Thursday, July 18, 2019

novel Rahmat Ali: Pacar Cantik di Kapal Selamku



PACAR CANTIK DI KAPAL SELAMKU, novel RAHMAT ALI
·         catatan sejarah yang tak masuk sejarah

            Sebuah karya sastra – tak terkecuali yang diracik dalam bentuk novel – akan terasa lebih ‘hidup dan realistik’ jika sang penulis memiliki pengalaman sesuai dengan karya yang ditulisnya. Apalagi jika karya fiksi tersebut merupakan karya realis.
Benar. Karya sastra bukan sebuah catatan kisah nyata. Namun, apabila sang penulis tidak memahami realitas yang sebenarnya . Maka karya sastra itu tak lebih dari karya rekaan yang tidak logis.
Memang. Karya sastra tidak harus logik – dapat diterima nalar oleh masyarakat umum.  Bukankah sampai saat ini tak sedikit seniman – termasuk sebagian sastrawan – yang masih berprinsip l’art pour l’art (seni untuk seni). Sehingga sebuah karya seni tidak harus bisa dipahami secara umum oleh masyarakat. Lantaran seni adalah keindahan. Sedangkan keindahan itu bersifat relative. Dalam seni lukis, misalnya, ada yang beraliran abstrak, kubisme, surealis, ekspresionis, dsb.
Demikian pula, dalam seni susastra. Ada yang masuk dalam kategori absurd atau surealis. Sebutlah cerpen-cerpen yang ditulis Danarto, Triyanto Triwikromo, Seno Gumira Ajidarma, Putu Wijaya (sekedar menyebut beberapa nama). Kendati tidak semua karya yang ditulis mereka termasuk kategori demikian. Namun, juga ada karya mereka yang termasuk realis. Sementara dalam penulisan sajak, pernah sempat pula muncul istilah puisi gelap. Yakni puisi-puisi yang sangat sulit untuk dicerna oleh kalangan pembaca awam.
Karya semacam ini, tentu saja, sah-sah saja. Namun, diakui atau tidak, karya seni yang tak dapat dinikmati banyak orang hanya mungkin bisa jadi ‘hiasan budaya’ (pinjam istilah AYH). Karena tak ada ‘message’ yang mampu dicerna masyarakat.
Beda dengan karya seni yang beraliran realis (apa pun cabang keseniannya) yang dapat dinikmati oleh semua kalangan. Ia tak cuma menjadi ‘hiasan’ budaya. Melainkan dapat juga menyelipkan moral message kepada penikmatnya. Karena karya yang realis sangat logic sesuai dengan hukum alam.
Itulah sebabnya untuk menghasilkan karya seni yang demikian, tak jarang seorang seniman (khususnya dalam karya sastra), akan melakukan observasi, terjun langsung ke lapangan untuk mendapatkan situasi yang sebenarnya, bahkan jika perlu ‘menyatu’ dengan tokoh yang hendak ditulisnya.
Bambang Joko Susilo (BJS), misalnya. Bukan cuma sekali BJS akan ‘re-inkarnasi’ sebagai tokoh yang akan ditulisnya. Ketika hendak menulis novel Suatu Hari di Stasiun Bekasi, (novel ini merupakan pemenang lomba fiksi anak yang diadakan Depag RI) ia mengembara dan ‘hidup’ layaknya ‘anak jalanan’ yang ada di stasiun. Demikian juga, ketika ia hendak menulis novel Anak-anak Merapi. Ia pun harus pergi ke Yogyakarta (untuk menyaksikan lokasi, situasi, kondisi anak-anak yang mengalami gempa, mencoba memahami psikologis anak-anak di sana) hingga dua bulan lamanya.
Namun, tidak demikian halnya dengan Rahmat Ali untuk menulis Pacar Cantik di Kapal Selamku. Ia tak perlu harus mrungsungi untuk menjadi tokoh dalam novelnya tersebut. Lantaran Rahmat Ali punya pengalaman dengan sesuatu yang ditulisnya. Ya, ia pernah menjadi tentara AL, sebagai mariner KKO, sehingga tak perlu lagi ‘belajar’ tentang nama-nama dari isi dan komponen kapal selam, berapa kecepatan kapal selam dan kedalaman yang bisa dilalui kapal selam, jenis-jenis senjata yang digunakan untuk berperang,  apa saja tugas seorang mariner yang bertugas di kapal selam, hingga hal-hal detil lainnya. Karena itu, meski cerita rekaan (baca: novel) Pacar Cantik di Kapal Selamku seperti layaknya sebuah foto copy ‘kisah nyata’ yang dituliskan oleh sang novelis. Alur ceritanya jelas, logis, tak mengawang, hingga bisa disimak oleh pembacanya. Ceritanya dapat dinikmati siapa saja.
Pacar Cantik di Kapal Selamku berkisah tentang seorang marinir yang bernama Darmadi yang jatuh cinta dengan seorang gadis rusia, Martina Debruska. Perjalanan cinta dengan si gadis berambut benang rami keperak-perakan (barangkali maksudnya rambut pirang) sebetulnya secara tak sengaja. Mungkin karena Darmadi orang Jawa yang punya keyakinan wiwiting tresno jalaran soko kulino. Karena sering bertemu itulah membuat mereka saling jatuh cinta. Padahal kedua makhluk berlainan jenis ini berlainan profesi. Darmadi seorang ABK kapal selam, sementara Martina Debruska seorang guru piano.
Lantaran bertugas di kapal selam, Darmadi akhirnya (dengan bakat alam yang dimilikinya) menggambar Martina Debruska di salah satu ruang kapal. Ya, jika Darmadi merasa rindu dengan gadis Rusia itu, ia akan menatapi lukisan karya sendiri.
Namun, apa yang dilakukannya membuat beberapa temannya membuli Darmadi. Lama-lama dibuli, ia pun tak kuat. Emosinya memuncak. Dan, ia pun berkelahi dengan teman-teman ABK yang membulinya. Pertikaian berakhir tatkala sang atasan datang.
Ketika pulang ke Indonesia, rupa-rupanya sang ibu telah mempersiapkan calon bagi anaknya. Ningsih. Seorang guru tari yang juga merasa mencintai Darmadi. Gadis ini benar-benar “gila” sampai tetap menginginkan Darmadi menjadi pendamping hidupnya.
Simaklah percakapan antara Darmadi dengan Ningsih
….
Bagaimana jika nanti kalau aku kawin dengan Martina?
Aku ngurus penyelenggaraan pesta Mas berdua
Kamu sendiri?
Nunggu sampai Mas pisah dengan Martina
Kan lama?
Tidak apa
Kamu menyia-nyiakan waktu mekarmu
Kan sekarang masih sempat sama-sama Mas
Jika sampai tua masih terus sama dia
Ya, seumur-umur aku tidak kawin!
Carilah lelaki lain saja, masih lebar jagat ini
Tidak mau, pilihanku Mas Dar di depanku ini
Edan kamu, Ningsih
Demi mas Dar tidak apa edan
Kamu kujadikan adikku saja
Tidak
Maumu
Jadi isterimu nantinya
…..
Halaman 218
Di sinilah cinta Darmadi diuji. Antara si gadis Rusia atau si gadis Jawa. Antara Marina Debruska dan Ningsih.
Pacar Cantik di Kapal Selamku, bukan sekedar cerita cinta layaknya novel remaja. Karena kisah cinta yang dikemas di novel ini dibumbui dengan berbagai macam peristiwa-peristiwa yang mengandung sejarah yang terjadi pada saat itu. Bukan saja saat terjadinya peristiwa G.30.S – PKI. Melainkan juga perjuangan seorang tentara (dalam hal ini KKO) yang mendapat tugas berat dari negara untuk melawan Belanda.
Kendati banyak terjadi konflik – tak terkecuali konflik batin yang dialami Darmadi. Namun, alur ceritanya tetap mengalir lancar dan memikat. Hingga menimbulkan naluri ingin tahu pembaca untuk terus menyimak dari bab satu ke bab berikutnya. Dalam menggambarkan peralatan yang ada di kapal selam, Rahmat Ali cukup gamblang menuliskannya. Rahmat Ali tak perlu memberikan catatan khusus seperti halnya Andre Herata dalam novel Laskar Pelangi. Betapa capeknya pembaca jika harus bolak balik ‘mengintip’ penjelasan tentang nama-nama peralatan di kapal selam, seperti halnya ketika kita membaca Laskar Pelangi.
Meskipun demikian, pembaca tetap dituntut cermat untuk membaca novel ini. Betapa tidak, sang tokoh yang bernama Darmadi bisa sebagai Madov, bisa hanya Mad, kadang dipanggil dengan Dar atau Mas Dar.
Novel ini, sepintas lalu, seperti sebuah ‘kisah cinta’ sepasang manusia. Tetapi, sesungguhnya Pacar Cantik di Kapal Selamku boleh disebut sebagai novel sejarah. Sejarah prajurit TNI (dalam hal ini KKO) yang tak pernah tercatat dalam sejarah.
Novel yang mengambil lokasi di Wladiwostok, tempat pangkalan angkatan laut tingkat dunia di Rusia, tidak heran, ada beberapa percakapan (pendek) dengan menggunakan Bahasa Rusia. Sayangnya, percakapan Bahasa Rusia ini tidak diterjemahkan oleh sang novelis.
Lalu, bagaimana keputusan Darmadi dalam menentukan pilihan. Ningsih si gadis Jawa atau Martina Debruska si rambut benang rami keperak-perakan? Ingin tahu, baca saja novelnya.
Jalesveva Jayamahe!***Humam S. Chudori, penikmat sastra, tinggal di Tangerang Selatan





Thursday, July 11, 2019

sajak Humam S. Chudori, MARI BICARA TUAN PRESIDEN


MARI BICARA, TUAN PRESIDEN

mari bicara, tuan presiden
agar tak malu, kau
ingin kuceritakan perempuan renta
yang selalu memilah nasi aking
pengganjal perut
padahal tubuhnya telah bangkrut
dimakan usia, keriput

mari bicara, tuan presiden
agar tak dosa, kau
pernah kulihat di televisi
warga menusuk lurah sendiri
karena tak terbagi
subsidi bbm dalam negeri
atau kompensasi inflasi
nan tak bisa dimengerti

mari bicara, tuan presiden
agar tak salah, kau
tidak tahukah kau
banyak bayi kurang gizi
bahkan tetek sang ibu
tak lagi berisi susu
sebab,
tak ada asupan berarti
tersuap ke mulut si ibu

mari bicara, tuan presiden
agar tak ditagih di akhirat, kau
lupakah kau akan janji-janji
yang meluncur deras bagai air kali
lewat mulut yang dengan santai
bicara ala rakyat jelata
ingat, wahai tuan presiden
janji bukan sekedar kata
tanpa makna,
tuan presiden, kau
bukanlah bayi yang belajar bicara

mari bicara, tuan presiden
jangan kau ucap kata, ya
“gitu aja repot.
sebab semua persoalan rakyat
tak pernah membuatmu repot

mari bicara, tuan presiden
jangan kau bilang, ya
“saya turut prihatin.
sebab yang dibutuhkan mereka, kini
bukan hanya atensi basa-basi

mari bicara tuan presiden
jangan kau katakan, ya
“bukan urusan saya.
sebab kau tak pernah merasa
perut lapar yang membuat derita
atau marah meradang si papa
pun kebosanan menunggu janji
yang tak pernah nyata.


Sumber, buku antologi puisi HPI 2016, Matahari Cinta Samudera Kata
Penulis: Rida K. Liamsi, dkk