Hijrah adalah salah satu novel yang mendapatkan apresiasi dari Pusat
Perbukuan depdiknas, tetapi belum pernah diterbitkan dalam bentuk buku. Pun,
Hijrah merupakan kelanjutan novel
“Bukan Hak Manusia” (sudah diterbitkan oleh Pustaka Insan Madani, Yogyakarta) yang
menjadi salah satu pemenang pada lomba penulisan fiksi keagamaan yang
diselenggarakan oleh Pendidikan Agama dan Keagamaan, Departemen Agama RI.
Novel ini menceritakan
kisah seorang jawara, Sanwani, yang memiliki ilmu – beladiri dan spiritual –
yang mumpuni. Tak heran ia sangat disegani, bukan hanya oleh
masyarakat biasa namun juga dari kalangan begal. Tak sedikit orang yang hanya
tahu namanya saja. Sebab tampilannya berbeda dari kaum jawara pada umumnya. Ia
tak pernah lagi mengenakan celana pangsi hitam, menenteng golok, rambut
awut-awutan, dan berikat kepala, seperti pada umumnya jawara di Betawi.
Kendati ia sangat ditakuti
dan disegani banyak orang, yang membuat dirinya selalu percaya diri. Namun,
setelah istrinya terbunuh Sanwani baru menyadari dirinya ternyata tak punya
kemampuan apa-apa. Hidupnya pun sering gelisah. Atas saran salah satu
guru spiritualnya – Guru Suhaemi - akhirnya Sanwani hijrah. Pindah tempat
tinggal agar masa lalunya yang kelam bisa terlupakan.
Lalu, apa yang dilakukan
guru spiritualnya hingga Sanwani bersedia hijrah. Kenapa pula sang jawara ini
tak setuju anaknya – Sabeni – melanjutkan ‘profesi’nya sebagai centeng alias
Jawara. Bagaimana pergulatan batin Sanwani ketika mendapat nasehat dari salah
satu sang guru spiritualnya untuk berhijrah. Sebab seperti kita tahu hijrah
bukan cuma pindah. Melainkan juga berarti menghindar atau
menyingkir, Sementara menghindar atau menyingkir sama artinya kalah. Bagaimana
mungkin seorang jawara harus ‘kalah” dalam menghadapi hidup. Simak ceritanya!
InsyaAllah mencerahkan dan jadi bahan renungan.***

No comments:
Post a Comment