Saturday, July 28, 2012

cerpen Humam S. Chudori, SWEEPING



SWEEPING


Cerpen  Humam S. Chudori

        KEPALA DESA Sontoloyo bingung setengah mati. Ia tidak tahu apa yang mesti dilakukan untuk menindak lanjuti perintah atasannya. Perintah dari atasannya – yang  berasal dari atasannya lagi, juga dari atasannya lagi, demikian seterusnya – mau tidak mau, harus segera dilaksanakan. Tidak bisa ditawar-tawar. Padahal sebagian besar warganya tidak ada yang setuju dengan instruksi  tersebut.
Ketidaksetujuan warga desa Sontoloyo, lantaran jika instruksi tersebut benar-benar dilaksanakan akan menyengsarakan warga. Kehidupan warga akan makin terpuruk. Padahal andaikata instruksi itu tak dilaksanakan pun masyarakat desa Sontoloyo sudah sangat menderita. Betapa tidak, semua kebutuhan sehari-hari harganya terus naik. Tidak pernah ada tanda-tanda akan berhenti. Makin lama makin melambung. Sementara itu, penghasilan warga makin tidak menentu. Beberapa warga malah ada yang sudah terpaksa makan nasi aking. Sebab beras sudah menjadi barang yang sangat mewah. Tidak heran bila ada beberapa warga desa yang sudah siap melakukan perlawanan. Kalau perlu nyawa dipertaruhkan, apabila kepala desa tetap memaksakan kehendak untuk melaksanakan aturan yang dianggap tidak masuk akal itu.
Rasudi, misalnya. Meskipun tubuhnya kurus, kecil, kering, seperti kurang makan (karena kebanyakan penduduk warga desa Sontoloyo memang kurang makan) ia tak bisa menerima perlakuan yang dilakukan oleh kepala desa tetangga terhadap warganya. Lebih baik mati daripada harus menerima perintah kepala desa, demikian prinsip Rasudi.
Tak kalah berangnya adalah Garugi ketika mendengar Askanang – kepala desa tetangga – telah melaksanakan instruksi dari atasannya. Setiap hari Garugi mengasah parangnya. Hingga senjata tajam tersebut mengkilap. Sebelumnya parang Garugi tidak pernah disentuh. Benda itu hanya digantungkan di dinding yang terbuat dari anyaman bambu, di belakang rumah. Di dekat tungku. Karena senjata tajam itu hampir tak pernah digunakan Garugi.
“Buat apa parang itu diasah tiap hari Pak?” tanya Pasrah, kepada suaminya.
Perempuan berambut panjang itu merasa heran setelah hampir seminggu, setiap sore hari, suaminya mengasah senjata tajam itu.
“Ya, biar tajam,” jawab Garugi, sambil tangannya terus mengasah besi pipih itu di atas batu wungkal, di pelataran belakang rumah.
“Sudah mengkilat seperti itu bukannya sudah tajam.”
“Biar lebih tajam lagi.”
“Tapi untuk apa?” desak Pasrah.
“Membunuh.”
Mendapat jawaban ini, Pasrah terdiam. Ia tidak menyangka kalau suaminya akan berkata demikian.
“Membunuh? Siapa yang mau dibunuh suami saya?” tanya Pasrah dalam batin.
Pasrah memang tidak habis pikir kalau suaminya akan melakukan pembunuhan. Betapa tidak, suaminya bukan cuma tidak pernah punya musuh. Melainkan pula Garugi tergolong orang yang sabar. Ia cenderung mengalah bila terjadi perselisihan dengan siapa pun. Tak pernah mau ribut dengan orang lain. Pasrah tahu persis karena ia sudah hidup bersama dengan suaminya lebih dari tiga puluh tahun. Namun, kini tiba-tiba lelaki yang telah memberinya delapan orang anak dan sebelas cucu itu mengatakan akan membunuh. Siapa yang telah membuatnya begitu geram? Tapi, kalau suami saya tidak benar-benar hendak membunuh orang kenapa ia mengasah parang hingga mengkilap. Setumpuk pertanyaan memenuhi pikiran Pasrah. Kendati demikian tidak satu pertanyaan pun ada yang ingin dilontarkan kepada suaminya.
Memang, beberapa tahun yang lalu, Garugi pernah berang terhadap kepala desa. Gara-gara kehamilan Pasrah yang kelima kalinya dipersoalkan oleh almarhum Lanang, kepala desa waktu itu. Ya, ketika itu Lanang sedang menggalakkan kabe. Karena itu kehamilan Pasrah selalu dijadikan pembicaraan Lanang dalam setiap pertemuan dengan warga. Garugi merasa muak karena tidak cukup sekali Lanang membicarakan kehamilan Pasrah itu. Seakan-akan kehamilan Pasrah tersebut sebuah aib di desa yang dipimpinnya.
        Garugi sempat mendatangi rumah kepala desa. Ia menantang duel dengan kepala desa yang berbadan kecil. Untung waktu itu dua orang hansip yang hendak mengambil honor datang ke sana. Hingga tidak sempat terjadi sesuatu yang tak diharapkan.
        “Memangnya kalau anak saya cuma dua biayanya akan ditanggung kepala desa?” kata Garugi geram, “Orang anak saya dari dulu juga tidak pernah ditanggung kepala desa. Desa ini tidak pernah menanggung biaya anak saya. Semua menjadi tanggungjawab saya. Kok melarang-larang orang punya anak lebih dari dua.”
        SEJAK itu, Lanang tak pernah berani lagi mempersoalkan orang yang punya anak lebih dari dua. Apalagi sampai memberikan contoh dengan menyebut keluarga Garugi seperti yang dilakukan pada waktu-waktu sebelumnya.
        Kenekadan pedagang ayam tersebut karena kesabaran Garugi rupa-rupanya sudah sampai puncak. Betapa tidak, gara-gara Lanang terus menerus membicarakan kehamilan Pasrah akhirnya keluarga Garugi menjadi bahan gunjingan warga. Itu sebabnya setelah ia tahu sumber penyebab dirinya jadi gunjingan adalah kepala desa. Ia marah. Mendatangi rumah kepala desa. Menantang duel.
        Semenjak kejadian itu, tak pernah ada orang yang mau berurusan dengan suami Pasrah. Bahkan kepala desa berikutnya tak ada yang berani menganjurkan Garugi ikut kabe.
* * *
        KESIBUKAN Garugi mengasah parang pada akhirnya tersebar ke masyarakat. Setelah mendengar berita itu, Asbara – kepala desa Sontoloyo –  mengutus Bustam untuk menyelidiki kebenaran berita yang didengarnya dari ketua RT.
Benar. Anggota hansip itu melihat sendiri Garugi mengasah parang yang sudah mengkilap itu di halaman belakang rumah. Bahkan Bustam sempat bertanya kepada Garugi. Laksana sebuah pita kaset, jawaban yang dilontarkan Garugi sama seperti ketika ditanya oleh istrinya. Bahwa ia sengaja mengasah benda itu untuk membunuh.
“Membunuh siapa?” tanya Bustam, menyelidik.
“Ya, oranglah. Masa membunuh binatang.”
Bustam diam.
“Kalau terhadap binatang bukan membunuh namanya. Tetapi, menyembelih,” lanjut Garugi.
“Siapa ....”
“Siapa saja,” potong Garugi, “Bisa pak RT, pak RW, bisa juga anggota hansip, mungkin kepala desa kalau perlu. Ya, siapa saja yang melarang pekerjaan saya.”
Bustam merasa gentar mendengar kalimat yang dilontarkan Garugi dengan nada geram. Nyalinya mendadak ciut. Apalagi saat itu Garugi tengah memegang parang yang sudah mengkilap. Senjata itu pasti akan langsung dapat menebas tubuhnya. Bustam tidak dapat membayangkan jika seandainya tiba-tiba Garugi kalap dan menyabetkan parang itu kepada dirinya.
Tanpa bicara lebih lanjut anggota hansip itu meninggalkan Garugi yang terus mengasah senjata tajam itu di atas batu wungkal.
        Anggota hansip itu melaporkan percakapan itu kepada Asbara.
        Asbara bingung setelah mendengar laporan petugas hansip itu. Seperti halnya Bustam, kepala desa ini pun merasa keder. Ia tidak ingin Garugi berbuat nekad, seperti yang dilakukannya terhadap Lanang. Namun, di sisi lain ia pun tidak mungkin menolak perintah atasannya. Karena instruksi itu harus segera dilaksanakan seperti halnya yang telah dilakukan di desa tetangga.
* * *
Garugi tidak mampu berbuat apa-apa setelah tahu ayam-ayam peliharaannya mati mendadak. Lelaki yang baru pulang dari pasar itu yakin ayam yang tidak dibawanya ke pasar sehat semuanya. Karena itu ia merasa aneh jika binatang berkaki dua miliknya  mati mendadak. Namun, Garugi terlalu polos. Lugu. Pola pikirnya sederhana. Hingga ia tidak pernah berpikir bahwa ada sesuatu yang tidak wajar dalam kematian binatang piaraannya.
Yang mati mendadak bukan hanya ayam-ayam peliharaan Garugi. Melainkan pula bebek Rasudi yang berjumlah tujuh ekor. Selain mereka ada beberapa ayam milik warga lainnya yang mati mendadak.
Kabar tentang unggas yang mati mendadak itu segera dilaporkan Acan kepada Asbara. Kepala desa Sontoloyo itu manggut-manggut mendengar laporan anggota hansip bertubuh tambun itu.
 “Betul? Kamu lihat sendiri?” tanya Asbara.
“Mana mungkin saya berani bohong sama Pak Kades.”
“Kalau begitu benar-benar positif hasilnya,” kata Absara. Kalimat ini seperti ditujukan terhadap dirinya sendiri.
“Positif?” Acan seperti bertanya pada diri sendiri.
Kepala desa diam. Tiba-tiba ia menyesal telah melontarkan kalimat sebelumnya di depan Acan.
“Apanya yang positif, pak Kades?” kali ini pertanyaan ditujukan kepada Asbara.
Asbara tampak tegang. Ia bingung untuk menjawab pertanyaan lawan bicaranya. Ia tak ingin perbuatan culasnya terbongkar. Tapi, itu satu-satunya cara agar tidak ada perlawanan dari warga. Apalagi ia membayangkan akan berhadapan dengan Garugi.
Setelah beberapa saat terdiam, akhirnya ia berkata, “Banyak unggas yang mati mendadak. Berarti positif kalau flu burung telah menjangkiti unggas warga di desa ini, tolol!”
Acan diam.
“Masa, begitu saja kamu tak paham,” lanjut kepala desa.
Acan diam. Sebetulnya ia ingin bertanya atas dasar apa kepala desa mengatakan bahwa flu burung telah menjangkiti unggas warga. Sebab kalau unggas mati mendadak sering terjadi. Dan peristiwa seperti ini terjadi sejak ia masih kanak-kanak. Tetapi, tidak pernah ada yang demikian cemas terhadap kejadian ini. Kenapa tiba-tiba Pak Kades ini begitu takut menghadapi kenyataan yang acap terjadi di desanya. Walaupun demikian, Acan tak punya keberanian mengutarakannya.
* * *
        Dua hari setelah peristiwa itu, Asbara dengan didampingi empat orang petugas yang mengenakan masker melakukan sweeping unggas di desanya. Tak ada perlawanan dari warga, tatkala mereka membantai – menggorok leher dan membakar hidup – hewan berkaki dua yang semestinya dagingnya bisa dimakan. Bahkan warga desa Sontoloyo secara sukarela menyerahkan binatang piaraan itu untuk dimusnahkan. Meski tanpa mendapat ganti rugi.
        Dalam waktu sehari, desa Sontoloyo sudah bebas unggas. Asbara merasa lega. Ia tidak perlu bersusah payah, apalagi harus bersitegang dengan warga, untuk melaksanakan perintah atasannya. Asbara aman. Jabatannya tidak akan mungkin lepas. Sebab ia telah berhasil membuktikan warganya patuh. Taat sama peraturan. Tidak ada warga yang menolak keputusan penguasa desa itu. Karena warga desa telah membuktikan sendiri banyak unggas yang mati mendadak.
* * *
        Warung remang-remang yang berada di pinggir sebuah kota, cukup jauh dari desa Sontoloyo itu, masih ramai. Penyanyi dangdut dengan pakaian seronok, bergoyang jorok, mendendangkan lagu. Irama musik dangdut masih mengalun dengan kerasnya. Sebagian pengunjung asyik berjoget. Ada satu dua orang bergantian naik panggung. Menyawer sang biduan.
        Di salah satu meja yang ada di sudut. Dua orang laki-laki cekakak-cekikik. Mereka tengah merayakan sesuatu yang mereka anggap sukses. Mereka itu Asbara – kepala desa Sontoloyo – dan Makeli. Makeli adalah seorang pengangguran yang disuruh Asbara untuk menyebarkan nasi yang telah dicampur racun di beberapa tempat, di mana ayam dan bebek berkeliaran. Lelaki berambut keriting itu pula yang mengusulkan kepada kepala desa untuk menciptakan terjadinya wabah, unggas mati mendadak dalam jumlah banyak.
        Usulan dan pekerjaan Makeli membuahkan hasil. Bukan hanya ayam dan bebek warga mati mendadak. Melainkan pula – yang paling utama – karena berhasil meyakinkan warga bahwa telah terjadi wabah yang dapat mengancam keselamatan penduduk desa. Dan untuk memutus rantai penyebaran penyakit yang mematikan itu tak ada jalan lain kecuali dengan memusnahkan unggas. Dan, penduduk percaya. Mungkin karena mereka tidak kritis. Hingga tak pernah ada yang mempermasalahkan unggas liar yang berkeliaran di desa mereka.
        “Kamu yakin tidak ada yang melihat, Li?” tanya Absara.
        “Yakin, Pak. Nyatanya seluruh warga menyerahkan unggasnya kan.”
        Absara menganggukkan kepalanya beberapa kali. Lalu ia menyerahkan sebuah amplop coklat kepada Makeli.
        “Silakan bersenang-senang!” seru Absara.
        Setelah berkata demikian, Absara bangkit dari tempat duduknya.
        “Pak Kades mau kemana?”
        “Saya tak mungkin menemani kamu di sini, Li.”
        “Terima kasih, Pak.”
        Makeli mencium amplop coklat yang baru diterimanya dari kepala desa. Berkali-kali.
* * *
        “KITA mau kemana Pak?” tanya Pasrah, tatkala Garugi mengajaknya pindah.
“Ke kota.”
“Kota?”
Garugi mengangguk. Lalu katanya, “Di kota kita bisa jadi pemulung atau apalah. Kalau perlu mungkin kita masih bisa mengemis. Yang jelas, kalau tetap tinggal di sini apa yang mesti saya kerjakan. Ayam-ayam kita sudah dibunuh semuanya, Bu. Kita juga tidak mungkin mencari usaha lain di sini. Kita tidak punya sawah. Tak punya kebun. Kita sudah tidak punya apa-apa Bu. Hidup kita juga mungkin tak lama lagi.”
Pasrah tak menyahut. Perempuan ini benar-benar sudah menyerah terhadap takdir sebagaimana suaminya. Sudah tidak punya apa-apa. Bahkan sudah tak punya semangat hidup. Tetapi, Pasrah juga tak bisa membayangkan jika nanti di kota hidupnya akan jadi lebih sengsara.
* * *
        Alangkah terkejutnya Pasrah melihat sebuah restorant ayam goreng ala Amerika berdiri dengan sombongnya di sebuah gedung bertingkat, tatkala mereka memasuki kota. Perempuan itu yakin sekali kalau rumah makan itu menyajikan ayam goreng, lantaran ada gambar paha dan dada ayam dalam sebuah baligo yang besar.
        “Pak, ....”
        “Saya tahu,” kata Garugi, memotong kalimat yang hendak dilontarkan istrinya, “Kamu akan bilang rumah makan itu, kan?”
        Pasrah mengangguk.
        “Rumah makan itu masih ada karena di sini ayam Amerika boleh hidup. Bukan ayam kampung seperti yang kita jual, Bu. Tapi ayam kampung, bebek kampung, dan unggas-unggas kampung tetap tidak boleh hidup. Karena itu piaraan orang kampung,” lanjut Garugi.
        “Apa suatu ketika orang kampung juga akan ....”
        Sebuah sedan yang melaju dengan kecepatan tinggi tiba-tiba menyambar tubuh sepasang suami-istri yang siap-siap hendak menyeberang itu, setelah salah satu bannya meletus. Menghentikan pertanyaan yang hendak dilontarkan Pasrah kepada suaminya.***

Friday, July 27, 2012

Cerpen Humam S. Chudori, ARKAN, AYAM, DAN BANJIR


  ARKAN,  AYAM,  DAN  BANJIR 

Cerpen  Humam S. Chudori

            Sore.
            Dia masih saja duduk di bangku panjang, di halaman belakang rumah. Lelaki tua itu memperhatikan empat buah kandang ayam yang ada di sana. Paling tidak, masih ada lima belas ekor ayam kampung yang dipeliharanya. Dia tak bisa membayangkan apabila esok hari tiba, ada petugas yang datang dan membantai unggas-unggas tersebut. Lalu beramai-ramai membakar kandangnya, seperti yang pernah disaksikannya di televisi.
            Biadab.
            Kejam.
            Sadis.
            Memalukan.
            Bodoh.
            Tolol.
            Konyol.
            Ya, Arkan menganggap pemusnahan unggas secara membabi buta itu merupakan tindakan konyol. Bukankah unggas diciptakan untuk diambil manfaatnya. Baik daging maupun telornya. Unggas merupakan salah satu protein hewani yang disediakan Tuhan untuk manusia. Hanya gara-gara penyakit yang sebetulnya masih dalam bentuk suspect unggas dicurigai sebagai penyebar virus yang mematikan.
            Ah. Kenapa mesti ah! Ya karena Arkan hanya bisa ah.
Dia tidak mungkin protes (apalagi melawan) apabila besok kampungnya di-sweeping. Meskipun menurut penelitian daging unggas yang dimasak secara benar pasti aman untuk dikonsumsi. Dan yang mengatakan demikian bukan orang kampung. Bukan tetangganya. Melainkan orang-orang yang punya otoritas dalam hal kesehatan. Bahkan dia pernah menyaksikan di televisi, ketika kalangan elite itu beramai-ramai menyantap daging ayam.
            Arkan masih ingat betul, ketika pertama kali isu flu burung merebak. Di mana-mana orang pun merasa takut makan daging unggas, terutama ayam. Akibatnya penjualan daging ayam di pasar merosot tajam. Khawatir masyarakat akan apriori terhadap daging ayam, orang-orang yang punya otoritas itu makan daging ayam beramai-ramai secara atraktif. Diliput media massa – baik media cetak maupun media elektronika. Rupa-rupanya penurunan jumlah daging ayam yang dikonsumsi masyarakat, pada saat itu,  menimbulkan kecemasan bagi mereka sendiri.
            Ketika menyaksikan tayangan berita makan ayam secara massal, Arkan merasa geli sendiri. Betapa tidak, sebab ia sudah lama tahu ayam yang telah dimasak (meskipun ayam itu sakit) tidak akan membawa dampak buruk bagi orang yang mengkonsumsinya. Meskipun saat itu belum pernah ada penelitian yang menyatakan daging ayam yang dimasak secara benar aman untuk dimakan. Tetangga Arkan – sewaktu ia masih tinggal di desa – tidak akan pernah makan daging ayam kecuali kalau ayam peliharaan itu sakit. Lantaran ayam menjadi tabungan bagi masyarakat di kampungnya. Dan, mereka yang makan ayam tersebut tetap saja sehat walafiat.
            Ya, ketika anak-anak butuh membeli buku. Ayam-ayam itu akan dijual. Atau pada saat menjelang lebaran, unggas-unggas itu akan dibawa ke pasar. Dijual. Hasil penjualan binatang peliharaan itu akan digunakan untuk keperluan lebaran, entah untuk membeli baju atau kue lebaran.
            Karena itu, Arkan merasa orang sekarang pinter-pinter keblinger.
            Ayam-ayam yang ada di kandang ribut. Seolah-olah mereka sedang berbincang tentang nasib mereka esok hari. Karena akan dimusnahkan tanpa diambil manfaatnya. Mungkin pula mereka sedang mempercakapkan nasib majikannya, jika tak memusnahkan mereka. Benar. Jika Arkan masih tetap membiarkan ayam-ayam itu hidup, dia akan mendapat hukuman. Kalau tidak denda ya pasti kurungan.
            Arkan membayangkan percakapan ayam-ayam itu.
            “Pasti kurungan.”
            “Kok pasti kurungan. Bukankah sangsi bagi orang yang masih membiarkan kita hidup bisa berupa denda, tidak mesti penjara.”
            “Iya, mana mungkin majikan kita mampu membayar denda. Berapa penghasilan dia?”
            “Betul juga. Kalau dia orang mampu pasti tidak akan memelihara kita. Orang kalau dia butuh duit juga telor kita dijualnya.”
            “Kenapa dia tidak mendaftarkan kita saja. Biar dapat sertifikat.”
            “Mana mungkin dia membuatkan sertifikasi. Mana dia punya uang?”
            “Membuatkan sertifikasi itu gratis.”
            “Memang betul gratis. Tapi, untuk biaya transport mengurus sertifikasi bisa lebih besar daripada harga kita kalau dijual.”
            “Mungkin kalau nilai jual kita mahal, pasti dia akan bersedia mengurus ...”
            Allahu akbar, allahu akbar
            Suara adzan magrib terdengar, membuyarkan lamunan pensiunan pegawai negeri sebuah departemen itu.
            Lelaki yang sudah lama ditinggal mati istrinya itu bangkit. Masuk rumah.
* * *
            Malam.
            Arkan sudah bersiap-siap tidur. Ia sudah merebahkan diri di atas ranjang. Namun, matanya tak mau terpejam. Ia gelisah. Resah. Bingung. Pusing. Ia benar-benar pusing memikirkan nasib binatang kesayangannya esok hari. Hatinya berdebar-debar menunggu saat-saat yang paling menegangkan. Ayam-ayamnya akan dieksekusi, tanpa diberi kesempatan melakukan pembelaan.
            Benar. Ayam-ayam akan dimusnahkan begitu saja tanpa diperiksa lebih dulu. Apakah unggas itu menderita flu burung atau tidak. Sakit atau tidak. Yang jelas besok semua unggas – ayam, bebek, mentok, angsa, burung dara – yang ada di daerahnya harus dibumi hanguskan. Lantaran mereka dianggap sebagai biang keladi penyebar virus avian influensa.
            Ah, keluh Arkan.
            Lagi-lagi Arkan hanya bisa menghela nafas. Aaah! Untuk menghalau perasaan tegang yang menjalari jiwanya. Sebab Arkan tidak mungkin mendapat kesempatan mempertanyakan pemusnahan unggas yang dianggapnya tidak logis. Bagaimana Arkan bisa menganggap logis pemusnahan unggas milik rakyat itu efektif untuk memotong mata rantai penyebaran virus flu burung jika burung-burung liar, yang bebas berkeliaran, tidak turut serta dimusnahkan. Arkan yakin justru unggas yang berkeliaran secara bebas itulah yang memungkinkan menyebarkan virus yang mematikan tersebut.
            Arkan menganggap pemusnahan unggas ini terlalu didramatisir.
Dengan semboyan “lebih baik manusia atau unggas yang mati,” dramatisasi wabah flu burung menjadi demikian dahsyat. Menegangkan. Mencemaskan. Menakutkan. Orang-orang pun menjadi takut dengan unggas. Ironisnya dari berita yang pernah didengar Arkan, semua korban suspect flu burung bukan orang yang bersentuhan langsung dengan unggas. Bukan pemelihara bukan pula pedagang unggas.
Pun ayah dari seorang anak itu, masih ingat ketika setengah tahun lalu menemani Harun ke rumah sakit. Adik ipar Harun, konon, diduga flu burung. Tetapi ternyata istri Slamet itu negatif flu burung setelah hasil pemeriksaan darahnya di Hongkong diterima rumah sakit tempat Karmila dirawat. Hanya yang diingatnya ketika itu Harun sempat pula suspect terhadap tetangga Slamet.
“Kamu di rumah piara ayam?” tanya Harun kepada Slamet, ketika itu.
“Siapa yang mau mengurus?” Slamet balik bertanya, “Orang saya dan istri juga sama-sama kerja.”
“Tetangga kamu ada yang piara ayam?”
“Tidak ada, Kak.”
“Burung dara, barangkali?” cecar Harun. Menyelidik.
Slamet menggeleng. Lalu katanya, “Di sekitar tempat tinggal kami pun tidak ada orang piara unggas.”
“Tapi, kenapa istrimu dinyatakan suspect flu burung?”
“Entahlah, kak. Kita kan tidak tahu masalah medis. Apa pun yang dikatakan mau tak mau kita harus terpaksa percaya.”
Percakapan Harun dengan adiknya, yang masih diingat Arkan, membuktikan bahwa penderita suspect flu burung bukan orang yang bersentuhan langsung dengan unggas. Setelah istri Slamet dinyatakan negatif flu burung. Anehnya, jenasah Karmila – istri Slamet – harus dibungkus plastik dan dimasukkan ke dalam peti. Dan petinya tidak boleh dibuka hingga ditanam di pekuburan.
Keheranan lelaki yang sudah lama pensiun itu, jika ada ayam mati mendadak – apalagi jumlahnya lebih dari satu. Langsung saja menimbulkan ketakutan massal dalam masyarakat. Mereka cemas kalau telah terjadi penyebaran virus avian influensa.
Padahal pengalaman Arkan yang sejak kecil sering memelihara ayam. Tak pernah ada ayam mati yang bilang-bilang terlebih dulu. Semuanya mati mendadak. Bahkan dia pernah mengalaminya sendiri. Jika ada ayam yang mati dan tidak segera dikeluarkan dari kandang – dapat dipastikan – langsung akan menular kepada ayam lainnya yang berada dalam satu kandang.
Ah, lagi-lagi Arkan hanya bisa berkata Ah.
Ah, andaikata Tulus masih tinggal bersamanya, Arkan bisa menyampaikan uneg-unegnya. Mungkin anak itu bisa membelanya. Paling tidak dia berharap anaknya yang semata wayang yang jadi seorang polisi itu akan ikut membantunya. Menolongnya. Agar binatang piaraannya tidak mati sia-sia.
Sayang, Tulus bertugas di pulau lain. Dan, Arkan tak mungkin menghubunginya. Toh misalkan Tulus bisa dihubungi dia tetap tidak yakin anaknya bisa berbuat sesuatu. Bahkan mungkin Tulus akan sepakat dengan slogan dramatisasi flu burung “Lebih baik manusia atau unggas yang mati.”
Arkan masih memandang langit-langit kamar.
Dia tidak bisa membayangkan andaikan unggas-unggas penduduk harus musnah. Ya, jika pemusnahan itu terjadi Arkan yakin suatu ketika bebek hanya ada dalam bentuk patung, ayam jago hanya dapat ditemui pada celengan, burung dara mungkin menjadi sebuah mitos. Menjadi legenda. Sebagaimana cerita belibis atau Jatayu dalam kisah Ramayana. Lalu bagaimana dengan jenis unggas yang lain? Haruskah mereka menjadi bahan cerita pengantar tidur anak? Ah, lagi-lagi Arkan hanya mendesah. Ah. Sebab dia tidak yakin cerita itu akan tetap menarik buat anak. Bukankah cerita kancil sendiri sudah tidak menarik lagi bagi anak sekarang? Bagaimana mungkin cerita tentang unggas bisa punya daya pikat ketika kemajuan zaman sudah lebih pesat dari sekarang.
Dunia memang sudah jungkir balik.
Logika sudah ditunggangi oleh ketakutan yang tak beralasan.
Untuk mengurangi kekalutan pikirannya, Arkan berulangkali menyebut nama Tuhan. Lelaki itu merasa tidak berdaya akan menghadapi peristiwa yang ada di luar jangkauan nalarnya esok hari. Dia tidak tega bila binatang kesayangannya mati sia-sia.
Mulut Arkan tak henti-henti memanjatkan doa agar Tuhan menyadarkan orang-orang yang hendak mengeksekusi ayam-ayam miliknya.
Arkan menyadari hanya doa satu-satunya yang bisa dilakukannya. Dia berharap agar Tuhan memberikan kesadaran bahwa ayam peliharaan bisa memberi other-income bagi pemiliknya. Lantaran sebagian tetangganya juga sudah mulai curiga binatang peliharaannya akan menyebarkan wabah penyakit yang konon belum ada obatnya. Bahkan mungkin belum bisa terdeteksi secara medis. Bukankah selama ini pengidap penyakit ini selalu diembel-embeli dengan kata suspect atau yang dicurigai?
Lelaki yang mulai memelihara ayam lagi setelah pensiun itu, menyadari tidak bisa sepenuhnya mengandalkan hidup dari uang pensiun yang jumlahnya tidak sebanding dengan kebutuhan hidup. Sementara itu, mencari tambahan penghasilan dengan mencari pekerjaan lain. Arkan merasa sudah tidak punya kemampuan. Mungkin dia bisa ngojek. Namun, pekerjaan ini tak mungkin bisa dikerjakan. Sebab tak punya sepeda motor.
Mulut lelaki itu tak henti-hentinya melontarkan untaian doa. Tanpa sadar kedua matanya basah. Arkan menangis. Bersamaan dengan itu, tiba-tiba hujan deras seperti ditumpahkan dari langit. Alam ikut merasa prihatin melihat kegelisahan dan kebingungan Arkan. Guntur sambar menyambar di udara. Suaranya menggelegar. Seakan-akan mereka mewakili teriakan Arkan yang ingin menjerit tetapi tak mampu. Mungkin alam tengah meneruskan jeritan hati salah seorang anak manusia ke atas langit.
Entah pukul berapa Arkan baru bisa memejamkan mata. Yang pasti, dia baru tertidur setelah dirinya tak mampu lagi menahan rasa kantuk. Setelah ayam-ayam yang ada di kandangnya berkokok.
* * *
Pagi.
Arkan terlambat bangun. Dia baru terjaga setelah mendengar kegaduhan di luar. Ya, dia mendengar suara ribut di luar rumah. Ketika turun dari tempat tidur. Lelaki berperawakan kerempeng itu baru sadar kalau rumahnya sudah disantroni air. Banjir.
Untuk kali yang pertama rumah Arkan ditengok oleh air.
Karena saking bingungnya, Arkan langsung keluar rumah setelah merasa kakinya menyentuh air. Ia tidak sempat berpikir lagi. Tak cuci muka terlebih dulu apalagi sempat mandi dan gosok gigi. Ketika membuka pintu dia melihat para tetangga sedang berusaha menyelamatkan diri. Mengungsi.
Arkan ikut mereka. Mengungsi. Yang penting nyawanya selamat. Lantaran banjir yang datang melanda daerahnya, begitu cepat meninggi.
* * *
Tiga hari kemudian.
Banjir sudah surut. Arkan bersama para tetangga, kembali ke rumah masing-masing. Tanah merah dan sampah memenuhi jalan menuju rumah.
Sampai di rumah, Arkan ingat sesuatu. Lalu dia segera pergi ke halaman belakang rumahnya.
Ah, untuk ke sekian kalinya ia menghela napas panjang. Aaah.
Arkan melihat kandang ayamnya telah lenyap. Hilang terbawa air. Demikian pula penghuninya. Tak ada satu pun yang tersisa. Ya, binatang piaraan Arkan tandas terbawa air. Namun, hanya sesaat dia merasa kecewa. Dia tidak akan mungkin melihat ayam-ayam tak berdosa miliknya dieksekusi.
Memang. Arkan telah kehilangan ayam-ayam  itu. Tetapi, Arkan ikhlas. Karena ayam-ayam itu diambil oleh alam. Bukan dieksekusi. Dia pun tidak perlu khawatir akan didenda apalagi dipenjara.
Lelaki itu cukup lama berdiri mematung di halaman belakang rumah. Dia bukan menyesali mereka yang telah lenyap. Melainkan dia merasa bersyukur karena tidak perlu menyaksikan binatang yang selama ini telah banyak jasanya terhadap manusia harus dibantai. Dimusnahkan. Dibakar hidup-hidup bersama kandangnya. Dan, dia pasti tidak akan tega melihat binatang kesayangannya diperlakukan demikian.
Buktinya ketika menyaksikan peristiwa itu ditayangkan oleh televisi, Arkan pun sempat menitikkan airmata. Menangis. Sebab sejak kecil dia sudah bersahabat dengan ayam kampung. Bahkan adakalanya curhat kepada binatang itu.
Malang nian unggas di tanah merdeka.
Ah, andaikata tak ada banjir .....

* * *

Tangerang  2007  -  2008