MEMBACA “INDONESIA” LEWAT CERPEN
Selama ini masih ada yang beranggapan cerpen yang baik harus menyuguhkan tema besar, alur cerita ruwet dan tak
sederhana, gaya bahasa meledak-ledak, dan sebagainya. Padahal, tak sedikit cerpen dengan tema sederhana, alur
cerita datar, dengan bahasa lugas. Tetap memikat pembaca. Mampu menggugah emosi
penikmatnya. Bahkan memberikan pencerahan. Dan, tentu saja, cerpen semacam ini tetap
bernilai sastra. Sebutlah cerpen-cerpen yang ditulis oleh Ahmad Tohari, Jujur
Prananto, atau beberapa cerpen yang ditulis oleh Omar Khayam (hanya sekedar
menyebut beberapa nama).
Sebetulnya tak sedikit cerpenis dari mancanegara yang
menyajikan cerita fiksi semacam ini. Bukan sekali dua kali saya membaca cerpen
demikian yang
ditulis oleh mereka. Sebut saja: Gregorio Lopez Y. Fuentes (cerpenis Mexico),
Anton Chekov (Rusia), Jan Wolkers (Belanda), Ba Jin (Cina), Rasyad Darguth
(Palestina), dan lain-lain. Ya, ada beberapa cerpen yang mereka tulis dengan
tema yang sangat bersahaja. Bukan tema yang besar, alur cerita datar, tetapi
tetap menarik dinikmati. Tetap mengasyikkan ketika dibaca.
Demikian
juga dengan kumpulan cerpen “Raliatri” yang
ditulis Mahan Jamil Hudani. Tampaknya sang cerpenis sengaja memilih tema sederhana. Kehidupan kebanyakan
masyarakat kita.
Mengabadikan nama orang yang dikagumi untuk disandangkan
kepada anak, sebetulnya, tidaklah aneh. Apalagi orang yang dikagumi tersebut seorang
tokoh. Seorang public figure. Tujuannya agar anak punya “kesamaan” dengan sang idola (kepribadiannya,
kepintarannya, ketaatannya dalam
beribadah, popularitasnya, dan
sebagainya). Demikian juga, tak sedikit yang memberi nama anak dengan nama
orang lain – sekali pun bukan tokoh atau public
figure. Bisa saja nama tersebut akan mengingatkan orang yang dicintainya.
Namun, tak berjodoh hingga yang bersangkutan menikah dengan orang lain. Untuk
‘mengabadikan’ cintanya yang tak sampai. Maka nama mantan sang kekasih akan
diberikan kepada sang anak. Tentu saja, pemberian nama semacam ini tak boleh
diketahui oleh suami/istri yang bersangkutan.
Dalam cerpen yang berjudul Raliatri, Mahan Jamil Hudani
menceritakan seorang lelaki (Ahmad) yang mengagumi Rafika Aulia Putri. Anehnya, rasa kagum
ini bukan karena ia seorang tokoh. Bukan pula mantan pacar. Kekaguman ini
diabadikan menjadi nama anak perempuannya. Meskipun dijadikan sebuah akronim –
Raliatri – tak urung membuat istrinya cemburu. Setelah ia menemukan buku harian Ahmad. Dan di
sana tertulis sajak yang ditujukan untuk Rafika Aulia Putri. Kendati Ahmad
menjelaskan panjang lebar bahwa Raliatri tak ada hubungan apa pun dengan dirinya.
Ahmad menjual sepeda motor,
hasil penjualannya akan digunakan biaya
slametan ganti nama anaknya. Ahmad ingin membuktikan kebenaran ceritanya. Ia rela jika nama anaknya diganti. Keputusan Ahmad menjual
sepeda motor tersebut malah meyakinkan Nisa (istri
Ahmad) bahwa Raliatri bukan mantan pacar Ahmad. Pun, Nisa merasa tak perlu mengganti
nama anaknya. Uang tabungannya sendiri diberikan kepada suami untuk tambahan membeli sepeda motor yang lebih
baik.
Mahan Jamil Hudani dalam
kumcer Raliatri tak ingin mengajak
pembaca ke ‘dunia lain’, dunia yang berada di awang-awang, dunia yang sulit
dipahami masyarakat awam, tidak pula menyajikan sesuatu di luar jangkauan nalar manusia, sekedar ‘onani’ dalam kata-kata
atau kalimat indah tanpa makna. Seperti gaya penulisan beberapa cerpenis.
Mereka yang berbuat demikian karena ingin agar tulisannya dimuat di media cetak
tertentu. Agar eksistesinya sebagai cerpenis diakui lantaran dimuat di media
cetak yang dianggap punya otoritas ‘mengabsahkan” ke-cerpenis-annya.
Ibarat permata, ia tidak harus diikat dengan emas 24
karat. Tak mesti berada di jari atau leher selebritis. Jika permata itu punya
nilai, ada di mana pun ia pasti tetap berharga. Demikian juga karya sastra. Ia
tetap akan bermakna jika tetap memiliki moral
message. Kendati tidak dimuat di media cetak tertentu. Seperti pernah
disampaikan cerpenis Hamsad Rangkuti (saat ia menjadi redaktur majalah Horison)
kepada saya beberapa puluh tahun yang lalu bahwa Horison tidak jadi tolok ukur
seseorang bisa disebut menjadi cerpenis. Artinya untuk menjadi cerpenis tidak
mesti karyanya harus dimuat di sana. Ketika Horison masih dianggap (sebagian orang) sebagai
‘pembabtis’ keabsahan seseorang menyandang predikat cerpenis. justru salah satu redakturnya menyatakan sebaliknya. Jika
majalah Horison tidak menjadi tolok ukur seseorang disebut cerpenis. Apalagi media cetak di luar Horison? Hanya masyarakat
mudah ‘terprovokasi’ oleh sesuatu yang keliru. Sebab sesuatu kekeliruan yang
berulangkali disampaikan bisa jadi sebuah ‘kebenaran’.
Kekeliruan yang akhirnya menjadi sebuah ‘kebenaran’ yang
terjadi dalam masyarakat kita adalah bahwa orang yang menyandang gelar
kesarjanaan dianggap lebih mempunyai otoritas dibandingkan yang tidak punya
gelar. Kendati yang tak memiliki latar belakang keilmuan (secara formal)
tersebut lebih bisa memahami dan menguasai bidang yang digelutinya. Hal ini
secara apik
disajikan dalam cerpen berjudul Pada Sebuah Penjurian. Di sini Mahan Jamil Hudani ingin membeberkan beginilah
kondisi masyarakat kita yang lebih menghargai selembar pengakuan dari lembaga
pendidikan formal daripada karya yang dihasilkan. Dalam cerpen Pada
Sebuah Penjurian, aku – Adam – sebagai juri pada lomba story telling, tak
begitu diperhatikan. Bahkan dipandang sebelah mata. “Hanya gara-gara pendidikanku yang tidak sampai S3. Tidak
seperti dua juri yang lain – Bu Yuli dan Pak Darmo. Kendati sebetulnya aku
seorang pegiat seni, banyak karya yang telah kutulis. “
Hal yang
senada juga dapat kita baca dalam cerpen yang berjudul Seorang OB dan Sang Dosen. Dalam cerpen ini kita bisa menemukan
ironi, bahwa seorang pesuruh lebih mampu menuangkan pesan dalam tulisan (dalam
bentuk puisi dan cerpen) daripada para mahasiswa yang berkutat dengan buku-buku
tebal. Padahal mereka mahasiswa jurusan Sastra. Tak heran jika sang dosen -
Yanuar Diandra S.S M.Hum - diam-diam
mengirimkan karya Saiful (sang ob) ke media cetak. Hasilnya? Karya sang OB
berhasil menembus gawang desk budaya media cetak.
Membaca
cerpen Pada Sebuah Penjurian dan
cerpen Seorang OB dan Sang Dosen,
saya teringat dengan Ivan Illich yang memper’setan’kan pendidikan formal. Bahwa
pendidikan formal (baca: sekolah) akhirnya membelenggu orang dengan sesuatu
yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Menjadi snob, misalnya.
Dalam dunia seni
– tak terkecuali
seni sastra – pendidikan
formal bukan jaminan mampu melahirkan
karya yang baik sebagaimana dalam cerpen Seorang
OB dan Sang Dosen. Tak sedikit
sastrawan yang tak punya pendidikan sastra hingga perguruan tinggi. Sebut
misalnya: Endang Supriadi, Pudwianto Arisanto, Ahmad Tohari (sekedar menyebut
beberapa nama). Putu Arya Tirtawirya
hanya lulusan SMP. Dan, jangan lupa pendidikan formal HAMKA hanya SR
hingga kelas tiga. Toh, tak sedikit karya
sastra (di samping buku agama) yang beliau tulis. Tak heran jika HAMKA mendapat gelar honouris causa Profesor Doctor dari
Universitas Al Azhar di Mesir atas karya-karyanya. Nah, melalui cerpen Seorang
OB dan Sang Dosen, Mahan Jamil Hudani mengingatkan kita sebuah prestasi
dapat saja diraih oleh orang yang secara formal tak berpendidikan tinggi.
Sebab
belakangan ini gelar kesarjanaan begitu penting di negeri ini. Hingga tidak
sedikit orang yang berusaha mendapatkan gelar meski dengan kecurangan. Tak sedikit
ijazah aspal diupayakan karena ingin mendapatkan jabatan tertentu, misalnya.
Membaca
17 cerpen dalam kumpulan ini, saya merasa tengah membaca Indonesia – dalam
sebuah karya sastra. Paling tidak, kumpulan cerpen Raliatri ini mewakili
sebagian besar penduduk Indonesia. Karena sebagian besar masyarakat kita adalah kalangan bawah. Mahan Jamil Hudani sengaja memilih jumlah 17
cerpen. Barangkali sang cerpenis ingin mengatakan inilah potret (sebagian
besar) rakyat yang negaranya dilahirkan pada tanggal 17. Bisa jadi demikian.***Humam
S. Chudori, aktivis KSI, tinggal di Tangerang Selatan.