PAGAR KENABIAN SOFYAN R.H.
ZAID
·
Bukan Buku Puisi Biasa
Ketika
menerima buku “Pagar Kenabian” dari penulisnya, saya sempat berseloroh “Wah,
ini bacaan bagi orang-orang yang punya maqom tertentu.Bacaan bagi golongan khowasul
khowas.” Saya berkata demikian karena
melihat buku berformat kecil (cenderung tidak seperti biasanya buku kumpulan
puisi yang saya miliki) layaknya buku-buku karya Kahlil Ghibran semisal “Pasir
dan Buih” dan “Sang Nabi”. Dan, sang
penulis – Sofyan R.H. Zaid – hanya tersenyum mendengar komentar saya.
Ternyata apa yang saya ucapkan tidak
terlalu berlebihan. Betapa tidak, ketika membuka halaman awal saya menemukan
serangkaian penjelasan yang menjabarkan tentang nadham yang dijadikan model penulisan puisi yangg terdapat dalam
buku “Pagar Kenabian.” Pun saya juga baru tahu tentang hal ini setelah membaca
mukadimah dalam buku tersebut.
Setelah
membaca mukadimahnya, saya makin yakin (sebelum membaca puisi-puisi yang disuguhkan dalam kumpulan puisi ini)
bahwa akan tidak begitu mudah untuk mencerna puisi-puisi yang terkumpul di
“Pagar Kenabian”. Namun, barangkali Sofyan R.H.Zaid berasumsi penikmat
puisi-puisinya pernah belajar di pesantren. Atau paling tidak dianggp sudah
pernah melahap buku-buku agama yang bukan sekedar buku agama (buku tentang
fikih, misalnya).
Dalam
puisi yang berjudul “Kawin Batin” Sofyan R.H. Zaid menggunakan kata hu. Saya tak begitu yakin semua penikmat
puisi akan memahami kata hu ini.
Meski kata ini menggunakan huruf miring. Bahwa kata hu merujuk dari kata huwa (Allahu) – demikian yang saya pahami – bisa jadi tak semua mengerti.
Maka
alangkah cantiknya jika di bawah puisi tersebut ada penjelasan makna dari kata
hu tersebut. Katakanlah semcam footnote
(tetapi bukan catatan kaki ala puisi esai). Dengan demikian, penikmat puisi
dalam tajuk “Pagar Kenabian” tidak harus bersusah payah harus mencari maksud
kata hu dalam puisi tersebut.
Demikian
pula ketika membaca puisi yang berjudul “Kampung Kebenaran”. Puisi ini
mencantumkan sejumlah nama yang mungkin saja tidak semua pembaca memahaminya. Sebab
nama-nama yang disebut tersebut tidak begitu populer di kalangan awam. Misal Kant
(mungkin yang dimaksud Imanuel Kant), Marx (Karlmarx), Farabi (Ibnu Farabi). Atau
dalam puisi yang berjudul “Halaqoh Pulosirih) ada sejumlah nama yang juga (di
kalangan awam) terasa asing. Umpama nama Galileo, Rilke, Altar, Gothe, Rabi’ah,
dll.
Bagaimana
pun juga, diakui atau tidak, sebuah puisi tentunya ditulis bukan untuk sekedar
bisa dinikmati keindahannya. Melainkan juga ada message yang perlu juga untuk memuaskan batin pembaca.
***
Sofyan
R.H. Zaid, tampaknya, ingin tetap istiqomah dalam menulis puisi. Ada sesuatu
yang ingin dijadikan ciri khas puisinya yaitu tanda pagar (#) dalam setiap pusi
yang ditulisnya. Dalam kumpulan puisi ini setiap lariknya ditandai dengan tanda
#. Sesuatu yang jarang dilakukan oleh penyair-penyair di Indonesia yang saya
kenal.
Jika
Sofyan R.H. Zaid tetap istiqomah dengan penulisan semacam ini, saya harus angkat topi. Pasalnya tidak semua
penyair akan tetap istiqomah dengan cara-cara penulisan puisinya. Apalagi jika
sudah dikatakan mencapai puncak penulisan, biasanya, akan cenderung tidak
konsisten. Sebab ada hal lain yang akan dipertimbangkan. Sebutlah mengikuti
“selera” redaktur media cetak yang dikirimi puisi. (kendati sekarang puisi yang
ingin disampaikan ke pembaca bisa dilakukan sendiri. Dengan memposting di
medsos, misalnya).
Membaca
puisi-puisi Sofyan R.H. Zaid dalam kumpulan puisi bertajuk “Pagar Kenabian” saya
membayangkan kenikmatan seperti saat membaca
kitab Berzanji. Bukan dalam hal isinya, melainkan ketika memerhatikan
larik-lariknya yang demikian ritmis. Bahkan seperti mampu menghipnotis pembaca.
Jika
diizinkan memberi catatan kecil. Saya ingin menggaris bawahi salah satu puisi
yang terdpat dalam kumpulan puisi ini yaitu puisi yang berjudul “Kawin Batin”
.....
Berenang Rumi
dan Hafis # gerimis perlahan turun tipis
Bulan meleleh
madu # bintang saling berpadu
Bakar dan Umar
hadir # Usman dan Ali mencair
Ruh kita satu #
melebur dalam rindu
Bersama ikan
abad # mengarah pulau ahad
...
Ya,
pada larik terakhir bersama ikan abad (menurut saya terlalu abstrak untuk
dipahami). Andaikata kalimat ini berbunyi tangan
bilal terikat # mengarah pulau ahad. Bagi saya pesan ini tentu lebih terasa
nyambung. Bukankah tangan Bilal terikat (dan tubuhnya ditindih batu) ia tetap
mempertahankan kata ahad. Hingga datangnya Abubakar Ash Shidiq membebaskan
budak yang bersuara merdu itu.
Tentu
saja yang saya sampaikan ini sekedar pendapat seorang pembaca yang mungkin tak
tepat. Atau barangkali Sofyan R.H. Zaid punya alasan tersendiri menggunakan
kata bersama ikan abad dan tak
mungkin digantikan dengan kata lain.
Menikmati
pusi-puisi Sofyan R. H. Zaid saya merasa menjadi manusia yang dzalilul dhoif. Dan, seperti saya katakan pada saat menerima buku ini. Bahwa
buku ini bukan buku puisi biasa. Sebab untuk menikmatinya (paling tidak) sudah
membaca buku-buku lain sebelumnya. Itu saja.***Humam S. Chudori, penikmat puisi,
kegiatan sehari-harinya mengenalkan huruf hijaiyah
kepada anak-anak, tinggal di Tangsel.
No comments:
Post a Comment