kumpulan
cerpen Pesta Cinta dalam Hujan karya Pudwianto ‘similikiti’ Arisanto
· * Keindahannya
baru bisa dinikmati, setelah mengerutkan dahi
Siapa sangka penyair Pudwianto “similikiti”
Arisanto, ternyata, tidak cuma piawai dalam menulis sajak-sajak yang ‘memusingkan’
namun menghadirkan moral message yang
dapat menyadarkan pembaca akan suatu peristiwa yang perlu dijadikan pelajaran
hidup. Sebutlah kumpulan sajaknya yang terkumpul dalam Fantasi Hati Koyak atau
Surat Bugil, misalnya. Jika dalam Surat Bugil, penyair similikiti ini mencoba
memotret tentang bahayanya hidup hedonis sehingga yang dijadikan berhala bukan
cuma sesuatu yang bersifat materialistik. Melainkan juga akhirnya menjadikan
manusia kembali kepada hal-hal yang bersifat klenik. Mencari kekuatan-kekuatan
yang bersifat gaib. Menggantungkan harapan kepada sesuatu selain Allah. Menjadi
musyrik. Sementara dalam Fantasi Hati Koyak, Pudwianto “similikiti” Arisanto
menjabarkan tentang dampak buruk yang diakibatkan oleh narkoba.
Saya katakan sajak-sajak yang ditelurkan oleh
penyair kelahiran Pasuruan (25 Juni 1955) ini cukup “memusingkan” karena ia
menggunakan diksi-diksi yang unik. Metafora yang tak biasa. Nyleneh. Majaz yang
tak umum. Gaya bahasa yang digunakan tak lazim. Menghindari penggunaan kata
depan di, ke, dan me. Sehingga untuk memahami satu sajaknya saja, terkadang
harus mengerutkan kening. Mengernyitkan kening. Membuat kepala “pusing.” karena sedemikian “rumitnya’
kata-kata yang dipilihnya. Meski pun – sebetulnya – kata itu termaktub dalam kamus.
Kata-kata yang “biasa’ tetapi di tangan penyair ini kata yang biasa saja itu
menjadi sangat “luar biasa” setelah diracik dalam sajak. Menimbulkan decak
kagum pembaca. Bahkan terkadang menimbulkan sesuatu yang aneh hingga pembaca
akan tertawa – atau paling tidak tersenyum – setelah membaca sajak-sajaknya.
Tetapi, tidak jarang, menimbulkan pertanyaan-pertanyaan dalam benak kita usai
membaca sajak karya lelaki yang selalu tampil bersahaja. Padahal kalau sedang
membacakan sajak ia terlihat galak. Garang. Meledak-ledak. Sangat ekspresif. Mungkin
karena penghayatannya yang mendalam terhadap sajak yang ditulisnya. Bisa juga
karena ia ingin mengekspresikan perasaannya yang ingin ia luapkan saat membaca
karyanya itu.
Lalu bagaimana dengan cerpen yang ditulisnya? Tentu saja,
tak jauh beda dengan sajak-sajak yang ditulisnya. Unik. Nyleneh. Tak umum.
Bahkan dalam kumpulan cerpen “Pesta Cinta dalam Hujan” Pudwianto seperti tengah
memaparkan selaksa kegelisahan batinnya melihat realitas yang ada dalam
masyarakat. Cerpen-cerpen yang terkumpul di buku ini, memang, bermain-main
dalam wilayah batin. Hanya saja Pudwianto ‘similikiti’ Arisanto tidak
membeberkan jenis-jenis ‘kegelisahan batin’ dalam buku kumpulan cerpen ini.
Dari lima belas cerpen yang terkumpul Pesta Cinta
Dalam Hujan, terdapat judul-judul yang membuat pembaca akan bertanya-tanya. Simaklah beberapa
judulnya (di luar Pesta cinta dalam hujan – yang dijadikan tajuk Buku kumpulan
cerpen ini). Pudwianto menulis judul “Hujan
dari Dalam,” Dalam Pengawalan Gelora Takbir, Panjang Jiwa Gelisah, Dalam Ritme-Ritme Malam, Sudut Hati Tumbuh
Gelisah, Berani Brutal, Dalam Luka Dalam. Dll. Dan, hampir semua, cerpen
tersebut
menggambarkan pergulatan batin seseorang. Meskipun – tentu saja –
kontradiksi di dalam batin itu berbeda penyebab dan alur ceritanya. Sebab tokoh
yang mengalami pergulatan psikologis itu tidak sama. Berbeda profesi, berbeda
jenis kelamin, berbeda situasi, dan berbeda penyebab konflik batin itu. Namun,
semua dikemas dengan sangat apik dalam cerpen.
Sayangnya, Pudwianto tidak konsisten dalam
menggunakan kalimat pada cerpen-cerpen yang terkumpul di sini. Terkadang ia
menggunakan kalimat-kalimat pendek seperti halnya cerpen yang ditulis oleh
Ahmad Tohari. Adakalanya menggunakan kalimat yang cukup panjang seperti
kalimat-kalimat yang ditulis oleh Umar Kayam. Bahkan dalam buku ini ada yang dalam
satu paragrap nyaris tak ada satu titik pun. Sehingga untuk membacanya diperlukan
panjang nafas.
Yang menarik dari cerpen-cerpen ini, sang cerpenis
mampu menceritakan sesuatu alur cerita dengan kalimat yang indah. Tidak to the point. Tetapi sangat jelas dengan
pemaparan yang puitis. Dalam menceritakan hubungan intim alias kegiatan ‘sambung
raga’ antara pria dan wanita, misalnya. Pudwianto tidak menulisnya secara ‘to
the point’ seperti yang dilakukan oleh Umar Kayam dalam novelnya yang berjudul
Sang Priyayi. “Saya mencium dia, kami
kemudian saling mencium, kami saling memeluk erat-erat, kami bersenggama lagi” (Sang Priyayi,
Umar Kayam, halaman 280).
Pun, Pudwianto ‘similikiti’ Arisanto tidak
mendetilkan kegiatan sambung raga ini dengan cara seperti yang dilakukan oleh
Enny Arrow dalam buku stensilan. Yang menuliskan dengan sangat detil tiap detik
permulaan dilakukannya hubungan seks. Bahkan keadaan alat genital dijelaskan
secara lengkap. Hingga penetrasi dan sesuatu yang dirasakan oleh pelaku. Di
samping itu, cerpenis ini tak ingin ‘bersastra’ dalam masalah genital seperti
halnya Ayu Utami yang menulis ... sebab
vagina adalah sejenis bunga karnivora sebagaimana kantong semar. Namun, ia
tidak mengundang serangga melainkan binatang yang lebih besar, bodoh, tak
bertulang belakang.dengan manipulasi aroma lendir ......
Barangkali Pudwianto menyadari bersastra dengan
menjelaskan genital seperti Ayu Utami, justru menimbulkan perasaan tidak
nyaman. Jika tak mau dikatakan menimbulkan rasa jijik, porno, dan vulgar –
meski dikemas dengan bahasa yang tak lazim. Karena itu, Pudwianto ‘similikiti’
Arisanto berusaha menghindari penjelasan tentang alat genital. Ia pun tidak menceritakan adegan semacam ini dengan
kalimat-kalimat yang tidak pantas. Tetapi, tidak pula to the point, melainkan tetap puitis – dengan memberikan kebebasan
pembaca untuk membayangkannya. Tentu dengan tanpa menghadirkan pikiran jorok
atau yang menjijikan Simaklah kalimat berikut ini
.........
menghabiskan waktunya dengan segala belaian kasih hingga mencapai derajat
kesejukan yang membawanya ke hulu kepuasan. Sehingga gemuruh hatinya
berbunga-bunga dibanjiri lambang-lambang asmara yang mengukirnya di dalam irama
kehidupan masa kini. Dan dalam bulan-bulan selanjutnya lebih sering lagi
menanam kebahagiaan sambil memintal selendang kasih dengan dibungkus panorama
kedamaian sehingga betul-betul merasakan inti kenikmatan sejati dan benar-benar
menjadi sepasang mahluk keturunan cucu Adam dan Hawa yang bebas merdeka
mencecap sumsum kehidupan sampai puncak pendakian ....... (cerpen Jalan
Bunga, halaman 32)
Luar biasa dahsyat bukan! Membaca kalimat di atas
tidak menimbulkan khayalan jorok. Tidak ada kata vulgar. Juga tidak sesederhana
alias langsung pada pokok permasalahan dari alur cerita (seperti yang dilakukan
Umar Kayam). Namun, pembaca secara tidak langsung akan digiring kepada “inti
kenikmatan” sejati yang pantas dirasakan oleh setiap keturunan anak cucu Adam
dan Hawa. Sesuatu yang secara kodrat diberikan oleh sang khaliq. Bahwa manusia
berhak mendapatkan kepuasan dalam merasakan hubungan badan. Dan, puncak orgasme
ditulis dengan kata “merasakan inti kenikmatan sejati”.
Membaca cerpen-cerpen Pudwianto “similikiti”
Arisanto dalam kumpulan yang bertajuk Pesta Cinta Dalam Hujan. Saya ingat
“kegelisahan” Ebiet G. Ade yang dilantunkan dalam lagunya yang berjudul
Kontradiksi di Dalam.
Aku
sering merasa kesal serta bosan/ menunggu matahari bangkit dari tidur/ malam
terasa panjang dan tak berarti/ sementara mimpi membawa pikiran makin kusut/
maka wajar saja / bila aku berteriak di tengah malam/ itu hanya sekedar untuk
mengurangi beban yang memberat/ di kedua pundakku .....
Tentu saja, Pudwianto tidak berteriak di tengah
malam. Melainkan menuangkan kegelisahan dirinya dengan menuliskan cerpen.
Hingga mendapatkan orgasme. Mencapai titik kulminasi kenikmatan jiwanya. Karena itu, untuk menikmati cerpen-cerpen di buku ini tak jarang kita harus mengerutkan dahi agar keindahan karya seni ini bisa dinikmati.
Sayangnya, kumpulan
cerpen ini masih banyak dihiasi dengan kesalahan cetak. Tidak sedikit kata yang
‘cukup mengganggu’ ketika dibaca karena adanya kesalahan huruf. Namun, terlepas
dari kekurangan ini, yang pasti sebuah buku
kumpulan cerpen telah ditelorkan oleh sang penyair Similikiti. Paling tidak, kumpulan
cerpen ini telah menambah deretan daftar buku kumpulan cerpen di negeri kita
tercinta ini.
Selamat buat sang
penyair similikiti!*** Humam S. Chudori,
penikmat karya sastra Indonesia, tinggal di Tangerang Selatan.