Monday, January 23, 2017

cerpen Ning ..... oleh Humam S.Chudori dari Bisnis Indonesia Minggu



N I N G


Cerpen  Humam S. Chudori



            PEREMPUAN ITU hanya tertawa, tatkala saya katakan bahwa saya ingin melamar dan menikahinya. Keinginan saya, barangkali, dianggap sebuah lelucon. Sehingga ia terpingkal-pingkal mendengarnya.
            “Bung ingin menikahi saya?”
            Saya mengangguk. Ning tertawa lagi.
            “Saya serius, Ning!” kata saya, “Karena itu, saya ingin tahu alamat orangtuamu. Saya ingin menemui mereka dan menyampaikan niat saya.”
            “Kenapa mesti dengan saya?” tanya Ning.
            “Karena saya mencintai kamu.”
            “Mencintai toh tidak berarti harus terikat dalam suatu pernikahan.”
            “Maksudmu?”
            Ning kembali tertawa. Kali ini lebih keras tawanya. Orang-orang yang ada di restoran ayam goreng ala Amerika itu menoleh ke arah kami. Saya menjadi serba salah.
            Sementara itu, perempuan yang duduk berhadapan dengan saya tetap tidak peduli. Saya mengenalnya di TIM satu tahun lalu, ketika salah seorang teman membacakan puisi-puisinya di sana. Ketika acara pembacaan puisi usai, saya lihat seorang perempuan masih duduk mematung  sendirian di deretan kursi yang telah kosong.
            Saya menghampirinya. Mengajaknya bercakap-cakap. Pembicaraan berlanjut hingga di warung roti bakar di depan TIM, di jalan cikini raya. Kami berkenalan. Saya menyebutkan nama saya, tetapi ia tak mau menyebutkan namanya. Dan ketika saya tanyakan siapa namanya, ia menjawab tidak punya nama.
            “Saya memang tidak punya nama. Tetapi, orang-orang memanggil saya, Ning,” jawabnya setelah berulangkali saya mendesaknya.
            “Ning siapa?” tanya saya karena tidak puas atas jawabannya itu.
            “Cukup Ning.”
            “Maksud saya, Ning itu kan bisa Tuning, bisa Nuning, Naning, Nining, Ningsih, Ningrum, atau ning siapalah?”
            “Bung jangan memaksa saya untuk memberikan sesuatu yang tidak saya miliki. Tadi kan sudah saya katakan, saya tidak punya nama,” katanya, “Kalau tadi saya katakan Ning, orang-orang memang menyebut saya demikian.”
            “Oh, maaf!” seru saya. Semula saya hendak mendesaknya, toh ia pasti punya KTP dan di sana pasti tertulis namanya. Tetapi, niat itu saya urungkan. Sebab tampaknya ia tersinggung dengan keinginan saya untuk mengetahui dirinya lebih jauh.
            “Bung Romy tidak usah minta maaf,”  ujarnya, “Kata orang lantaran mata saya bening maka saya dipanggil Ning. Ada pula yang mengatakan karena kulit saya kuning. Tapi apa pun alasannya, saya suka sebutan itu.”
            Sejak perkenalan itu, kami akhirnya sering bertemu di TIM. Makin lama makin akrab. Ia pun tidak berkeberatan bila saya datang ke tempat indekostnya. Walaupun demikian, ia selalu tersinggung bila saya ingin mengetahui nama lengkapnya.
            “Bung jangan memaksa saya untuk memberikan sesuatu yang tidak saya miliki. Harus berapa kali saya katakan? Bahwa saya tidak mempunyai nama,” kalimat ini yang selalu dikatakannya setiap kali saya  menanyakan namanya yang sebenarnya.
            “Yuk!” ajak Ning, membuyarkan lamunan saya.
            “Sudah?” tanya saya.
            “Dari tadi juga sudah. Bung Romy saja yang melamun.”
            “Kemana kita, Ning?” tanya saya.
            “Pulang saja, ah,” jawab Ning.
            DI TEMPAT indekostnya, saya kembali mendesak Ning. Saya benar-benar ingin secepatnya menikahi perempuan itu.
            “Coba Bung jawab secara jujur, kenapa Bung Romy ingin menikahi saya?” tanya Ning.
            Saya diam. Sulit juga untuk menjawab pertanyaan ini.
            “Baiklah kalau begitu. Bung ingin menikahi saya karena Bung ingin memiliki saya. Ya, kan?”
            Saya mengangguk.
            “Lalu setelah Bung merasa memiliki saya, Bung dapat memperlakukan diri saya sesuai dengan kehendak Bung?”
            “Apa maksudmu, Ning?”
            “Ya, misalnya setelah Bung menikahi saya. Setelah Bung Romy menjadi suami saya. Maka Bung dapat mengajak saya melakukan hubungan intim manakala Bung menginginkan . Bung dapat menyuruh saya membuatkan kopi setiap pagi. Bung dapat memerintah saya …..”
            “Masalahnya tidak sesederhana itu, Ning,” potong saya.
            “Lalu?” Ning balik bertanya.
            “Saya ingin hidup wajar, punya isteri. Punya keturunan, dipanggil papa oleh anak-anak seperti layaknya orang lain.”
            “Kalau itu tujuan sebuah perkawinan buat Bung Romy. Maka bung salah pilih. Karena saya bukan orang yang tepat untuk  itu.”
            “Kenapa?”
            “Agaknya saya sudah tidak mungkin punya keturunan. Bagaimana?”
            Saya diam.
            “Bagaimana Bung Romy?”
            Saya bertambah bingung.
            “Saya yakin Bung pasti keberatan, bukan?”
            Akhirnya saya menggeleng.               
            “Tadi, Bung bilang ingin punya anak.”
            “Itu memang salah satu keinginan saya. Tetapi, kalau keadaan kamu seperti itu, apa boleh buat.”
            “Bung yakin tidak akan kecewa?”
            Saya tetap bungkam.
            “Jujur saja Bung,” desak Ning, “Umumnya laki-laki akan kecewa bila perempuan yang diperisterinya tidak mampu memberikan keturunan. Kemudian hal itu akan dijadikan untuk mencari isteri lagi.”
            Saya merasa makin sulit untuk menjelaskan mengapa saya ingin menikahinya. Semula saya ingin bertanya di mana alamat orangtuanya yang  tinggal di daerah. Tetapi, tiba-tiba persoalannya bertambah rumit. Lantaran Ning malah bertanya macam-macam yang sulit untuk saya jelaskan.
            “Kalau Bung bisa menjelaskan, apa maksudnya Bung ingin menikahi saya, akan saya beritahu di mana orangtua saya tinggal,” kata Ning.
            “Karena norma, Ning. Maka kita harus menikah,” jawab saya. Saya benar-benar kehabisan kota kata untuk menangkis setiap pertanyaannya.
            “Karena norma?” ujar Ning, setengah mencibir, “Norma apa yang Bung maksudkan? Norma agama, norma hukum, kesopanan, kesusilaan atau norma adat?”
            Saya diam.
            “Kalau Bung bicara norma, tentunya Bung tidak akan melakukannya bukan? Bung pasti tidak akan pernah menyetubuhi saya sebelum kita resmi menjadi suami-isteri. Iya, kan?”
            Saya makin tersudut. Benar. Kami telah melakukan hubungan layaknya suami-isteri dengan perempuan ini. Bahkan bukan cuma sekali kami melakukannya. Ning sudah tidak perawan ketika untuk pertama kali saya setubuhi. Tetapi, Ning bukanlah seorang pelacur. Karena hubungan intim itu kami lakukan atas dasar suka sama suka. Dan saya tak pernah membayar jasa atas pelayanan yang diberikan kepada saya itu.
            “Bila Bung ingin mengawini saya karena norma. Bagaimana yang pernah kita lakukan selama ini? Khilaf?  Kalau khilaf tentunya tidak akan terjadi sampai berulangkali Bung.”
            “Cukup!” potong saya.
            “Ya, begitu dong. Akhirnya Bung mau mengerti,” kata Ning.
            Tidak lama kemudian saya pulang.
            Sampai di rumah, saya tak bisa tidur. Sulit membayangkan apa yang ada di benak Ning. Ia tetap saja misterius di mata saya . Tetapi, saya makin penasaran. Hingga memutuskan untuk menikahi Ning, walau ia sudah tidak perawan.
            Tiba-tiba saya ingat pembicaraannya sepuluh bulan lalu. Ketika suatu malam saya datang ke tempat indekostnya dan untuk pertama kalinya kami melakukan perbuatan tercela itu.
            “Kamu kecewa, Ning?” tanya saya.
            “Mestinya saya yang berhak bertanya seperti itu, Bung.”
            “Lho, kok?”
            “Bung sekarang sudah tahu, tadi semuanya berjalan lancar bukan?”
            Saya diam.
            “Bung bukan yang pertama buat saya,” katanya sambil membetulkan rambutnya yang acak-acakan.
            “Bagi laki-laki, terutama saya bukan masalah perawan atau tidak seseorang mau menikahi perempuan.”
            “Gombal!”
            “Sebab kalau  yang dicari laki-laki hanyalah keperawanan seseorang. Tentunya seorang janda tidak akan pernah kawin lagi. Apalagi kawin dengan jejaka,” lanjut saya.
            Sejak itu pula, perbuatan terkutuk itu terus berlanjut. Namun, Ning tak pernah hamil. Aneh, memang. Lebih aneh lagi lantaran tidak mau saya nikahi. Padahal saya tidak pernah mempersoalkan keperawanannya. Kendati keperjakaan saya telah saya berikan padanya. Kalau pun saya ingin menikahinya, lantaran saya ingin bertanggung jawab atas perbuatan itu. Paling tidak dengan menikahi Ning, perasaan bersalah saya akan berkurang.
            Seminggu kemudian,   tatkala saya datang ke tempat indekostnya. Ning sudah tak ada. Sudah pindah. Tetapi, ia tak memberi tahu di mana alamatnya yang baru. Ia hanya meninggalkan sepucuk surat yang dititipkan Bik Asih, pembantu rumah tangga di tempat indekostnya.

            Bung Romy,
            Apa pun alasannya, saya hargai niat baik Bung untuk menikahi saya. Namun, sorry saya tak mungkin bisa memenuhi keinginan Bung.
            Karena itu, Bung tak perlu mencari saya lagi.
            Terima kasih,
            Ning.

            Tiba-tiba saya merasa menjadi lelaki paling tolol di dunia. Karena ingin mengawini seorang perempuan yang tak pernah mau dinikahi.
“Siapa tahu Ning itu simpanan pejabat atau pengusaha. Dari pengusaha atau pejabat, Ning bisa mendapatkan materi. Sedangkan cari kepuasan ya sama saya. Sebab ia memang tidak berprofesi sebagai pelacur. Namun, di tempat indekostnya yang sangat luas itu  perabotannya tergolong mewah. Bahkan tidak jarang ia yang mentraktir ……”
            “Tidak masuk dulu, Om,” Bik Asih membuyarkan lamunan saya.    
            “Tidak, terima kasih!”
            Dengan langkah gontai saya tinggalkan tempat kost Ning. Tidak pulang ke rumah, tetapi ke TIM. Siapa tahu Ning masih suka nonton pembacaaan puisi, di sana.* * *

sumber : Bisnis Indonesia

Cerpen Humam S. Chudori ......... Badri



Cerpen  Humam S. Chudori

B  A  D  R  I



            “YANG PASTI sekarang saya benar-benar sudah merasa  tenang,” ujar Badri, usai menceritakan macam-macam asuransi yang telah ditutupnya.
            Saya tak memberikan komentar apa pun, melainkan hanya tersenyum.
            Sebetulnya saya sudah bosan mendengar ceritanya. Bagaimana tidak, hampir setiap kali kami bertemu ia selalu menceritakan hal yang sama. Ya, ayah dari tiga orang anak itu pasti bercerita bahwa ia telah menutup semua jenis asuransi – asuransi bea siswa untuk ketiga anaknya, asuransi kesehatan untuk isterinya, asuransi kebakaran untuk rumah tinggalnya, serta asuransi kecelakaan untuk dirinya sendiri. Padahal untuk yang terakhir itu, ia telah diasuransikan oleh perusahaan.
            Di tempatnya bekerja, Badri memang sudah diasuransikan. Sebagai karyawan perusahanan kontraktor yang bergerak di bidang pengeboran minyak, Badri ditempatkan di bagian survey. Dalam menjalankan tugas, seringkali, ia harus ke luar kota. Bahkan ke pedalaman. Sebagai petugas survey lapangan, lelaki yang senantiasa berpenampilan rapi itu, mempunyai  resiko yang cukup tinggi. Tak heran jika perusahaan tempatnya bekerja menutup polis asuransi kecelakaan untuk dirinya, seperti halnya karyawan lain yang  menjadi petugas survey lapangan. Meskipun demikian, agaknya, Badri merasa ada yang kurang apabila tidak menutup sendiri polis asuransi kecelakaan.
            Kami, saya dan Badri, memang jarang sekali bercakap-cakap. Kendati ia tinggal di depan rumah. Sebab pekerjaan Badri  membuat ia jarang di rumah. Dalam satu bulan paling lama satu minggu ia berada di rumah. Malah kadang-kadang sampai tiga bulan ia pergi, jika sedang bertugas.
            Mungkin lantaran tugasnya seperti itu, membuatnya lupa bahwa ia sudah menceritakan hal yang sama sebelumnya. Hingga setiap kali ada di rumahnya dan punya kesempatan ngobrol dengan saya, ia pasti akan membicarakan masalah polis asuransi yang telah ditutupnya. Seperti yang diobrolkannya pagi ini.
            Pagi ini, sebetulnya, saya enggan keluar rumah. Sebab sudah menjadi kebiasaannya, jika ia tidak sedang bertugas ke luar kota dan melihat saya tidak mempunyai kesibukan yang berarti. Ia pasti akan menghampiri saya. Lantas menceritakan persiapan masa depan keluarganya yang diwujudkan dengan menutup macam-macam polis asuransi. Seolah-olah ia ingin menunjukkan bahwa ia seorang kepala keluarga yang paling bertanggungjawab terhadap masa depan  anak-anaknya.  
            Yang mengherankan saya, kenapa lelaki bertubuh tambun itu tidak pernah membicarakan hal lain. Masalah yang sedang berkembang dalam masyarakat, misalnya. Topik  pembicaraan seperti ini pasti  tidak akan membosankan lawan bicara. Atau pengalamannya selama bertugas di pedalaman. Sebab dua hari yang lalu ia baru pulang dari Irian Jaya.  Bagi saya, mendengarkan pengalamannya selama berada di hutan Irian jaya lebih menarik daripada membicarakan masalah asuransi.
            Apalagi setiap kali bertugas, ia selalu mengunjungi daerah yang berbeda. Sementara itu, perusahaan tempat saya bekerja tidak pernah menugaskan saya ke luar kota. Lantaran saya bertugas di bagian administrasi.
                                                            *   *   *   *
            PUKUL TIGA dini hari, saya dibangunkan seseorang. Ketika  saya mengintip keluar melalui celah gordin jendela, Gatot berdiri di depan pintu pagar rumah saya. Rupa-rupanya sekretaris RT itu yang membangunkan saya dengan mengetuk pintu pagar.
            Setelah pintu rumah saya buka. Saya melihat ada tiga orang laki-laki berdiri di halaman rumah Badri. Pintu depan rumah itu terbuka lebar. Saya mendengar suara tangis  perempuan dari dalam rumah Badri.
            “Pak Badri meninggal, Pak,” ujar Gatot sebelum sempat saya bertanya.
            Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun!” seru saya. Mulut saya langsung mengucapkan kalimat ini.
            “Sekitar pukul sebelas tadi, Pak,” lanjut Gatot.
            Saya diam. Mematung. Entah karena saya  baru bangun sehingga merasa bingung, entah lantaran tidak pernah menduga kalau tetangga depan rumah saya akan meninggal secepat itu, atau entah disebabkan hal lain. Yang pasti, saya seperti tidak percaya dengan berita yang disampaikan Gatot.
            Setelah memberi tahu saya, Gatot langsung pergi. Ia mengetuk pintu rumah sebelah. Ia melakukan hal yang sama. Mengetuk pintu rumah Hastardi. Memberi tahu kalau tetangganya satu RT meninggal.        
            Setelah menyadari apa yang terjadi, saya masuk. Mencuci muka untuk menghilangkan kantuk. Lalu berganti pakaian.  Tatkala sedang   berganti pakaian itu isteri saya bangun.
            “Mau kemana, Mas?” tanyanya. Barangkali ia merasa heran lantaran suaminya berganti pakaian.
            “Ke depan,” jawab saya, “Rumah Pak Badri.”
            “Ada apa?”
            “Pak Badri meninggal.”
            Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun!”  seru Herlina, “Kapan?”
            “Pukul sebelas malam tadi,” kata saya sambil memakai baju, “Baru saja Pak Gatot yang memberi kabar.”
            Herlina menggeliat. Bangun. Duduk. Ia masih kelihatan seperti tidak percaya dengan pendengarannya sendiri.
            “Tunggu sebentar, Mas,” ujarnya, tatkala saya sudah bersiap-siap hendak keluar rumah.
            “Biar saya dulu yang ke sana,” lanjut Herlina, “Mumpung masih sepi.”
            Lalu ia bergegas ke kamar mandi. Mencuci muka. Selesai merapikan rambut, ia mengambil kerudung hitam. Keluar rumah. Menuju ke rumah almarhum.
            “Tunggu anak-anak dulu ya, Mas,” katanya sebelum ia keluar.
            Saya mengangguk.
            Anak kami, memang, hanya dua. Namun, mereka masih kecil-kecil – yang pertama baru berusia empat tahun, sedangkan yang kedua baru tujuh bulan usianya. Sehingga kami, saya dan isteri, tidak mungkin keluar semuanya. Soalnya bila mereka terjaga dan tidak melihat salah satu orangtuanya ada di rumah, hampir dapat dipastikan, akan menangis.
            Itulah sebabnya saya mengalah, ketika Herlina meminta saya menunggu rumah. Toh nanti saya akan lebih lama melayat daripada Herlina. Lantaran saya akan melayat hingga jenazahnya dimakamkan.
            “Soalnya yang namanya umur itu tidak seorang pun yang tahu. Nah, kalau kita sudah menutup asuransi artinya masa depan keluarga sudah pasti terjamin. Dengan demikian, kita sudah tenang bila meninggalkan mereka. Tetapi, kalau kita tidak masuk asuransi apa tidak kasihan anak dan isteri kita?” terngiang lagi kata-kata almarhum, sepuluh hari yang lalu.
                                                            *   *   *   *
            TEPAT saat adzan Subuh berkumandang, isteri saya pulang.
            “Pak Badri ternyata tidak meninggal di sini, Mas,” kata Herlina memberitahu suaminya.
            “Lantas, dimana ia meninggal?”  tanya saya.
            “Kalimantan. Ia mengalami kecelakaan lalu lintas di sana.”
            “Jadi?”
            “Ya, jenazahnya akan dibawa pulang. Akan dikuburkan di sini.”
            Saya diam. Kini saya baru ingat kalau tiga hari yang lalu, Badri berangkat ke Kalimantan.
            “Tapi, Bu Yuli sudah tenang kok, Mas,” tambah Herlina.
            “Sekarang ia sudah tidak menangis lagi?”
            “Bukan itu maksud saya.”
            Lho katanya Bu Yuli sudah tenang.”
            “Meskipun Pak Badri meninggal. Namun, ia bakal mendapatkan uang pertanggungan yang jumlahnya cukup besar. Dengan kata lain, Bu Yuli sudah pasti tidak akan repot mengurusi anak-anaknya.”
            Saya diam. Rupa-rupanya isteri saya juga tahu juga kalau Badri menutup polis asuransi untuk anggota keluarganya. Darimana ia tahu kalau lelaki yang usianya baru tiga puluh lima itu telah mengasuransikan seluruh keluarganya? tanya saya dalam batin.
            “Bu Yuli pernah menceritakan semuanya kepada saya, jika suaminya meninggal ia akan memperoleh  uang sekitar tiga ratus juta rupiah. Apakah jumlah ini tidak cukup besar, Mas?” kata isteri saya, “Bukankah bila uang itu didepositokan, bunganya saja cukup layak untuk biaya hidup sehari-hari.”
            Saya masih tetap diam.
            “Barangkali kalau menabung, saya yakin seumur hidup kita tidak akan punya uang sebesar itu, Mas.”
            “Kamu mau seperti Bu Yuli?” pertanyaan ini terlontar begitu saja dari mulut saya. Sebagai seorang suami saya merasa tersinggung dengan ucapan Herlina.
            Herlina menggeleng. Lalu katanya, “Ya, tidak mau Mas. Sekali pun dapat satu milyar rupiah saya tak mau kalau harus ditinggalkan suami secepat itu. Apalagi anak-anak masih kecil.”
            “Ya, sudah! Jangan bicara yang tidak-tidak.”
            Kali ini Herlina diam. Ia kelihatan seperti menyesali ucapannya sendiri.
                                                                        *  *   *   *
            USAI melaksanakan shalat Subuh, saya keluar. Masih belum banyak perlayat yang datang. Baru  ada tujuh orang. Dua orang berdiri sedangkan lainnya duduk di kursi tamu yang sudah dikeluarkan dari rumah almarhum.
            Hari makin siang, pelayat pun mulai berdatangan. Yang perempuan langsung masuk ke rumah duka. Sementara yang laki-laki bergabung dengan kami. Hanya berada di jalanan. Menunggu jenazah almarhum tiba.
            Hampir semua pelayat memuji almarhum yang sangat cermat dalam membuat keputusan. Merencanakan masa depan keluarga. Badri dinilai mampu mengantisipasi keadaan yang tak diinginkan dalam keluarga, mati muda.
            “Ya, sekitar tiga puluh lima,” tukas Yono, tatkala Cecep menanyakan usia almarhum.
            “Kasihan sekali Bu Yuli. Mana anaknya masih kecil-kecil. Masih memerlukan biaya yang cukup banyak,” kata Umar.
            “Biar begitu, sebetulnya, isteri Pak Badri sudah tidak terlalu pusing memikirkan biaya hidup. Termasuk biaya anak-anaknya sekolah,” sahut Poltak.
            “Betul kata Bang Poltak,” dukung Hadi, “Soalnya anak Pak Badri sudah dijamin asuransi semuanya.”
            “Saya juga tidak bisa membayangkan seandainya Pak Badri tidak mengasuransikan anak-anaknya. Apa mungkin mereka bisa melanjutkan sekolah? Apalagi ketiga anaknya masih membutuhkan biaya yang cukup besar. Kita semua tahu anak Pak Badri yang sulung saja baru  lulus SD. Sementara yang terkecil baru  kelas satu SD,” ujar Rum, “Hebatnya lagi. Meskipun Pak Badri sudah diasuransikan perusahaan. Tapi, ia masih menutup polis asuransi yang preminya dibayar sendiri.”
            “Pak Badri memang luar biasa. Ia benar-benar cermin seorang kepala keluarga yang bertanggungjawab. Persiapannya matang.”
            “Mungkin di antara kita ini, tak ada yang berpikir sejauh Pak Badri.” 
            “Kematian  Pak Badri, sebetulnya,  sesuai dengan keinginannya   sendiri,” Taufik yang dari tadi diam saja, tiba-tiba membuka mulut.
            Semua orang yang mendengar ucapan lelaki berkacamata tebal itu diam. Tak terkecuali saya. Mana mungkin Badri  menginginkan kematiannya sendiri.  Apalagi dalam   usia yang masih muda? tanya saya dalam  batin.
            “Bagaimana tidak?” lanjut Taufik, “Bukankah Pak Badri merasa telah mempersiapkan diri untuk meninggalkan keluarga. Ini dapat diartikan ia merasa sudah siap meninggalkan anak dan isterinya. Karena itu, Tuhan memperkenankan keinginannya.”
NGUING. Nguing. Nguing! Sirene mobil yang membawa jenazah almarhum Badri meraung-raung. Para pelayat yang  berkelompok-kelompok itu buyar. Sebagian pelayat ada yang menghampiri mobil jenazah yang baru tiba. Sementara pelayat yang lain ada yang membentuk kelompok baru.
****
            SETELAH pulang dari kuburan, mengantar jenazah. Malam harinya saya tak bisa tidur. Namun, hal ini bukan disebabkan saya melihat jenazah almarhum yang sudah tidak utuh. Bukan pula tadi saya tidak masuk kerja lantaran melayat. Melainkan kata-kata Taufik tadi mengganggu pikiran saya.
            “Bukankah Pak Badri merasa telah mempersiapkan diri untuk meninggalkan keluarga. Ini dapat diartikan ia sudah merasa siap jika meninggalkan anak isterinya. karena itu, Tuhan memperkenankan keinginannya.” ****


Sumber: Bisnis Indonesia Minggu