Thursday, October 25, 2018

Humam S. Chudori: Pagar Kenabian Sofyan R.H. Zaid, bukan buku puisi biasa



PAGAR KENABIAN  SOFYAN R.H. ZAID
·         Bukan Buku Puisi Biasa

Ketika menerima buku “Pagar Kenabian” dari penulisnya, saya sempat berseloroh “Wah, ini bacaan bagi orang-orang yang punya maqom tertentu.Bacaan bagi golongan khowasul khowas.”  Saya berkata demikian karena melihat buku berformat kecil (cenderung tidak seperti biasanya buku kumpulan puisi yang saya miliki) layaknya buku-buku karya Kahlil Ghibran semisal “Pasir dan Buih” dan “Sang Nabi”.  Dan, sang penulis – Sofyan R.H. Zaid – hanya tersenyum mendengar komentar saya.
      Ternyata apa yang saya ucapkan tidak terlalu berlebihan. Betapa tidak, ketika membuka halaman awal saya menemukan serangkaian penjelasan yang menjabarkan tentang nadham yang dijadikan model penulisan puisi yangg terdapat dalam buku “Pagar Kenabian.” Pun saya juga baru tahu tentang hal ini setelah membaca mukadimah dalam buku tersebut.
Setelah membaca mukadimahnya, saya makin yakin (sebelum membaca puisi-puisi    yang disuguhkan dalam kumpulan puisi ini) bahwa akan tidak begitu mudah untuk mencerna puisi-puisi yang terkumpul di “Pagar Kenabian”. Namun, barangkali Sofyan R.H.Zaid berasumsi penikmat puisi-puisinya pernah belajar di pesantren. Atau paling tidak dianggp sudah pernah melahap buku-buku agama yang bukan sekedar buku agama (buku tentang fikih, misalnya).
Dalam puisi yang berjudul “Kawin Batin” Sofyan R.H. Zaid menggunakan kata hu. Saya tak begitu yakin semua penikmat puisi akan memahami kata hu ini. Meski kata ini menggunakan huruf miring. Bahwa kata hu merujuk dari kata huwa (Allahu) – demikian yang saya pahami – bisa jadi tak semua mengerti.
Maka alangkah cantiknya jika di bawah puisi tersebut ada penjelasan makna dari kata hu tersebut. Katakanlah semcam footnote (tetapi bukan catatan kaki ala puisi esai). Dengan demikian, penikmat puisi dalam tajuk “Pagar Kenabian” tidak harus bersusah payah harus mencari maksud kata hu dalam puisi tersebut.
Demikian pula ketika membaca puisi yang berjudul “Kampung Kebenaran”. Puisi ini mencantumkan sejumlah nama yang mungkin saja tidak semua pembaca memahaminya. Sebab nama-nama yang disebut tersebut tidak begitu populer di kalangan awam. Misal Kant (mungkin yang dimaksud Imanuel Kant), Marx (Karlmarx), Farabi (Ibnu Farabi). Atau dalam puisi yang berjudul “Halaqoh Pulosirih) ada sejumlah nama yang juga (di kalangan awam) terasa asing. Umpama nama Galileo, Rilke, Altar, Gothe, Rabi’ah, dll.
Bagaimana pun juga, diakui atau tidak, sebuah puisi tentunya ditulis bukan untuk sekedar bisa dinikmati keindahannya. Melainkan juga ada message yang perlu juga untuk memuaskan batin pembaca.
***
Sofyan R.H. Zaid, tampaknya, ingin tetap istiqomah dalam menulis puisi. Ada sesuatu yang ingin dijadikan ciri khas puisinya yaitu tanda pagar (#) dalam setiap pusi yang ditulisnya. Dalam kumpulan puisi ini setiap lariknya ditandai dengan tanda #. Sesuatu yang jarang dilakukan oleh penyair-penyair di Indonesia yang saya kenal.
Jika Sofyan R.H. Zaid tetap istiqomah dengan penulisan semacam ini,  saya harus angkat topi. Pasalnya tidak semua penyair akan tetap istiqomah dengan cara-cara penulisan puisinya. Apalagi jika sudah dikatakan mencapai puncak penulisan, biasanya, akan cenderung tidak konsisten. Sebab ada hal lain yang akan dipertimbangkan. Sebutlah mengikuti “selera” redaktur media cetak yang dikirimi puisi. (kendati sekarang puisi yang ingin disampaikan ke pembaca bisa dilakukan sendiri. Dengan memposting di medsos, misalnya).
Membaca puisi-puisi Sofyan R.H. Zaid dalam kumpulan puisi bertajuk “Pagar Kenabian” saya membayangkan  kenikmatan seperti saat membaca kitab Berzanji. Bukan dalam hal isinya, melainkan ketika memerhatikan larik-lariknya yang demikian ritmis. Bahkan seperti mampu menghipnotis pembaca.
Jika diizinkan memberi catatan kecil. Saya ingin menggaris bawahi salah satu puisi yang terdpat dalam kumpulan puisi ini yaitu puisi yang berjudul “Kawin Batin”
.....
Berenang Rumi dan Hafis # gerimis perlahan turun tipis
Bulan meleleh madu # bintang saling berpadu
Bakar dan Umar hadir # Usman dan Ali mencair
Ruh kita satu # melebur dalam rindu
Bersama ikan abad # mengarah pulau ahad
...
Ya, pada larik terakhir bersama ikan abad  (menurut saya terlalu abstrak untuk dipahami). Andaikata kalimat ini berbunyi tangan bilal terikat # mengarah pulau ahad. Bagi saya pesan ini tentu lebih terasa nyambung. Bukankah tangan Bilal terikat (dan tubuhnya ditindih batu) ia tetap mempertahankan kata ahad. Hingga datangnya Abubakar Ash Shidiq membebaskan budak yang bersuara merdu itu.
Tentu saja yang saya sampaikan ini sekedar pendapat seorang pembaca yang mungkin tak tepat. Atau barangkali Sofyan R.H. Zaid punya alasan tersendiri menggunakan kata bersama ikan abad dan tak mungkin digantikan dengan kata lain.
Menikmati pusi-puisi Sofyan R. H. Zaid saya merasa menjadi manusia yang dzalilul dhoif. Dan, seperti saya katakan pada saat menerima buku ini. Bahwa buku ini bukan buku puisi biasa. Sebab untuk menikmatinya (paling tidak) sudah membaca buku-buku lain sebelumnya. Itu saja.***Humam S. Chudori, penikmat puisi, kegiatan sehari-harinya mengenalkan huruf hijaiyah kepada anak-anak, tinggal di Tangsel.
           
                       

No comments:

Post a Comment