PACAR CANTIK DI KAPAL SELAMKU, novel
RAHMAT ALI
·
catatan sejarah
yang tak masuk sejarah
Sebuah
karya sastra – tak terkecuali yang diracik dalam bentuk novel – akan terasa lebih ‘hidup dan realistik’ jika sang penulis
memiliki pengalaman sesuai dengan karya yang ditulisnya. Apalagi jika karya fiksi
tersebut merupakan karya realis.
Benar. Karya sastra bukan sebuah
catatan kisah nyata. Namun, apabila sang penulis tidak memahami realitas yang
sebenarnya . Maka karya sastra itu tak lebih dari karya rekaan yang tidak
logis.
Memang. Karya sastra tidak harus logik – dapat diterima nalar oleh
masyarakat umum. Bukankah sampai saat
ini tak sedikit seniman – termasuk sebagian sastrawan – yang masih berprinsip l’art pour l’art (seni untuk seni).
Sehingga sebuah karya seni tidak harus bisa dipahami secara umum oleh masyarakat. Lantaran seni adalah keindahan. Sedangkan keindahan itu bersifat relative. Dalam seni lukis, misalnya, ada yang beraliran
abstrak, kubisme, surealis, ekspresionis, dsb.
Demikian pula, dalam seni
susastra. Ada yang masuk dalam kategori absurd atau surealis. Sebutlah
cerpen-cerpen yang ditulis Danarto, Triyanto Triwikromo, Seno Gumira Ajidarma,
Putu Wijaya (sekedar menyebut beberapa nama). Kendati tidak semua karya yang
ditulis mereka termasuk kategori demikian. Namun, juga ada karya mereka yang
termasuk realis. Sementara dalam penulisan sajak, pernah sempat pula muncul
istilah puisi gelap. Yakni puisi-puisi yang sangat sulit untuk dicerna oleh
kalangan pembaca awam.
Karya semacam ini, tentu saja,
sah-sah saja. Namun, diakui atau tidak, karya seni yang tak dapat dinikmati
banyak orang hanya mungkin bisa jadi ‘hiasan budaya’ (pinjam istilah AYH).
Karena tak
ada ‘message’
yang mampu dicerna masyarakat.
Beda dengan karya seni yang
beraliran realis (apa pun cabang keseniannya) yang dapat dinikmati oleh semua
kalangan. Ia tak cuma menjadi ‘hiasan’ budaya. Melainkan dapat juga menyelipkan moral message kepada penikmatnya. Karena
karya yang realis sangat logic sesuai dengan hukum alam.
Itulah sebabnya untuk
menghasilkan karya seni yang demikian, tak jarang seorang seniman (khususnya
dalam karya sastra), akan melakukan observasi, terjun langsung ke lapangan
untuk mendapatkan situasi yang sebenarnya, bahkan jika perlu ‘menyatu’ dengan
tokoh yang hendak ditulisnya.
Bambang Joko Susilo (BJS),
misalnya. Bukan cuma sekali BJS akan ‘re-inkarnasi’ sebagai tokoh yang akan ditulisnya.
Ketika hendak menulis novel Suatu Hari di
Stasiun Bekasi, (novel ini merupakan pemenang lomba fiksi anak yang
diadakan Depag RI) ia mengembara dan ‘hidup’ layaknya ‘anak jalanan’ yang ada
di stasiun. Demikian juga, ketika ia hendak menulis novel Anak-anak Merapi. Ia pun harus pergi ke Yogyakarta (untuk
menyaksikan lokasi, situasi, kondisi anak-anak yang mengalami gempa, mencoba
memahami psikologis anak-anak di sana) hingga dua bulan lamanya.
Namun, tidak demikian halnya
dengan Rahmat Ali untuk menulis Pacar
Cantik di Kapal Selamku. Ia tak perlu harus mrungsungi untuk menjadi tokoh dalam novelnya tersebut. Lantaran
Rahmat Ali punya pengalaman dengan sesuatu yang ditulisnya. Ya, ia pernah
menjadi tentara AL, sebagai mariner KKO, sehingga tak perlu lagi ‘belajar’
tentang nama-nama dari isi dan komponen kapal selam, berapa kecepatan kapal
selam dan kedalaman yang bisa dilalui kapal selam, jenis-jenis senjata yang
digunakan untuk berperang, apa saja tugas
seorang mariner yang bertugas di kapal selam, hingga hal-hal detil lainnya.
Karena itu, meski cerita rekaan (baca: novel) Pacar Cantik di Kapal Selamku seperti layaknya sebuah foto copy ‘kisah
nyata’ yang dituliskan oleh sang novelis. Alur ceritanya jelas, logis, tak
mengawang, hingga bisa disimak oleh pembacanya. Ceritanya dapat dinikmati siapa
saja.
Pacar Cantik di Kapal Selamku berkisah tentang seorang marinir yang bernama Darmadi yang jatuh cinta dengan
seorang gadis rusia, Martina Debruska. Perjalanan cinta dengan si gadis
berambut benang rami keperak-perakan (barangkali maksudnya rambut pirang) sebetulnya secara tak sengaja. Mungkin karena Darmadi orang
Jawa yang punya keyakinan wiwiting tresno
jalaran soko kulino. Karena sering bertemu itulah membuat mereka saling
jatuh cinta. Padahal kedua makhluk berlainan jenis ini berlainan profesi.
Darmadi seorang ABK kapal selam, sementara Martina Debruska seorang guru piano.
Lantaran bertugas di kapal selam,
Darmadi akhirnya (dengan bakat alam yang dimilikinya) menggambar Martina
Debruska di salah
satu ruang kapal. Ya, jika Darmadi merasa rindu dengan gadis Rusia
itu, ia akan menatapi lukisan karya sendiri.
Namun, apa yang dilakukannya
membuat beberapa temannya membuli Darmadi. Lama-lama dibuli, ia pun tak kuat.
Emosinya memuncak. Dan, ia pun berkelahi dengan teman-teman ABK yang
membulinya. Pertikaian berakhir tatkala sang atasan datang.
Ketika pulang ke Indonesia,
rupa-rupanya sang ibu telah mempersiapkan calon bagi anaknya. Ningsih. Seorang
guru tari yang juga merasa mencintai Darmadi. Gadis ini benar-benar “gila”
sampai tetap menginginkan Darmadi menjadi pendamping hidupnya.
Simaklah percakapan antara Darmadi
dengan Ningsih
….
Bagaimana jika nanti kalau aku kawin dengan Martina?
Aku ngurus penyelenggaraan pesta Mas berdua
Kamu sendiri?
Nunggu sampai Mas pisah dengan Martina
Kan lama?
Tidak apa
Kamu menyia-nyiakan waktu mekarmu
Kan sekarang masih sempat sama-sama Mas
Jika sampai tua masih terus sama dia
Ya, seumur-umur aku tidak kawin!
Carilah lelaki lain saja, masih lebar jagat ini
Tidak mau, pilihanku Mas Dar di depanku ini
Edan kamu, Ningsih
Demi mas Dar tidak apa edan
Kamu kujadikan adikku saja
Tidak
Maumu
Jadi isterimu nantinya
…..
Halaman 218
Di sinilah cinta Darmadi diuji.
Antara si gadis Rusia atau si gadis Jawa. Antara Marina Debruska dan Ningsih.
Pacar Cantik di Kapal Selamku, bukan
sekedar cerita cinta layaknya novel remaja. Karena kisah cinta yang dikemas di
novel ini dibumbui dengan berbagai macam peristiwa-peristiwa yang mengandung
sejarah yang terjadi pada saat itu. Bukan saja saat terjadinya peristiwa G.30.S
– PKI. Melainkan juga perjuangan seorang tentara (dalam hal ini KKO) yang
mendapat tugas berat dari negara untuk melawan Belanda.
Kendati banyak terjadi konflik –
tak terkecuali konflik batin yang dialami Darmadi. Namun, alur ceritanya
tetap mengalir lancar dan memikat. Hingga menimbulkan naluri ingin tahu pembaca
untuk terus menyimak dari bab satu ke bab berikutnya. Dalam menggambarkan peralatan yang ada di kapal selam, Rahmat Ali cukup
gamblang menuliskannya. Rahmat Ali tak perlu memberikan catatan khusus seperti halnya Andre Herata dalam novel Laskar Pelangi. Betapa capeknya pembaca
jika harus bolak balik ‘mengintip’ penjelasan tentang nama-nama peralatan di
kapal selam, seperti halnya ketika kita membaca Laskar Pelangi.
Meskipun demikian, pembaca tetap dituntut
cermat untuk membaca novel ini. Betapa tidak, sang tokoh yang bernama Darmadi
bisa sebagai Madov, bisa hanya Mad, kadang dipanggil dengan Dar atau Mas Dar.
Novel
ini, sepintas lalu, seperti sebuah ‘kisah cinta’ sepasang
manusia. Tetapi,
sesungguhnya Pacar
Cantik di Kapal Selamku boleh disebut sebagai novel sejarah. Sejarah
prajurit TNI (dalam hal ini KKO) yang tak pernah tercatat dalam sejarah.
Novel yang mengambil lokasi di
Wladiwostok, tempat pangkalan angkatan laut tingkat dunia di Rusia, tidak
heran, ada beberapa percakapan (pendek) dengan menggunakan
Bahasa Rusia. Sayangnya, percakapan Bahasa Rusia ini tidak diterjemahkan oleh
sang novelis.
Lalu, bagaimana keputusan Darmadi
dalam menentukan pilihan. Ningsih si gadis Jawa atau Martina Debruska si rambut
benang rami keperak-perakan? Ingin tahu, baca saja novelnya.
Jalesveva Jayamahe!***Humam S. Chudori, penikmat sastra,
tinggal di Tangerang Selatan

