Kumpulan Puisi Hadi Sastra: Simfoni Buat Istriku
MENSYUKURI NIKMAT ALLAH LEWAT BUKU
PUISI
Tak ada definisi yang tepat untuk mendiskripsikan kata
CINTA. Memang. Secara umum, kamus memberi arti kata ini a.l.: asmara, kama (sanskerta),
kasih sayang, kemesraan, dan seterusnya. Namun, pendefinisian tersebut sangat
jauh untuk bisa dikatakan mewakili makna tentang hakikat cinta. Dengan kata
lain, sulit untuk mencari padanan kata yang tepat terhadap kata ini.
Sebab cinta merupakan totalitas dari keindahan,
kebahagiaan, pengorbanan, pengabdian, saling berbagi rasa, saling percaya,
saling melengkapi, saling melindungi, saling melayani, saling memahami, saling
pengertian, harapan, cita-cita, rasa simpati, perhatian, dan masih banyak lagi.
Singkat kata rasa cinta adalah sesuatu yang tidak pernah membosankan.
Ungkapan rasa cinta ini, saking sulitnya untuk dijelaskan dengan kata-kata, seringkali ungkapan
cinta dilambangkan dengan memberikan bunga. Tanaman ini dianggap mewakili rasa
cinta yang ingin disampaikan kepada orang lain. Sebab bunga itu indah, wangi,
penuh warna, sedap dipandang mata, menyenangkan, inspiratif, dan tidak
membosankan. Pemberian bunga ini, tentu saja, bukan hanya antara pria terhadap
wanita atau sebaliknya. Melainkan antara orangtua kepada anak atau sebaliknya
(ketika hari ulangtahun, misalnya), terhadap orang yang tengah terbaring di rumah sakit,
kepada orang yang tengah merayakan kebahagiaan (pernikahan, umpamanya), bahkan
ketika ada orang yang mendapatkan musibah kematian bunga bisa mewakili ucapan
belasungkawa alias bentuk simpati.
Tulisan ini, tentu saja, tidak hendak membahas masalah
cinta. Melainkan ingin menyoroti sajak-sajak cinta yang ditulis oleh Hadi
Sastra dalam buku ini. Buku yang berisikan 72 sajak. Meskipun diberi judul
“Simfoni Buat Istri” tetapi tidak semua sajak yang ada ditujukan untuk istri.
Melainkan juga terhadap orang-orang yang terdekat dengan sang penyair. Kepada
mereka yang dicintainya.
Dengan caranya sendiri, Hadi Sastra menerjemahkan makna
hakekat cinta dalam larik-larik puisi yang memikat. Dengan judul Cinta (1 hingga
12), penyair dengan kalimat-kalimat yang sederhana, bersahaja, penuh makna, dan
– tentu saja – sangat puitis mengungkapkan makna cinta. Meskipun tanpa harus
menggunakan bahasa ‘langit’, kalimat yang mengawang-awang, dengan metafora yang
sulit dicerna, atau kata-kata bersayap yang rumit dipahami.
Sebab diakui atau tidak, keindahan sebuah sajak tak berarti harus ‘gelap’
seperti yang pernah terjadi (dan diyakini sebagian penyair ) beberapa tahun
lalu. Buktinya penyair ‘binatang jalang’ alias Chairil Anwar atau penyair
burung merak yang kita kenal dengan W.S
Rendra. Sajak-sajak mereka tetap menarik, bernas, cerdas, implimentatif,
rekreatif, inspiratif, kontemplatif, dan
mampu memberikan pencerahan bagi pembacanya. Ya, hampir semua sajak yang
ditulis oleh dua penyair yang saya sebut di atas tak pernah menggunakan kalimat-kalimat mutasyabihat. Kata-kata yang digunakan
lugas, jelas, tegas, bersahaja. Toh sajak-sajak mereka tetap menarik untuk
dibaca, dikaji, dibicarakan, dan dijadikan bahan diskusi yang tak pernah
membosankan.
Demikian pula dengan sajak-sajak Hadi Sastra. Tanpa harus menggunakan
kata-kata rumit tetapi mampu mengungkapkan sesuatu yang sulit terungkap. Yakni
mengurai kata cinta yang selama ini masih banyak orang yang tidak mampu
mengutarakannya. Melainkan cukup mewakilkan perasaannya melalui bunga. Karena
cinta bisa berarti kesetiaan. Sesuatu yang dilakukan berulang-ulang dengan
tanpa pamrih. Simaklah bait-bait berikut ini:
Dan/ induk kucing yang menjilati/
sekujur tubuh anaknya/ dengan lembut dan penuh kasih/ di situlah, cinta (halaman 8).
Cinta juga bisa berarti perjuangan dan pengorbanan untuk sesuatu yang
dicintainya.
Dan/ induk ayam yang kosongkan
perut/ hingga duapuluhan hari lamanya/ demi menyambung garis silsilah/ di
situlah, cinta (halaman 7)
Cinta bisa bermakna tanggungjawab.
Dan/ pagi ini aku saksikan seorang
ayah/ sehelai demi sehelai lucuti pakaian anak/ dengan sentuhan kasih basuh
sekujur tubuh anak itu/ aroma wewangian sabun dan shampoo/ diiringi dendang dan
kelembutan/ di situlah, cinta
(halaman 10)
Cinta dapat pula diterjemahkan sebagai atensi.
Dan/ aku saksikan lagi di pagi ini/
lelaki kecil dua belas tahun/ temani dan asuh sang adik/ dengan canda dan tawa
ria/ biarkan ibu memulai hari / di situlah, cinta (halaman 11)
Dan, karena cinta pula akan selalu menciptakan keindahan.
Dan/ seekor ulat merayap/ pada
seutas ranting/ lalu nasib menggariskan/ pasrahkan diri menjelma rupa/ dan
sejurus dalam hitungan/ mengapung dengan anggun kupu-kupu elok/ di situlah
cinta (halaman 9)
Menarik, memang. Hadi Sastra mampu melukiskan cinta dengan berbagai makna
yang hakiki. Kendati sebetulnya 12 sajak yang berjudul Cinta dalam buku ini belum
sepenuhnya dapat menjelaskan keutuhan maknanya. Tetapi, paling tidak sudah
dapat mewakili arti kata cinta.
Sebagai seorang penyair, Hadi Sastra tidak memberikan bunga sebagai
ungkapan cinta kepada orang-orang yang terdekatnya. Atas kesadaran bahwa
dirinya mendapatkan anugerah Tuhan (baca: diberi kemampuan menulis sajak). Maka
Hadi Sastra mensyukurinya dengan menulis sajak tentang cinta dan dibukukan
dalam “Simfoni Buat Istri”.
***
Rasulullah pernah bersabda, “Al Jannatu tahta aqdaamil ummahaati” – Sorga
terletak di bawah telapak kaki ibu. Apa
yang dinyatakan baginda Kanjeng Nabi Muhammad ini, tentu saja, bukanlah kalimat
muhkamat. Bukan makna kontekstual. Melainkan hanya
sebuah majaz. Karena surga yang dimaksud di sini bukan hanya merupakan tempat
terindah – yang tak mungkin bisa dibayangkan dalam hati, belum pernah terlihat
mata, belum pernah didengar oleh telinga, dan tak mungkin bisa diangankan dalam
pikiran (demikian pernah dinyatakan oleh para ahli sufi) – yang ada di akherat kelak. Melainkan juga bisa
dimaknai kehidupan di dunia yang penuh dengan ketenangan, ketenteraman,
keindahan, kedamaian, menimbulkan semangat spiritualisme yang selalu
mengokohkan ketergantungan hidup hanya kepada Allah. Hingga tak ada napas syirik dalam menjalani hidup ini.
Memang. Rasulullah
tak pernah menjelaskan kenapa sampai beliau bersabda demikian. Lewat sajaknya
yang berjudul “Ode Bagi Perempuan Baja” Hadi Sastra berusaha menafsirkan
alasannya. Simaklah (salah satu) baitnya berikut ini:
Perempuan/ yang telah berkali-kali menyabung nyawa/ demi
menyelamatkan satu demi satu nyawa-nyawa baru/ pada masa-masa yang menyelang
jarak/ sesuai kadarnya nyawa baru bersemayam/ dalam kungkungan rahim/ kemudian
dalam hitungan yang matang/ nyawa baru itu merayap/ menyusuri liang jingga/
pasrah sukma dan sisa-sisa tenaga/ bersama banjir darah/ senandung doa dan
airmata/ hingga/ berakhir pertaruhan dahsyat itu/ babak baru pun dimulai/
dengan hadirnya sosok tubuh mungil/ yang menyapa dengan tangisan/ simpul
kemenangan mengisi ruang batin
(halaman 84)
Penggalan sajak di
atas, hanyalah menggambarkan sebagian (kecil) perjuangan seorang ibu saat
mempertaruhkan nyawa. Merefleksikan sebagian cintanya kepada sang buah hati.
Padahal jauh sebelum berjuang ‘menyabung’ nyawa seorang ibu sudah mengejawantahkan cintanya. Sejak rahim sang ibu kehadiran calon buah
cintanya. Hingga sang buah hati lahir. Ini baru sebagian babak dari manifestasi
cinta sang ibu.
Sebab setelah buah
cintanya terlahir, bukan berarti ia kehilangan cintanya. Tetapi ia tetap harus
memupuk cintanya kepada sang anak. Bukan hanya saat anak bayi – ketika sang
anak masih menyusui – melainkan sampai sang anak dewasa. Sampai buah hati bisa
hidup mandiri.
Satu hal yang patut
kita renungkan dalam sajak “Ode Bagi Perempuan Baja” yakni pada bait berikut
ini:
Kau/ perempuan bajaku/ maafkanlah aku/ maafkan!/ belum
bisa membalas senyummu
Benar. Jika kita
mencoba menafakuri cinta (baca; jasa) seorang ibu. Maka, diakui atau tidak, apa
yang dinyatakan Hadi Sastra dalam sajaknya. Sekedar membalas senyum ibu pun
belum tentu kita mampu.
Tentu saja, yang
dimaksud senyum di sini, sesuatu yang dapat membahagiakan orangtua – terutama
ibu. Bahkan seringkali ada anak yang salah menafsirkan kebahagiaan dengan
sesuatu yang diukur dengan materi. Cinta ibu tak bisa dibeli dengan materi. Bahkan sekalipun
yang bersangkutan kaya raya secara materi. Sebab betapa
pun banyaknya materi tak pernah bisa
sebanding dengan ridho orangtua. Padahal keridhoan Allah (terletak) pada keridhoan ibu dan bapak
dan kemurkaan Allah (terletak)
pada kemurkaan ibu dan bapak. – ridhollah
fii ridhol walidaini wa suhtthillah fii suhthil walidaini.
Bicara tentang
cinta ibu ini, tak kalah menariknya untuk kita simak sajak Hadi Sastra yang berjudul “Sajak Cinta Untuk
Emak.” Bagaimana tidak, sang penyair mampu melukiskan seorang ibu yang tak
pernah mengeluh ketika mengejawahkan cintanya. Kendati berbagi aral, rintangan,
penderitaan, kesedihan, stressing,
dan perasaan tidak mengenakkan lain dialaminya. Tetapi, sang ibu tak pernah
mengeluh dan selalu tersenyum. Ia tak ingin berbagi keluh kesah kepada sang
buah cintanya.
Sayangnya, tidak
semua orang menyadarinya. Bahkan perjuangan ibu acapkali
dianggap sebagai sesuatu yang bersifat kodrati. Bahwa
seorang ibu harus berbuat demikian. Alam menggariskan
telah menggariskan takdir
ini. Yang dilakukan seorang ibu dinilai sebagai sesuatu yang
meniscaya. Bukan ejawantah cinta.
Penggalan “Sajak
Cinta Untuk Emak,” di bawah ini menyadarkan kita bahwa jika ibu tersenyum bukan
berarti beliau tidak sedang mengalami penderitaan. Hanya saja derita yang
dialaminya mampu dibungkusnya dalam ekspresi cinta dengan mengulumkan senyuman.
Mak/ aku tahu/ kau selalu sembunyikan perihmu/ diatas
senyum yang kau
paksakan/ di atas kilau cahaya cinta/ cinta yang tak pernah redup darimu/ untuk
kami dan anak-anakmu .. (halaman 88).
Andaikata setiap
anak memahami cinta ibu. Saya dapat pastikan tak pernah ada anak yang mem’panti
wreda’ kan seorang ibu. Meski kekayaannya berlimpah. Apalagi sampai berani memperkarakan ibunya (bahkan menuntut sang ibu
dengan tuntutan ganti rugi satu milyar) ke ranah hukum. Seperti yang pernah terjadi beberapa waktu
yang lalu.
***
Meskipun kumpulan sajak ini diberi
judul “Simfoni Buat Isrtiku”. Namun, sajak yang berjudul demikian justru
diletakkan pada urutan terakhir. Saya yakin Hadi Sastra punya alasan tersendiri
menempatkan sajak ini demikian.
Penempatan sajak ini, di urutan
terakhir, saya menduga karena kebahagiaan seseorang adalah ketika mendapatkan istri
yang salehah. Karena Rasulullah menyatakan, “dunia ini adalah perhiasan, dan
sebaik-baik perhiasan adalah istri yang salehah.”
Nah, bagaimana mungkin seorang
anak bisa mendapatkan istri yang salehah jika tak mendapat
ridho dari orangtua. Barangkali itu sebabnya Hadi Sastra menempatkan “Simfoni
Buat Istriku” pada urutan puncak pada buku kumpulan sajak ini.
Simaklah penggalan sajak ini pada
bait terakhirnya:
…..
Maka/ yakinlah padaku/ yang selalu memeluk cintamu/ lalu/ kokoh cinta
kita/ mampu menerjang segala badai/ hingga riuh dermaga/ menyambutnya
(halaman 91).
Membaca keseluruhan sajak yang ada
di buku ini, saya membayangkan seorang anak yang mampu memahami keutuhan cinta.
Bahwa cinta sejati tolok ukurnya adalah kesetiaan, pengorbanan, perjuangan,
keindahan, harapan, dan seterusnya. Puncak dari semua manifestasi adalah
kebahagiaan. Dan, yang perlu kita sadari, kebahagiaan tak ada hubungannya
dengan kekayaan (materi) yang dimiliki seseorang.
Bukankah
Rasulullah pernah bersabda ‘Arbaunn min
sa’aadatil mar ‘i an takuuna zau jatuhu
shoo lihatan wa aw laaduhu abroron wa khulathoo ‘uhu shoolihiina wa an yakuuna
rizquhu fii baladihi – Ada empat perkara yang membahagiakan seseorang:
istrinya yang saleh, anak-anaknya yang baik, teman sepergaulannya orang-orang
yang saleh, dan rezekinya di negeri sendiri.
Allah berfirman -
la in syakartum la adzidan nakum,
wa la in kafartum inna adzabin la syadid. Maka, Hadi Sastra yang sudah
mendapatkan nikmat dari-Nya (memperoleh cinta dari orang-orang terdekatnya).
Sebagai seorang penyair, ia berusaha merefleksikan rasa syukurnya dengan
menerbitkan buku kumpulan sajak ini.
Rasa syukur itu bukan hanya akan
melipatgandakan nikmat dari-Nya.
Melainkan juga sebagai refleksi syukur terhadap diri sendiri. Wa man yasykur fa innama yasykuru linafsihi.
Demikian firman Allah. Bukankah demikian?***Humam
S. Chudori, novelis dan aktivis KSI,
tinggal di Tangerang Selatan.

No comments:
Post a Comment