Tuesday, March 22, 2022

sekilas tentang novel Hijrah, karya Humam S. Chudori

 


Hijrah adalah salah satu novel yang mendapatkan apresiasi dari Pusat Perbukuan depdiknas, tetapi belum pernah diterbitkan dalam bentuk buku. Pun, Hijrah merupakan  kelanjutan novel “Bukan Hak Manusia” (sudah diterbitkan oleh Pustaka Insan Madani, Yogyakarta) yang menjadi salah satu pemenang pada lomba penulisan fiksi keagamaan yang diselenggarakan oleh Pendidikan Agama dan Keagamaan, Departemen Agama RI.

            Novel ini menceritakan kisah seorang jawara, Sanwani, yang memiliki ilmu – beladiri dan spiritual – yang mumpuni. Tak heran ia sangat disegani, bukan hanya oleh masyarakat biasa namun juga dari kalangan begal. Tak sedikit orang yang hanya tahu namanya saja. Sebab tampilannya berbeda dari kaum jawara pada umumnya. Ia tak pernah lagi mengenakan celana pangsi hitam, menenteng golok, rambut awut-awutan, dan berikat kepala, seperti pada umumnya jawara di Betawi.

            Kendati ia sangat ditakuti dan disegani banyak orang, yang membuat dirinya selalu percaya diri. Namun, setelah istrinya terbunuh Sanwani baru menyadari dirinya ternyata tak punya kemampuan apa-apa. Hidupnya pun sering gelisah. Atas saran salah satu guru spiritualnya – Guru Suhaemi - akhirnya Sanwani hijrah. Pindah tempat tinggal agar masa lalunya yang kelam bisa terlupakan.

            Lalu, apa yang dilakukan guru spiritualnya hingga Sanwani bersedia hijrah. Kenapa pula sang jawara ini tak setuju anaknya – Sabeni –  melanjutkan ‘profesi’nya sebagai centeng alias Jawara. Bagaimana pergulatan batin Sanwani ketika mendapat nasehat dari salah satu sang guru spiritualnya untuk berhijrah. Sebab seperti kita tahu hijrah bukan cuma pindah. Melainkan juga berarti menghindar atau menyingkir, Sementara menghindar atau menyingkir sama artinya kalah. Bagaimana mungkin seorang jawara harus ‘kalah” dalam menghadapi hidup. Simak ceritanya! InsyaAllah mencerahkan dan jadi bahan renungan.***

 

           

No comments:

Post a Comment