk menulis sajak. Melainkan saya kehilangan alamatnya. (lagi-lagi karena pindah kontrakan dan beberapa barang ketlingsut juga hilang). Saya yakin ISZS pun mungkin kehilangan alamat saya (kalau pun kirim kabar ke saya juga pasti tak sampai – karena saya pindah alamat).
            Pada akhir tahun 1990, saya mendapat alamatnya lagi dari Nanang R. Supriyatin. Dan, kami Kembali saling berkabar via pos. Jika ia mendapati tulisan saya dimuat di Lampung Post, Ia pun tak segan mengirimkan kliping tulisan saya tersebut.  Komunikasi yang intens inilah yang membuat saya makin “pede” menulis sajak. Meski ia tak pernah lagi “melarang” saya menulis sajak. Tak juga “menganjurkan” saya menulis sajak. Sebab komunikasi yang dijalin saat itu bahkan seringkali mengabarkan keluarga masing-masing. (Sayangnya lagi, beberapa surat dari Isbedy tersebut juga pada ketlingsut)
Hingga suatu saat saya sempat menulis sajak untuknya atas pertanyaan-pertanyaannya (via pos), tentang kabar isteri dan keluarga saya. Kebetulan saya belum lama menikah. Maka jadilah tulisan di bawah ini:

KABAR BAGI ISBEDY STIAWAN  ZS

kutulis sajak ini
: bukan rinduku
  bukan lama tak bertemu
  bukan ungkapan kemesraan sahabat
  bukan pada kemauan pribadi
tetapi,
yang maha gaib telah menggugah
pikiran, jiwa, batin
mata, telinga, tangan
agar memberi kabar padamu

bung!
yang engkau tanyakan
kini telah disampingku
saat menulis sajak ini.

Tangerang, 1993

Entah apa penilaian sang paus sastra lampung ini, terhadap tulisan di atas. Yang pasti, tulisan itu dimuat di harian Pelita tahun 1993 (saya tak membubuhkan tgl pemuatannya pada kliping saya yang kebetulan masih ketemu) pada rubrik sajak yang diasuh oleh HS. Djurtatap. Apa layak disebut sajak atau tidak. Hehehehe…
            Andaikata saya tak “dendam” (padahal hubungan saya dengan Isbedy baik-baik saja lho, bahkan sesekali masih WA-nan. Dan terakhir ketemu dengannya di rumah Nanang R. Supriyatin setahun lalu) dan tak merasa “sakit hati” atas ulasannya di media .cetak (yang dimuat di pelita atau terbit – karena tak punya klipingannya) tersebut. Barangkali saya tak pernah menulis sajak lagi. Dan, mungkin hanya menulis cerpen seperti “saran” yang ditulisnya. Lepas dari apakah saya akan disebut penyair atau tidak. Yang pasti sudah banyak sajak saya yang akhirnya muncul di media cetak (koran dan majalah).
            Terima kasih, akhi Isbedy Stiawan ZS, dan SELAMAT ULANG TAHUN. Semoga Allah mengekalkan persahabatan kita dengan dasar lillahi ta’ala. Amin.
                                   

 Tangsel 06062020

Saturday, February 15, 2020

Seni, Sorga, dan Neraka oleh: Humam S. Chudori


SENI, SURGA, DAN NERAKA


Oleh  Humam S. Chudori

            Di antara semua makhluk – malaikat, jin, setan, manusia, hewan, dan pepohonan – maka manusia adalah makhluk yang paling sempurna. Seperti yang dinyatakan Allah dengan firman-Nya “laqod kholaqnakum fii ahsani takwien” Kenapa demikian? Sebab manusia memiliki potensi berbuat baik seperti malaikat, potensi jahat layaknya setan, dan potensi kejam bagai binatang.
            Pun, hanya manusia yang diberikan hati nurani dan akal pikiran. Dan, inilah yang membuat manusia berbeda dengan binatang. Dalam hal makan, misalnya. Jika binatang – baik yang masuk golongan omnivore, herbivora, maupun carnivora – makan, misalnya. Mereka tak perlu memasak terlebih dulu. Mereka langsung menyantap sesuatu yang menjadi makanan mereka. Tak pernah berpikir (memang tak diberi akal pikiran) apa yang disantapnya kotor atau tidak. Sejauhmana gizi makanan itu. Apalagi bisa mengerti tentang higienis atau tidak.
            Sementara manusia bukan hanya berpikir bagaimana memasak terlebih dulu sesuatu yang hendak dimakan. Melainkan juga cara memasak dan cara penyajiannya. Itulah sebabnya manusia sekarang akan berbeda jauh dengan manusia jaman bauhela dalam hal makan. Sedangkan binatang dari jaman purba hingga sekarang tak pernah berubah. Kambing tak pernah merebus terlebih dulu daun yang hendak dimakan. Demikian juga, misalnya, harimau tak pernah menggoreng, memasak, atau membakar daging yang hendak disantapnya.
            Cara memasak makanan ini, merupakan contoh dari salah satu bagian dari kebudayaan manusia.
***
            Banyak para ahli memberikan definisi tentang kebudayaan. Baik yang berasal dari dalam negeri maupun dari mancanegara. Meskipun dengan definisi dan kalimat yang berbeda-beda. Namun, sesungguhnya, intinya hampir sama. Dan, kalau boleh saya simpulkan bahwa kebudayaan adalah segala upaya dan aktivitas yang dilakukan oleh manusia dalam memenuhi kebutuhan hidup yang mampu memberikan kepuasan bagi dirinya.
            Jika binatang kebutuhan hidupnya hanya ada tiga. 1. Kebutuhan perut 2. Mempertahankan diri. 3. Kebutuhan berkembang biak. Maka manusia tidak hanya terbatas tiga kebutuhan itu yang memerlukan alat pemuas.
            Manusia diberi potensi memiliki berbagai naluri yang berbeda dengan binatang. Manusia punya kebutuhan yang lebih kompleks. Ada kebutuhan tempat tinggal, kenyamanan hidup, aturan-aturan, perubahan, hingga kebutuhan akan keindahan.
            Bahkan dalam hal memenuhi kebutuhan yang sama. Makan, misalnya. Seperti  yang saya paparkan di atas. Kebutuhan mempertahankan diri (binatang hanya berdasarkan naluri dan senjata yang telah diberikan alam). Sementara itu, manusia selalu berusaha mencari terobosan baru untuk mencipta senjata (dulu mungkin cuma senjata tajam, lalu ada senjata api, kini mulai dikembangkan senjata kimia).
Dalam kebutuhan berkembang biak, dari jaman dulu binatang ya tak pernah berubah. Tetap ‘gitu-gitu’ aja. tidak seperti halnya manusia. Manusia dalam menyalurkan hasrat biologisnya bisa melakukan dengan berbeda. Tidak monoton. Dalam seni bercinta ala India yang disebut dengan Kamasutra banyak cara dan gaya yang bisa dilakukan ketika bercinta. Artinya bercinta tak sekedar penyaluran hasrat biologis dan untuk melahirkan keturunan. Tetapi, sekaligus ingin mendapat kepuasan dan ‘keindahan’ dalam berhubungan badan.
            ***
            Ingin mendapatkan ‘keindahan’ dalam hidup, sebagai salah satu cabang dari kebudayaan manusia. sebetulnya, telah lama dilakukan oleh manusia di muka bumi. Salah satunya adalah di tanah Arab. Kebudayaan manusia yang masuk dalam naluri kebutuhan akan keindahan inilah yang kita sebut sebagai seni.
            Diakui atau tidak, jauh sebelum nabi Muhammad terlahir. Tanah Arab sudah sangat maju dalam hal kebudayaannya – terutama yang berkaitan dengan seni. Tak sedikit perupa (pematung) yang mampu membuat patung-patung yang indah saat itu, tak kurang pula jumlahnya para penyair yang menghasilkan sajak-sajak dengan gaya tutur yang sangat estetis, para pelukis yang hasil karyanya luar biasa hingga sebuah tulisan pun dapat dibuat sedemikian indah menjadi bentuk sesuatu (baca: karya kaligrafi), atau para perajut karpet.
            Tak heran jika ada ratusan patung yang ditempatkan di sekeliling ka’bah. Karena di tempat itu mereka bisa memamerkan ‘hasil karya seni’ mereka. Hanya saja, hasil karya seni mereka akhirnya dijadikan “tuhan”. Patung-patung itu akhirnya dijadikan sesembahan. Dijadikan ‘sekutu’ Allah oleh mereka. Di antara patung yang sangat tekenal itu Latta, Uzza, dan Hubal.
            Demikian juga dalam hal seni sastra. Tidak sedikit penyair yang mampu membuat sajak-sajak indah. Sajak di jaman jahiliyah ini sudah dibagi dalam berbagai jenis. Ada al madah (pujian kepada seseorang, al hijir (puisi kebencian), al hamasah (sanjungan kepada pahlawan), Al washfif (keindahan alam, kejadian luar biasa di alam raya, peperangan), Al I’tidzar (sajak permohonan maaf), dan masih banyak lagi.
            Pengaruh sajak di jaman jahiliyah amatlah luar biasa. Tak sedikit masyarakat yang saking percayanya dengan sajak yang ditulis penyair. Maka sebuah sajak akan mampu menggelorakan semangat (bahkan kebencian) suatu kaum. Mungkin dari sinilah timbul istilah “kata-kata lebih tajam daripada senjata yang paling ampuh sekali pun.”
            Banyak pernyair tersohor di zaman itu. Salah satunya adalah Musaillimah yang setelah Rasulullah wafat ia mengaku dirinya sebagai nabi. Dan karena itu Namanya dijuluki al kadzab. Jadilah, Musaillimah al kadzab. Penyair ini mampu ‘menyihir’ masyarakat dengan sajak-sajaknya. Hingga sebagian umat Islam sempat murtad. Nabi palsu ini akhirnya diperangi oleh Abubakar Shidiq r.a.
            Mungkin karena pengaruh inilah sebagian orang menganggap Rasulullah sebagai penyair ketika menyampaikan wahyu-Nya. Padahal, Muhammad saw jelas-jelas ummi (buta huruf, tak bisa baca tulis) hingga tak mungkin mampu menuliskan sajak. Karena itu, Allah menurunkan firman yang berbunyi, “wa in kuntum fii roibim mimma nazzalna ‘ala abdina fa’tu bisurotin min mislihii wad ‘uu syu hadaa akum min dunillahi in kuntum shodiqiin (Q.S. 2/ Al Baqarah : 23) sebagai bukti bahwa yang disampaikan Muhammad bin Abdullah bukanlah sekedar puisi. Melainkan firman Allah. Sekaligus menjelaskan bahwa Muhammad adalah seorang nabi.
            Dan, barangkali, untuk mengingatkan masyarakat arab yang masih jahiliyah itu Allah sengaja menurunkan satu surat yang diberi judul As Syuara (para penyair). Dalam surat itu Allah menjelaskan bahwa penyair diikuti oleh orang sesat. Meski pada ayat berikutnya disebut “Kecuali” para penyair yang beriman.
***
            Ada istilah yang mengatakan “jika kita dekat dengan penjual minyak wangi, kita akan kebagian bau wangi. Tetapi, jika dekat dengan penjual ikan. Maka kita akan terimbas bau amis.”
            Allahul jamal yuhibbul jamil – Allah itu indah dan mencintai keindahan. Dengan demikian, maka dapat kita pahami jika orang suka menciptakan keindahan (baca: seni) adalah orang yang termasuk ‘dekat’ dengan Allah. Sebab hakekat seni itu adalah ‘menyontek’ keindahan yang telah Allah ciptakan di alam raya ini. Dalam dunia seni lukis, misalnya. Pelukis berusaha untuk “mengabadikan’ keindahan ciptaan Allah – entah dalam perpaduan warna, bentuk, coretan-coretan yang ada di alam raya. Dalam seni tari. Keindahan gerakan ombak atau alam raya dikreasikan para penari. Demikian juga dalam hal kesenian lainnya.
            Dengan kata lain, salah satu tanda seseorang dekat dengan-Nya karena mendapatkan imbas dari asma-Nya. Dan Allah punya asma al mushowwiru (pencipta keindahan bentuk). Lalu apakah seniman akan punya nilai lebih dalam penilaian Allah dibandingkan dengan orang yang berprofesi lain? Jawabnya tergantung dari niat dari seniman itu sendiri. apakah tujuan berkeseniannya. Cari popularitas, cari uang, atau karena Allah. Jika diniati karena Allah, insyaAllah, ia bagian dari hamba yang dapat perhatian lebih. Karena Allah mengatakan wa maa kholaqtul jinna wal insa illa liya’budun.
Nah, kalau kemudian dari berkesenian itu mendapatkan uang dan populartias. Itu hanyalah sebagai bonus. Sayangnya, jika sudah merasa popular – tidak jarang – ada yang menjadi sombong karenanya. Padahal gara-gara sombong itulah iblis diusir dari surga.
Dus, dari kebudayaan (termasuk seni) manusia bisa mengantar orang masuk surga. Jika berkesenian itu diniati karena Allah. Tetapi, berkesenian juga bisa menyeret pelakunya ke neraka. Apabila dengan berkesenian itu melahirkan sifat sombong. Sebab nyatanya tidak sedikit seniman yang merasa sombong apabila karya seni yang dihasilkan membuat dirinya terkenal, misalnya. Wallahu alam!***Humam S. Chudori, novelis, tinggal di Tangerang Selatan.


*) disampaikan dalam Tausiah Budaya, di Semesta Galery Art, Jakarta, pada acara #sastra semesta 2, tgl 20 Oktober 2019


Humam S. Chudori saat menyampaikan tausiyah budaya

Sunday, January 19, 2020

Humam S. Chudori mendapat kunjungan mahasiswi UIN, Jakarta


mendapat kunjungan mahasiswi UIN yang hendak menyelesaikan skripsi tentang kehidupan guru (non formal) mengaji, berdasarkan novel Ghuffron yang diterbitkan Republika. dari kiri ke kanan Humam S. Chudori, Robiatul Aliyah, Ana Fadhilah