Kumpulan
Puisi Nanang Ribut Supriyatin, “Bibir Dalam Jas Hujan”
·
Oase
di tengah kegersangan jiwa kita
Segala sesuatu yang (sebetulnya)
biasa saja. Tidak istimewa. Bahkan (mungkin) tak menarik dibicarakan, apalagi untuk ditulis, pada masyarakat kebanyakan.
Namun, di tangan seorang penyair ia bisa
menjadi sesuatu yang menarik untuk ditulis. Dikemas dengan indah dalam sajak yang menarik.
Menjadi sajak yang enak untuk dinikmati dan membuka mata hati.
Diakui atau tidak, sajak
yang bagus, menarik, layak baca, dan pantas dibicarakan – tak harus – mengusung
tema-tema besar. Tidak jarang sebuah sajak sangat menarik dan menjadi
pembicaraan masyarakat bukan karena tema besar yang diusungnya. Melainkan
hal-hal yang sederhana. Sesuatu yang terjadi atau benda yang ada di sekitar
kita. Atau peristiwa-peristiwa yang acap kita alami, namun tak pernah kita
sadari bahwa ada hal yang sangat pantas untuk dijadikan kajian. Hingga perlu
untuk diabadikan dalam sebuah tulisan. Sebutlah sajak yang ditulis oleh Toto Sudarto Bahtiar yang bercerita seorang
peminta-minta, misalnya. Bukankah kehidupan seorang peminta-minta merupakan
kehidupan biasa? Apa istimewanya perjalanan hidup seorang pengemis. Tidak ada.
Tapi, bagi Toto Sudarto Bahtiar kehidupan seorang tuna karya bisa menjadi
“obyek” yang pantas diabadikan dalam sajak. Dan, ia tuliskan dalam sajak yang
bertajuk “Gadis Peminta-minta”.
Tak berbeda dengan
Nanang Ribut Supriyatin, kelahiran Jakarta 6 Agustus 1962, penyair ini sangat
konsisten untuk mengangkat hal-hal yang mungkin (dianggap) sepele bagi orang
lain dalam sajak-sajak yang ditulisnya. Penyair ini juga jarang sekali
menggunakan metafora yang njlimet, meskipun demikian kata-kata yang digunakan
tetap puitis walau tanpa bergenit-genit dengan gaya bahasa, nyaris tidak ada
gaya bahasa pleonasme, eufimisme, hyperbola, sinisme, apalagi yang bernada
sarkastik.
Menarik untuk dicatat, sajak-sajak
Nanang tetap mengalir wajar, bahasanya renyah, kalimat-kalimatnya cair, untuk
menikmatinya tidak harus mengerutkan dahi. Namun, sajak-sajaknya mampu
menggugah batin untuk kaji diri.
Simaklah sajak di bawah
ini:
CERMIN
cermin pada bingkai
akhirnya retak. seperti sebuah dinding, bertahun-tahun terjaga dan tanpa kau
sadari sedikit demi sedikit luruh bersama waktu.
seperti sebuah bangunan.
sekuat apapun, akan runtuh juga. dan kau bertanya, sekuat apa tubuh dari
daging? setahan apa tubuh dari tulang?
cermin pada bingkai
memberi tanda. kerut di wajah. uban di kepala. usia kian senja. tak tau, setiap
detik maut mengurai rindu?
(halaman:
10)
Sajak
di atas mengingatkan pembaca akan datangnya suatu peristiwa yang pasti akan
dialami setiap insan. Kematian. Ya, karena rahman
dan rahim-Nya. Manusia diberi
peringatan dalam bentuk perubahan fisik. Dengan adanya perubahan fisik, manusia
seharusnya tersadarkan bahwa ‘jatah’ usianya di dunia tidak lama lagi saat
berdiri di depan cermin. Sudah waktunya bersiap-siap untuk dijemput Izroil. Namun,
tanda-tanda yang diberikan Tuhan seringkali justru diupayakan untuk dilupakan. Kerapuhan
tulang, kekendoran daging, keriputnya (kulit) wajah, ringkihnya tubuh,, dan
perubahan warna rambut tidak serta merta akan menyadarkan manusia akan sisa
usia yang masih diberikan Tuhan.
Tak
heran jika tidak sedikiit di antara kita ada yang mencoba memperhalus wajahnya
(agar hilang keriputnya) bahkan jika perlu melakukan operasi plastik agar tetap
(terlihat) cantik layaknya remaja. Rambut dicat dengan warna hitam supaya tidak
tampak tua di mata orang lain. Padahal
tampilan semacam ini justru menipu. Dan, sajak cermin merupakan kejujuran hati
nurani yang tak mungkin membohongi diri
sendiri.
***
Seseorang
yang tengah melaksanakan shalat sendiri pada sebuah masjid, memang, bukan
sesuatu yang aneh. Tidak menarik untuk dibicarakan, karena hal itu bukan sebuah
peristiwa yang luar biasa. Apa hebatnya orang yang bersembahyang di sebuah
masjid. Sebab perbuatan ini menjadi sesuatu yang banyak dilakukan orang. Setiap
saat bisa kita saksikan orang yang bersembahyang. Tetapi, di mata Nanang Ribut
Supriyatin peristiwa ini menjadi menarik saat diangkat dalam sebuah sajak.
Simaklah
bait beritkut ini.
.........
di ruang tak
berpenghuni, lelaki sendiri menangisi hidup. ada airmata jatuh di atas sajadah!
...........
Judul
sajak Doa, halaman 13
Pada
sajak di atas, Nanang Ribut Supriyatin tak memakai kata masjid, musholla, langgar,
surau, tempat ibadah, atau pun rumah Tuhan. Namun, “ruang tak berpenghuni”.
Bukankah masjid memang tak ada penghuninya. Tidak ada orang yang tinggal di
tempat ibadah itu. Dan, tempat ibadah yang dimaksud – tentu saja – bukan
gereja, vihara, klenteng, pura, atau kuil. Sebab di sana ada kata “sajadah’.
Dan, sajadah tak mungkkin ada di tempat ibadah lain. Kecuali masjid.
Pun, kata “sajadah” sudah cukup menjelaskan bahwa lelaki
itu tengah beribadah (mungkin sedang menyesali dosa-dosanya). Atau bisa jadi ia
sedang mengadukan nasib tak ramah yang menjadi takdirnya. Hingga airmatanya jatuh
di atas alas sembahyang.
Membaca
sajak yang berjudul “doa” di atas, saya ingat percakapan saya dengan Ahmad
Tohari beberapa puluh tahun lalu. Penulis Ronggeng Dukuh Paruk itu mengatakan
seorang sastrawan harus mempunyai kepekaan dalam melihat sesuatu. Ia harus
berbeda dengan kebanyakan orang dalam melihat sebuah peristiwa. Ia mencontohkan
jika ada seekor ular makan kodok, misalnya. Mungkin bagi orang kebanyakan itu
kejadian biasa. Tidak aneh. Tidak ada yang ganjil. Tidak perlu dibicarakan
apalagi menjadi tulisan. Tapi, bagi seorang sastrawan tidaklah demikian. Bagi
seorng sastrawan peristiwa ini bisa banyak makna. Bukan sekedar rutinitas alam.
Bukan hanya bicara antara seekor pemangsa dan mangsanya. Atau sebatas kehidupan
ular dan kodok.
Begitulah,
Nanang Ribut Supriyatin. Penyair ini berusaha menangkap peristiwa yang dilihat
dan disaksikannya untuk diabadikan dalam sajak. Memang dari 105 sajak yang
terdapat dalam kumpulan puisi “Bibir Dalam Jas Hujan” sepertinya mengangkat
peristiwa “biasa”. Tetapi, justru disitulah letak kekuatan sajak-sajak Nanang
Ribut Supriyatin. Pembaca tidak harus mengingat sebuah “peristiwa besar” untuk
bisa manikmati sajak-sajaknya. Karena yang ditulisnya ada di sekitar pembaca,
yang tidak pernah terpikirkan oleh kita.
Pun,
pembaca tidak harus memahami teori tentang puisi atau susastra. Tidak mesti
belajar tentang macam-macam gaya bahasa untuk menikmati “Bibir Dalam Jas
Hujan”. Sebab sajak-sajak yang ada disini mudah dikunyah, renyah, cair, gampang
dicerna, tidak menggunakan diksi yang rumit, atau metafora yang nyleneh. Meskipun
demikian, sajak-sajak Nanang Ribut Supriyatin tetap mempunyai daya pikat
tersendiri. Bisa menghibur dan bisa menjadi bahan kontemplasi.
Dan,
yang pasti, “Bibir dalam Jas Hujan” memang patut diperhitungkan sebagai sebuah
bacaan bagi jiwa-jiwa yang haus kedamaian di tengah hiruk pikuk suburnya rasa
saling curiga dan saling menghina, di tengah-tengah keterpurukan akhlaqul Karimah masyarakat kita.*** Humam S. Chudori, penulis novel Shobrun
Jamil serta sejumlah novel (Islami), tinggal di Tangerang Selatan.
Judul :
Bibirr Dalam Jas Hujan (kumpulan Puisi)
Pengarang : Nanang Ribut Supriyatin
Penerbit : Kosa Kata Kita, Jakarta
Cetakan : pertama / Juli 2018
Isbn : 978-602-6447-56-2
Jumlah Halaman: 108 + vi
Harga : Rp. 50.000/eksemplar (belum termasuk Ongkir)
Yang berminat silakan hubungi:
Pengarang : Nanang Ribut Supriyatin
Penerbit : Kosa Kata Kita, Jakarta
Cetakan : pertama / Juli 2018
Isbn : 978-602-6447-56-2
Jumlah Halaman: 108 + vi
Harga : Rp. 50.000/eksemplar (belum termasuk Ongkir)
Yang berminat silakan hubungi:
Siti Akhlaqul Karimah sms/wa 08993792617

No comments:
Post a Comment