Tuesday, July 17, 2018

ulasan kumpulan puisi Bibir dalam Jas Hujan karya Nanang R. Supriyatin



Kumpulan Puisi Nanang Ribut Supriyatin, “Bibir Dalam Jas Hujan”
·         Oase di tengah kegersangan jiwa kita

Segala sesuatu yang (sebetulnya) biasa  saja. Tidak istimewa. Bahkan  (mungkin) tak menarik  dibicarakan,  apalagi untuk ditulis, pada masyarakat kebanyakan. Namun,  di tangan seorang penyair ia bisa menjadi sesuatu yang menarik untuk ditulis.  Dikemas dengan indah dalam sajak yang menarik. Menjadi sajak yang enak untuk dinikmati dan membuka mata hati.
Diakui atau tidak, sajak yang bagus, menarik, layak baca, dan pantas dibicarakan – tak harus – mengusung tema-tema besar. Tidak jarang sebuah sajak sangat menarik dan menjadi pembicaraan masyarakat bukan karena tema besar yang diusungnya. Melainkan hal-hal yang sederhana. Sesuatu yang terjadi atau benda yang ada di sekitar kita. Atau peristiwa-peristiwa yang acap kita alami, namun tak pernah kita sadari bahwa ada hal yang sangat pantas untuk dijadikan kajian. Hingga perlu untuk diabadikan dalam sebuah tulisan. Sebutlah sajak yang ditulis oleh  Toto Sudarto Bahtiar yang bercerita seorang peminta-minta, misalnya. Bukankah kehidupan seorang peminta-minta merupakan kehidupan biasa? Apa istimewanya perjalanan hidup seorang pengemis. Tidak ada. Tapi, bagi Toto Sudarto Bahtiar kehidupan seorang tuna karya bisa menjadi “obyek” yang pantas diabadikan dalam sajak. Dan, ia tuliskan dalam sajak yang bertajuk “Gadis Peminta-minta”.
Tak berbeda dengan Nanang Ribut Supriyatin, kelahiran Jakarta 6 Agustus 1962, penyair ini sangat konsisten untuk mengangkat hal-hal yang mungkin (dianggap) sepele bagi orang lain dalam sajak-sajak yang ditulisnya. Penyair ini juga jarang sekali menggunakan metafora yang njlimet, meskipun demikian kata-kata yang digunakan tetap puitis walau tanpa bergenit-genit dengan gaya bahasa, nyaris tidak ada gaya bahasa pleonasme, eufimisme, hyperbola, sinisme, apalagi yang bernada sarkastik.
Menarik untuk dicatat, sajak-sajak Nanang tetap mengalir wajar, bahasanya renyah, kalimat-kalimatnya cair, untuk menikmatinya tidak harus mengerutkan dahi. Namun, sajak-sajaknya mampu menggugah batin untuk kaji diri.
Simaklah sajak di bawah ini:
CERMIN

cermin pada bingkai akhirnya retak. seperti sebuah dinding, bertahun-tahun terjaga dan tanpa kau sadari sedikit demi sedikit luruh bersama waktu.

seperti sebuah bangunan. sekuat apapun, akan runtuh juga. dan kau bertanya, sekuat apa tubuh dari daging? setahan apa tubuh dari tulang?

cermin pada bingkai memberi tanda. kerut di wajah. uban di kepala. usia kian senja. tak tau, setiap detik maut mengurai rindu?

(halaman: 10)

Sajak di atas mengingatkan pembaca akan datangnya suatu peristiwa yang pasti akan dialami setiap insan. Kematian. Ya, karena rahman dan rahim-Nya. Manusia diberi peringatan dalam bentuk perubahan fisik. Dengan adanya perubahan fisik, manusia seharusnya tersadarkan bahwa ‘jatah’ usianya di dunia tidak lama lagi saat berdiri di depan cermin. Sudah waktunya bersiap-siap untuk dijemput Izroil. Namun, tanda-tanda yang diberikan Tuhan seringkali justru diupayakan untuk dilupakan. Kerapuhan tulang, kekendoran daging, keriputnya (kulit) wajah, ringkihnya tubuh,, dan perubahan warna rambut tidak serta merta akan menyadarkan manusia akan sisa usia yang masih diberikan Tuhan.

Tak heran jika tidak sedikiit di antara kita ada yang mencoba memperhalus wajahnya (agar hilang keriputnya) bahkan jika perlu melakukan operasi plastik agar tetap (terlihat) cantik layaknya remaja. Rambut dicat dengan warna hitam supaya tidak tampak tua di mata orang lain.  Padahal tampilan semacam ini justru menipu. Dan, sajak cermin merupakan kejujuran hati nurani yang tak mungkin membohongi diri  sendiri.
***
Seseorang yang tengah melaksanakan shalat sendiri pada sebuah masjid, memang, bukan sesuatu yang aneh. Tidak menarik untuk dibicarakan, karena hal itu bukan sebuah peristiwa yang luar biasa. Apa hebatnya orang yang bersembahyang di sebuah masjid. Sebab perbuatan ini menjadi sesuatu yang banyak dilakukan orang. Setiap saat bisa kita saksikan orang yang bersembahyang. Tetapi, di mata Nanang Ribut Supriyatin peristiwa ini menjadi menarik saat  diangkat dalam sebuah sajak.

Simaklah bait beritkut ini.
.........
di ruang tak berpenghuni, lelaki sendiri menangisi hidup. ada airmata jatuh di atas sajadah!
...........
Judul sajak Doa, halaman 13

Pada sajak di atas, Nanang Ribut Supriyatin tak memakai kata masjid, musholla, langgar, surau, tempat ibadah, atau pun rumah Tuhan. Namun, “ruang tak berpenghuni”. Bukankah masjid memang tak ada penghuninya. Tidak ada orang yang tinggal di tempat ibadah itu. Dan, tempat ibadah yang dimaksud – tentu saja – bukan gereja, vihara, klenteng, pura, atau kuil. Sebab di sana ada kata “sajadah’. Dan, sajadah tak mungkkin ada di tempat ibadah lain. Kecuali masjid.

Pun,  kata “sajadah” sudah cukup menjelaskan bahwa lelaki itu tengah beribadah (mungkin sedang menyesali dosa-dosanya). Atau bisa jadi ia sedang mengadukan nasib tak ramah yang menjadi takdirnya. Hingga airmatanya jatuh di atas alas sembahyang.

Membaca sajak yang berjudul “doa” di atas, saya ingat percakapan saya dengan Ahmad Tohari beberapa puluh tahun lalu. Penulis Ronggeng Dukuh Paruk itu mengatakan seorang sastrawan harus mempunyai kepekaan dalam melihat sesuatu. Ia harus berbeda dengan kebanyakan orang dalam melihat sebuah peristiwa. Ia mencontohkan jika ada seekor ular makan kodok, misalnya. Mungkin bagi orang kebanyakan itu kejadian biasa. Tidak aneh. Tidak ada yang ganjil. Tidak perlu dibicarakan apalagi menjadi tulisan. Tapi, bagi seorang sastrawan tidaklah demikian. Bagi seorng sastrawan peristiwa ini bisa banyak makna. Bukan sekedar rutinitas alam. Bukan hanya bicara antara seekor pemangsa dan mangsanya. Atau sebatas kehidupan ular dan kodok.

Begitulah, Nanang Ribut Supriyatin. Penyair ini berusaha menangkap peristiwa yang dilihat dan disaksikannya untuk diabadikan dalam sajak. Memang dari 105 sajak yang terdapat dalam kumpulan puisi “Bibir Dalam Jas Hujan” sepertinya mengangkat peristiwa “biasa”. Tetapi, justru disitulah letak kekuatan sajak-sajak Nanang Ribut Supriyatin. Pembaca tidak harus mengingat sebuah “peristiwa besar” untuk bisa manikmati sajak-sajaknya. Karena yang ditulisnya ada di sekitar pembaca, yang tidak pernah terpikirkan oleh kita.

Pun, pembaca tidak harus memahami teori tentang puisi atau susastra. Tidak mesti belajar tentang macam-macam gaya bahasa untuk menikmati “Bibir Dalam Jas Hujan”. Sebab sajak-sajak yang ada disini mudah dikunyah, renyah, cair, gampang dicerna, tidak menggunakan diksi yang rumit, atau metafora yang nyleneh. Meskipun demikian, sajak-sajak Nanang Ribut Supriyatin tetap mempunyai daya pikat tersendiri. Bisa menghibur dan bisa menjadi bahan kontemplasi.

Dan, yang pasti, “Bibir dalam Jas Hujan” memang patut diperhitungkan sebagai sebuah bacaan bagi jiwa-jiwa yang haus kedamaian di tengah hiruk pikuk suburnya rasa saling curiga dan saling menghina, di tengah-tengah keterpurukan akhlaqul Karimah masyarakat kita.*** Humam S. Chudori, penulis novel Shobrun Jamil serta sejumlah novel (Islami), tinggal di Tangerang Selatan.




Judul : Bibirr Dalam Jas Hujan (kumpulan Puisi)
Pengarang : Nanang Ribut Supriyatin
Penerbit : Kosa Kata Kita, Jakarta
Cetakan : pertama / Juli 2018
Isbn : 978-602-6447-56-2
Jumlah Halaman: 108 + vi
Harga : Rp. 50.000/eksemplar (belum termasuk Ongkir)
Yang berminat silakan hubungi:

Siti Akhlaqul Karimah sms/wa 08993792617

Monday, July 2, 2018

kumpulan puisi Hadi Sastra: Simfoni buat istriku. menysukuri nikmat Allah lewat buku puisi


Kumpulan Puisi Hadi Sastra: Simfoni Buat Istriku
MENSYUKURI NIKMAT ALLAH LEWAT BUKU PUISI
            Tak ada definisi yang tepat untuk mendiskripsikan kata CINTA. Memang. Secara umum, kamus memberi arti kata ini a.l.: asmara, kama (sanskerta), kasih sayang, kemesraan, dan seterusnya. Namun, pendefinisian tersebut sangat jauh untuk bisa dikatakan mewakili makna tentang hakikat cinta. Dengan kata lain, sulit untuk mencari padanan kata yang tepat terhadap kata ini.
            Sebab cinta merupakan totalitas dari keindahan, kebahagiaan, pengorbanan, pengabdian, saling berbagi rasa, saling percaya, saling melengkapi, saling melindungi, saling melayani, saling memahami, saling pengertian, harapan, cita-cita, rasa simpati, perhatian, dan masih banyak lagi. Singkat kata rasa cinta adalah sesuatu yang tidak pernah membosankan.
            Ungkapan rasa cinta ini, saking sulitnya untuk dijelaskan dengan kata-kata, seringkali ungkapan cinta dilambangkan dengan memberikan bunga. Tanaman ini dianggap mewakili rasa cinta yang ingin disampaikan kepada orang lain. Sebab bunga itu indah, wangi, penuh warna, sedap dipandang mata, menyenangkan, inspiratif, dan tidak membosankan. Pemberian bunga ini, tentu saja, bukan hanya antara pria terhadap wanita atau sebaliknya. Melainkan antara orangtua kepada anak atau sebaliknya (ketika hari ulangtahun, misalnya), terhadap orang yang tengah terbaring di rumah sakit, kepada orang yang tengah merayakan kebahagiaan (pernikahan, umpamanya), bahkan ketika ada orang yang mendapatkan musibah kematian bunga bisa mewakili ucapan belasungkawa alias bentuk simpati.
            Tulisan ini, tentu saja, tidak hendak membahas masalah cinta. Melainkan ingin menyoroti sajak-sajak cinta yang ditulis oleh Hadi Sastra dalam buku ini. Buku yang berisikan 72 sajak. Meskipun diberi judul “Simfoni Buat Istri” tetapi tidak semua sajak yang ada ditujukan untuk istri. Melainkan juga terhadap orang-orang yang terdekat dengan sang penyair. Kepada mereka yang dicintainya.
            Dengan caranya sendiri, Hadi Sastra menerjemahkan makna hakekat cinta dalam larik-larik puisi yang memikat. Dengan judul Cinta (1 hingga 12), penyair dengan kalimat-kalimat yang sederhana, bersahaja, penuh makna, dan – tentu saja – sangat puitis mengungkapkan makna cinta. Meskipun tanpa harus menggunakan bahasa ‘langit’, kalimat yang mengawang-awang, dengan metafora yang sulit dicerna, atau kata-kata bersayap yang rumit dipahami.
Sebab diakui atau tidak, keindahan sebuah sajak tak berarti harus ‘gelap’ seperti yang pernah terjadi (dan diyakini sebagian penyair ) beberapa tahun lalu. Buktinya penyair ‘binatang jalang’ alias Chairil Anwar atau penyair burung merak yang kita kenal dengan W.S  Rendra. Sajak-sajak mereka tetap menarik, bernas, cerdas, implimentatif, rekreatif, inspiratif, kontemplatif, dan mampu memberikan pencerahan bagi pembacanya. Ya, hampir semua sajak yang ditulis oleh dua penyair yang saya sebut di atas tak pernah menggunakan kalimat-kalimat mutasyabihat. Kata-kata yang digunakan lugas, jelas, tegas, bersahaja. Toh sajak-sajak mereka tetap menarik untuk dibaca, dikaji, dibicarakan, dan dijadikan bahan diskusi yang tak pernah membosankan.
Demikian pula dengan sajak-sajak Hadi Sastra. Tanpa harus menggunakan kata-kata rumit tetapi mampu mengungkapkan sesuatu yang sulit terungkap. Yakni mengurai kata cinta yang selama ini masih banyak orang yang tidak mampu mengutarakannya. Melainkan cukup mewakilkan perasaannya melalui bunga. Karena cinta bisa berarti kesetiaan. Sesuatu yang dilakukan berulang-ulang dengan tanpa pamrih. Simaklah bait-bait berikut ini:
Dan/ induk kucing yang menjilati/ sekujur tubuh anaknya/ dengan lembut dan penuh kasih/ di situlah, cinta (halaman 8).
Cinta juga bisa berarti perjuangan dan pengorbanan untuk sesuatu yang dicintainya.
Dan/ induk ayam yang kosongkan perut/ hingga duapuluhan hari lamanya/ demi menyambung garis silsilah/ di situlah, cinta (halaman 7)
Cinta bisa bermakna tanggungjawab.
Dan/ pagi ini aku saksikan seorang ayah/ sehelai demi sehelai lucuti pakaian anak/ dengan sentuhan kasih basuh sekujur tubuh anak itu/ aroma wewangian sabun dan shampoo/ diiringi dendang dan kelembutan/ di situlah, cinta (halaman 10)
Cinta dapat pula diterjemahkan sebagai atensi.
Dan/ aku saksikan lagi di pagi ini/ lelaki kecil dua belas tahun/ temani dan asuh sang adik/ dengan canda dan tawa ria/ biarkan ibu memulai hari / di situlah, cinta (halaman 11)
Dan, karena cinta pula akan selalu menciptakan keindahan.
Dan/ seekor ulat merayap/ pada seutas ranting/ lalu nasib menggariskan/ pasrahkan diri menjelma rupa/ dan sejurus dalam hitungan/ mengapung dengan anggun kupu-kupu elok/ di situlah cinta (halaman 9)
Menarik, memang. Hadi Sastra mampu melukiskan cinta dengan berbagai makna yang hakiki. Kendati sebetulnya 12 sajak yang berjudul Cinta dalam buku ini belum sepenuhnya dapat menjelaskan keutuhan maknanya. Tetapi, paling tidak sudah dapat mewakili arti kata cinta.
Sebagai seorang penyair, Hadi Sastra tidak memberikan bunga sebagai ungkapan cinta kepada orang-orang yang terdekatnya. Atas kesadaran bahwa dirinya mendapatkan anugerah Tuhan (baca: diberi kemampuan menulis sajak). Maka Hadi Sastra mensyukurinya dengan menulis sajak tentang cinta dan dibukukan dalam “Simfoni Buat Istri”.
***
Rasulullah pernah bersabda, Al Jannatu tahta aqdaamil ummahaati” – Sorga terletak di bawah telapak kaki ibu.  Apa yang dinyatakan baginda Kanjeng Nabi Muhammad ini, tentu saja, bukanlah kalimat muhkamat.  Bukan makna kontekstual. Melainkan hanya sebuah majaz. Karena surga yang dimaksud di sini bukan hanya merupakan tempat terindah – yang tak mungkin bisa dibayangkan dalam hati, belum pernah terlihat mata, belum pernah didengar oleh telinga, dan tak mungkin bisa diangankan dalam pikiran (demikian pernah dinyatakan oleh para ahli sufi) – yang ada di akherat kelak. Melainkan juga bisa dimaknai kehidupan di dunia yang penuh dengan ketenangan, ketenteraman, keindahan, kedamaian, menimbulkan semangat spiritualisme yang selalu mengokohkan ketergantungan hidup hanya kepada Allah. Hingga tak ada napas syirik dalam menjalani hidup ini.
Memang. Rasulullah tak pernah menjelaskan kenapa sampai beliau bersabda demikian. Lewat sajaknya yang berjudul “Ode Bagi Perempuan Baja” Hadi Sastra berusaha menafsirkan alasannya. Simaklah (salah satu) baitnya berikut ini:
Perempuan/ yang telah berkali-kali menyabung nyawa/ demi menyelamatkan satu demi satu nyawa-nyawa baru/ pada masa-masa yang menyelang jarak/ sesuai kadarnya nyawa baru bersemayam/ dalam kungkungan rahim/ kemudian dalam hitungan yang matang/ nyawa baru itu merayap/ menyusuri liang jingga/ pasrah sukma dan sisa-sisa tenaga/ bersama banjir darah/ senandung doa dan airmata/ hingga/ berakhir pertaruhan dahsyat itu/ babak baru pun dimulai/ dengan hadirnya sosok tubuh mungil/ yang menyapa dengan tangisan/ simpul kemenangan mengisi ruang batin (halaman 84)
Penggalan sajak di atas, hanyalah menggambarkan sebagian (kecil) perjuangan seorang ibu saat mempertaruhkan nyawa. Merefleksikan sebagian cintanya kepada sang buah hati. Padahal jauh sebelum berjuang ‘menyabung’ nyawa seorang ibu sudah mengejawantahkan cintanya. Sejak rahim sang ibu kehadiran calon buah cintanya. Hingga sang buah hati lahir. Ini baru sebagian babak dari manifestasi cinta sang ibu.
Sebab setelah buah cintanya terlahir, bukan berarti ia kehilangan cintanya. Tetapi ia tetap harus memupuk cintanya kepada sang anak. Bukan hanya saat anak bayi – ketika sang anak masih menyusui – melainkan sampai sang anak dewasa. Sampai buah hati bisa hidup mandiri.
Satu hal yang patut kita renungkan dalam sajak “Ode Bagi Perempuan Baja” yakni pada bait berikut ini:
Kau/ perempuan bajaku/ maafkanlah aku/ maafkan!/ belum bisa membalas senyummu
Benar. Jika kita mencoba menafakuri cinta (baca; jasa) seorang ibu. Maka, diakui atau tidak, apa yang dinyatakan Hadi Sastra dalam sajaknya. Sekedar membalas senyum ibu pun belum tentu kita mampu.
Tentu saja, yang dimaksud senyum di sini, sesuatu yang dapat membahagiakan orangtua – terutama ibu. Bahkan seringkali ada anak yang salah menafsirkan kebahagiaan dengan sesuatu yang diukur dengan materi. Cinta ibu tak bisa dibeli dengan materi. Bahkan sekalipun yang bersangkutan kaya raya secara materi. Sebab betapa pun banyaknya materi tak pernah bisa sebanding dengan ridho orangtua. Padahal keridhoan Allah (terletak) pada keridhoan ibu dan bapak dan kemurkaan Allah (terletak) pada kemurkaan ibu dan bapak. – ridhollah fii ridhol walidaini wa suhtthillah fii suhthil walidaini. 
Bicara tentang cinta ibu ini, tak kalah menariknya untuk kita simak sajak  Hadi Sastra yang berjudul “Sajak Cinta Untuk Emak.” Bagaimana tidak, sang penyair mampu melukiskan seorang ibu yang tak pernah mengeluh ketika mengejawahkan cintanya. Kendati berbagi aral, rintangan, penderitaan, kesedihan, stressing, dan perasaan tidak mengenakkan lain dialaminya. Tetapi, sang ibu tak pernah mengeluh dan selalu tersenyum. Ia tak ingin berbagi keluh kesah kepada sang buah cintanya.
Sayangnya, tidak semua orang menyadarinya. Bahkan perjuangan ibu acapkali dianggap sebagai sesuatu yang bersifat kodrati. Bahwa seorang ibu harus berbuat demikian. Alam menggariskan telah menggariskan takdir ini. Yang dilakukan seorang ibu dinilai sebagai sesuatu yang meniscaya. Bukan ejawantah cinta.
Penggalan “Sajak Cinta Untuk Emak,” di bawah ini menyadarkan kita bahwa jika ibu tersenyum bukan berarti beliau tidak sedang mengalami penderitaan. Hanya saja derita yang dialaminya mampu dibungkusnya dalam ekspresi cinta dengan mengulumkan senyuman.
Mak/ aku tahu/ kau selalu sembunyikan perihmu/ diatas senyum yang kau paksakan/ di atas kilau cahaya cinta/ cinta yang tak pernah redup darimu/ untuk kami dan anak-anakmu .. (halaman 88).
Andaikata setiap anak memahami cinta ibu. Saya dapat pastikan tak pernah ada anak yang mem’panti wreda’ kan seorang ibu. Meski kekayaannya berlimpah. Apalagi sampai berani memperkarakan ibunya (bahkan menuntut sang ibu dengan tuntutan ganti rugi satu milyar) ke ranah hukum.  Seperti yang pernah terjadi beberapa waktu yang lalu.
***
              Meskipun kumpulan sajak ini diberi judul “Simfoni Buat Isrtiku”. Namun, sajak yang berjudul demikian justru diletakkan pada urutan terakhir. Saya yakin Hadi Sastra punya alasan tersendiri menempatkan sajak ini demikian.
              Penempatan sajak ini, di urutan terakhir, saya menduga karena kebahagiaan seseorang adalah ketika mendapatkan istri yang salehah. Karena Rasulullah menyatakan, “dunia ini adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah istri yang salehah.”
              Nah, bagaimana mungkin seorang anak bisa mendapatkan istri yang salehah jika tak mendapat ridho dari orangtua. Barangkali itu sebabnya Hadi Sastra menempatkan “Simfoni Buat Istriku” pada urutan puncak pada buku kumpulan sajak ini.
              Simaklah penggalan sajak ini pada bait terakhirnya:
              …..
              Maka/ yakinlah padaku/ yang selalu memeluk cintamu/ lalu/ kokoh cinta kita/ mampu menerjang segala badai/ hingga riuh dermaga/ menyambutnya (halaman 91).
              Membaca keseluruhan sajak yang ada di buku ini, saya membayangkan seorang anak yang mampu memahami keutuhan cinta. Bahwa cinta sejati tolok ukurnya adalah kesetiaan, pengorbanan, perjuangan, keindahan, harapan, dan seterusnya. Puncak dari semua manifestasi adalah kebahagiaan. Dan, yang perlu kita sadari, kebahagiaan tak ada hubungannya dengan kekayaan (materi) yang dimiliki seseorang.
              Bukankah Rasulullah pernah bersabda ‘Arbaunn min sa’aadatil mar ‘i  an takuuna zau jatuhu shoo lihatan wa aw laaduhu abroron wa khulathoo ‘uhu shoolihiina wa an yakuuna rizquhu fii baladihi – Ada empat perkara yang membahagiakan seseorang: istrinya yang saleh, anak-anaknya yang baik, teman sepergaulannya orang-orang yang saleh, dan rezekinya di negeri sendiri.
              Allah  berfirman -  la in syakartum la adzidan nakum, wa la in kafartum inna adzabin la syadid. Maka, Hadi Sastra yang sudah mendapatkan nikmat dari-Nya (memperoleh cinta dari orang-orang terdekatnya). Sebagai seorang penyair, ia berusaha merefleksikan rasa syukurnya dengan menerbitkan buku kumpulan sajak ini.
Rasa syukur itu bukan hanya akan melipatgandakan nikmat dari-Nya. Melainkan juga sebagai refleksi syukur terhadap diri sendiri. Wa man yasykur fa innama yasykuru linafsihi. Demikian firman Allah. Bukankah demikian?***Humam S. Chudori, novelis dan aktivis KSI, tinggal di Tangerang Selatan.