Friday, November 30, 2018

kumcer Pesta Cinta dalam Hujan, karya Pudwianto Arisanto



kumpulan cerpen Pesta Cinta dalam Hujan karya Pudwianto ‘similikiti’ Arisanto

·        * Keindahannya baru bisa dinikmati, setelah mengerutkan dahi

Siapa sangka penyair Pudwianto “similikiti” Arisanto, ternyata, tidak cuma piawai dalam menulis sajak-sajak yang ‘memusingkan’ namun menghadirkan moral message yang dapat menyadarkan pembaca akan suatu peristiwa yang perlu dijadikan pelajaran hidup. Sebutlah kumpulan sajaknya yang terkumpul dalam Fantasi Hati Koyak atau Surat Bugil, misalnya. Jika dalam Surat Bugil, penyair similikiti ini mencoba memotret tentang bahayanya hidup hedonis sehingga yang dijadikan berhala bukan cuma sesuatu yang bersifat materialistik. Melainkan juga akhirnya menjadikan manusia kembali kepada hal-hal yang bersifat klenik. Mencari kekuatan-kekuatan yang bersifat gaib. Menggantungkan harapan kepada sesuatu selain Allah. Menjadi musyrik. Sementara dalam Fantasi Hati Koyak, Pudwianto “similikiti” Arisanto menjabarkan tentang dampak buruk yang diakibatkan oleh narkoba. 

Saya katakan sajak-sajak yang ditelurkan oleh penyair kelahiran Pasuruan (25 Juni 1955) ini cukup “memusingkan” karena ia menggunakan diksi-diksi yang unik. Metafora yang tak biasa. Nyleneh. Majaz yang tak umum. Gaya bahasa yang digunakan tak lazim. Menghindari penggunaan kata depan di, ke, dan me. Sehingga untuk memahami satu sajaknya saja, terkadang harus mengerutkan kening. Mengernyitkan kening. Membuat  kepala “pusing.” karena sedemikian “rumitnya’ kata-kata yang dipilihnya. Meski pun – sebetulnya – kata itu termaktub dalam kamus. Kata-kata yang “biasa’ tetapi di tangan penyair ini kata yang biasa saja itu menjadi sangat “luar biasa” setelah diracik dalam sajak. Menimbulkan decak kagum pembaca. Bahkan terkadang menimbulkan sesuatu yang aneh hingga pembaca akan tertawa – atau paling tidak tersenyum – setelah membaca sajak-sajaknya. Tetapi, tidak jarang, menimbulkan pertanyaan-pertanyaan dalam benak kita usai membaca sajak karya lelaki yang selalu tampil bersahaja. Padahal kalau sedang membacakan sajak ia terlihat galak. Garang. Meledak-ledak. Sangat ekspresif. Mungkin karena penghayatannya yang mendalam terhadap sajak yang ditulisnya. Bisa juga karena ia ingin mengekspresikan perasaannya yang ingin ia luapkan saat membaca karyanya itu. 

Lalu bagaimana dengan cerpen yang ditulisnya? Tentu saja, tak jauh beda dengan sajak-sajak yang ditulisnya. Unik. Nyleneh. Tak umum. Bahkan dalam kumpulan cerpen “Pesta Cinta dalam Hujan” Pudwianto seperti tengah memaparkan selaksa kegelisahan batinnya melihat realitas yang ada dalam masyarakat. Cerpen-cerpen yang terkumpul di buku ini, memang, bermain-main dalam wilayah batin. Hanya saja Pudwianto ‘similikiti’ Arisanto tidak membeberkan jenis-jenis ‘kegelisahan batin’ dalam buku kumpulan cerpen ini.

Dari lima belas cerpen yang terkumpul Pesta Cinta Dalam Hujan, terdapat judul-judul yang membuat  pembaca akan bertanya-tanya. Simaklah beberapa judulnya (di luar Pesta cinta dalam hujan – yang dijadikan tajuk Buku kumpulan cerpen ini). Pudwianto menulis judul “Hujan dari Dalam,” Dalam Pengawalan Gelora Takbir, Panjang Jiwa Gelisah,  Dalam Ritme-Ritme Malam, Sudut Hati Tumbuh Gelisah, Berani Brutal, Dalam Luka Dalam. Dll. Dan, hampir semua, cerpen tersebut 
menggambarkan pergulatan batin seseorang. Meskipun – tentu saja – kontradiksi di dalam batin itu berbeda penyebab dan alur ceritanya. Sebab tokoh yang mengalami pergulatan psikologis itu tidak sama. Berbeda profesi, berbeda jenis kelamin, berbeda situasi, dan berbeda penyebab konflik batin itu. Namun, semua dikemas dengan sangat apik dalam cerpen.

Sayangnya, Pudwianto tidak konsisten dalam menggunakan kalimat pada cerpen-cerpen yang terkumpul di sini. Terkadang ia menggunakan kalimat-kalimat pendek seperti halnya cerpen yang ditulis oleh Ahmad Tohari. Adakalanya menggunakan kalimat yang cukup panjang seperti kalimat-kalimat yang ditulis oleh Umar Kayam. Bahkan dalam buku ini ada yang dalam satu paragrap nyaris tak ada satu titik pun. Sehingga untuk membacanya diperlukan panjang nafas.

Yang menarik dari cerpen-cerpen ini, sang cerpenis mampu menceritakan sesuatu alur cerita dengan kalimat yang indah. Tidak to the point. Tetapi sangat jelas dengan pemaparan yang puitis. Dalam menceritakan hubungan intim alias kegiatan ‘sambung raga’ antara pria dan wanita, misalnya. Pudwianto tidak menulisnya secara ‘to the point’ seperti yang dilakukan oleh Umar Kayam dalam novelnya yang berjudul Sang Priyayi. “Saya mencium dia, kami kemudian saling mencium, kami saling memeluk erat-erat, kami bersenggama lagi” (Sang Priyayi, Umar Kayam, halaman 280).

Pun, Pudwianto ‘similikiti’ Arisanto tidak mendetilkan kegiatan sambung raga ini dengan cara seperti yang dilakukan oleh Enny Arrow dalam buku stensilan. Yang menuliskan dengan sangat detil tiap detik permulaan dilakukannya hubungan seks. Bahkan keadaan alat genital dijelaskan secara lengkap. Hingga penetrasi dan sesuatu yang dirasakan oleh pelaku. Di samping itu, cerpenis ini tak ingin ‘bersastra’ dalam masalah genital seperti halnya Ayu Utami yang menulis ... sebab vagina adalah sejenis bunga karnivora sebagaimana kantong semar. Namun, ia tidak mengundang serangga melainkan binatang yang lebih besar, bodoh, tak bertulang belakang.dengan manipulasi aroma lendir ...... 

Barangkali Pudwianto menyadari bersastra dengan menjelaskan genital seperti Ayu Utami, justru menimbulkan perasaan tidak nyaman. Jika tak mau dikatakan menimbulkan rasa jijik, porno, dan vulgar – meski dikemas dengan bahasa yang tak lazim. Karena itu, Pudwianto ‘similikiti’ Arisanto berusaha menghindari penjelasan tentang alat genital. Ia pun tidak    menceritakan adegan semacam ini dengan kalimat-kalimat yang tidak pantas. Tetapi, tidak pula to the point, melainkan tetap puitis – dengan memberikan kebebasan pembaca untuk membayangkannya. Tentu dengan tanpa menghadirkan pikiran jorok atau yang menjijikan Simaklah kalimat berikut ini
......... menghabiskan waktunya dengan segala belaian kasih hingga mencapai derajat kesejukan yang membawanya ke hulu kepuasan. Sehingga gemuruh hatinya berbunga-bunga dibanjiri lambang-lambang asmara yang mengukirnya di dalam irama kehidupan masa kini. Dan dalam bulan-bulan selanjutnya lebih sering lagi menanam kebahagiaan sambil memintal selendang kasih dengan dibungkus panorama kedamaian sehingga betul-betul merasakan inti kenikmatan sejati dan benar-benar menjadi sepasang mahluk keturunan cucu Adam dan Hawa yang bebas merdeka mencecap sumsum kehidupan sampai puncak pendakian .......  (cerpen Jalan Bunga, halaman 32)

Luar biasa dahsyat bukan! Membaca kalimat di atas tidak menimbulkan khayalan jorok. Tidak ada kata vulgar. Juga tidak sesederhana alias langsung pada pokok permasalahan dari alur cerita (seperti yang dilakukan Umar Kayam). Namun, pembaca secara tidak langsung akan digiring kepada “inti kenikmatan” sejati yang pantas dirasakan oleh setiap keturunan anak cucu Adam dan Hawa. Sesuatu yang secara kodrat diberikan oleh sang khaliq. Bahwa manusia berhak mendapatkan kepuasan dalam merasakan hubungan badan. Dan, puncak orgasme ditulis dengan kata “merasakan inti kenikmatan sejati”.

Membaca cerpen-cerpen Pudwianto “similikiti” Arisanto dalam kumpulan yang bertajuk Pesta Cinta Dalam Hujan. Saya ingat “kegelisahan” Ebiet G. Ade yang dilantunkan dalam lagunya yang berjudul Kontradiksi di Dalam.

Aku sering merasa kesal serta bosan/ menunggu matahari bangkit dari tidur/ malam terasa panjang dan tak berarti/ sementara mimpi membawa pikiran makin kusut/ maka wajar saja / bila aku berteriak di tengah malam/ itu hanya sekedar untuk mengurangi beban yang memberat/ di kedua pundakku .....

Tentu saja, Pudwianto tidak berteriak di tengah malam. Melainkan menuangkan kegelisahan dirinya dengan menuliskan cerpen. Hingga mendapatkan orgasme. Mencapai titik kulminasi kenikmatan jiwanya. Karena itu, untuk menikmati cerpen-cerpen di buku ini tak jarang kita harus mengerutkan dahi agar keindahan karya seni ini bisa dinikmati.

Sayangnya, kumpulan cerpen ini masih banyak dihiasi dengan kesalahan cetak. Tidak sedikit kata yang ‘cukup mengganggu’ ketika dibaca karena adanya kesalahan huruf. Namun, terlepas dari  kekurangan ini, yang pasti sebuah buku kumpulan cerpen telah ditelorkan oleh sang penyair Similikiti. Paling tidak, kumpulan cerpen ini telah menambah deretan daftar buku kumpulan cerpen di negeri kita tercinta ini.

Selamat buat sang penyair similikiti!*** Humam S. Chudori, penikmat karya sastra Indonesia, tinggal di Tangerang Selatan.



Thursday, November 22, 2018

tentang Terpana Jalur Utara, kumpulan sajak Ibnu PS Megananda



Kumpulan Puisi Terpana Jalur Utara
·         Catatan perjalanan “Pantura”


Empat puluh tahun lalu, ketika sering pulang ke kampung (pekalongan), sepanjang jalan pantura kiri – kanan telihat hijau. Sejuk. Asri. Nyaman. Lantaran kiri – kanan masih penuh dengan hamparan sawah. Di pinggiran sawah banyak pohon-pohon yang masih dijadikan “rumah” burung. Berbagai jenis burung banyak yang masih bertengger di sana.
      Kini, panorama itu sudah tergantikan dengan berbagai kompleks perumahan yang berjajar di sepanjang jalan. Apalagi dengan banyaknya jalan tol yang dibangun. Tentu saja, perkembangan ‘kemajuan’ ini – diakui atau tidak – telah melumat sawah-sawah (dan pohon-pohon) yang disulap menjadi kompleks perumahan dan jalan tol.
      Ingatan saya – ketika sering pulang kampung – terlukis lagi di benak, tatkala saya membaca sajak penyair Ibnu ps Megananda yang bertajuk uang.
     
      Burung yang hinggap di pohon tua itu
      Pohon yang pernah aku panjat
      Ketika aku masih kanak-kanak
      Lalu aku bersuara keras menghadap langit
      Minta uang pada kapal terbang yang melintasi awan hitam
      Burung itu juga bersuara,apa yang ia inginkan
      Tapi, yang pasti pohonan hampir musnah
      Diganti rumah hunian
      Burung itu kelihatan sibuk dari ranting ke ranting
      Dan sulit untuk menemukan ulat untuk dimakan
      Kapal terbang melintas saat itu
      Ia bersuara terus agaknya juga minta uang
      Untuk beli ulat di pasar burung.

Sajak di atas sekaligus mengingatkan saya akan kebiasaan anak-anak desa ketika merasa takjub lihat kendaraan yang melintas di udara. Lalu akan berteriak memanggil-manggil “kapal terbang” tersebut untuk minta uang. Sesuatu yang mungkin saat ini sudah tak pernah ada di desa di sepanjang pantura.

Sajak yang ditulis dengan sangat bersahaja ini, - tanpa banyak metafora atau diksi-diksi yang njlimet (bahkan dalam sajak itu masih menggunakan kata kapal terbang daripada kata pesawat. Karena saat itu sebutan untuk kendaraan yang melintas di udara itu adalah kapal terbang. Nah, kalau kendaraan yang melewati laut disebut kapal api). justru mampu mengingatkkan pembaca akan terjadinya perubahan kondisi jalan di pantura yang bukan semata-mata karena sebuah keniscayaan. Melainkan karena sesuatu yang menjadi tolok ukur adalah uang.  Bahkan burung pun tak bisa mendapatkan ulat. Kecuali jika diperoleh di pasar burung yang tentunya harus ditukar dengan uang.

***

Jika ada profesi yang diabadikan dalam kitab suci, dijadikan sebuah nama salah satu surat. Maka profesi itu – tak lain dan tak bukan – adalah penyair. Ya, hanya penyair satu-satunya profesi yang diabadikan dalam kitab suci Alquran. Bukan raja atau presiden, bukan tabib alias dokter, bukan pengusaha, bukan karyawan, bukan ilmuwan, bukan pula pedagang atau saudagar. Meskipun pada saat diturunkannya kitab suci tersebut profesi yang terbanyak justru saudagar. Bahkan profesi yang pernah digeluti baginda Nabi bukan menjadi penyair. Melainkan menjadi saudagar alias pedagang.   
Memang. Diakui atau tidak, biasanya, seorang penyair mempunyai kepekaan dalam melihat sesuatu. Lalu menuliskannya tidak dalam bahasa verbal. Melainkan dengan kata-kata puitis. Sesuatu yang jarang dimiliki kebanyakan orang. Barangkali dari kelebihan yang dimiliki para penyair ini, Tuhan menjadikan sebuah surat yang diberi nama As Syuara (para penyair) – surat ke 26 dari 114 vsurat di Alquran..
Sebagai seorang penyair, Ibnu ps Megananda dalam kumpulan puisi yang bertajuk Terpana Jalur Utara ingin ‘mengabadikan’ hal-hal yang menjadi ciri “khas” di jalur utara – yang kita kenal dengan pantura. – tentang sederet warung remang-remang yang di depannya selalu terparkir sejumlah truk ketika si sopir melepas penat. Istirahat. Dan sejenak melepas otot-otot yang tegang setelah menyusuri jalan. Mereka akan dilayani oleh perempuan penghuni warung remang-reman tersebut.
Simaklah bait berikut ini:
...
Dewi-dewi malam
Kisah-kisah temaram
Kehadirannya tak mungkin
Menandingi istri dan anakku
Dalam lepas sarat dan lelah

(Petualang, halaman 36)

Barangkali Ibnu ps megananda, ingin mencatat pemandangan tentang warung remang-remang sebelum keberadaan mereka tergerus oleh kemajuan. Betapa tidak, sekarang ini tak sedikit truk-truk yang memilih menggunakan jalan tol (atau mungkin juga perintah dari bossnya – agar waktu yang ditempuh lebih cepat). Nah, jika semua truk sudah melalui jalan berbayar ini, tentu saja, keberadaan warung remang remang akan tergerus oleh waktu. Sebab di jalan tol tak ada yang namanya warung remang-remang.

Lalu siapa sih perempuan-perempuan yang menghuni warung remang-reman di sepanjang pantura itu? Ibnu ps megananda memberikan jawaban dalam puisi yang bertajuk “Macam Dagang”. Simaklah bait berikut ini:

...
Di masa yang sangat sulit
Syahwat tanpa kendali
Cinta diganti dengan sedkit uang

Entah berapa prerawan hancur
Entah berapa besar kutukan
Tuhan tanpa pernah tidur

(halaman 56)

***

Kumpulan puisi yang menghimpun 41 sajak ini boleh dikatakan “mampu” memotret jalur utara. Mulai dari tergerusnya sawah, kebiasaan sopir yang mampir di warung remang-remang, perubahan mindset masyarakat desa di sepanjang pantura, tentang kesenian tradisional (yang mungkin suatu ketika akan lenyap) warga pantura, tentang kendaraan (truck) yang tidak laik jalan tapi masih beroperasi di sepanjang jalan, potret ironis remaja zaman now yang sudah terjangkiti ‘virus’ hedonis, hingga berita tentang soal politisi busuk. Meskipun tak semua “peristiwa dan situasi” pantura ditulisnya. Semua ditulis dengan sangat puitis oleh Ibnu PS Megananda.

Dengan menggunakan tokoh “Joko Lola” – yang sebetulnya mungkin saja anak “hasil karya” sopir truk dengan penghuni warung remang-remang. Ibnu PS Megananda berusaha menceritakan pengamatannya lewat sejumlah sajak di buku ini. Barangkali sang penyair sudah berpikir jika suatu ketika terjadi perubahan wajah pantura. Maka kumpulan sajak ini akan menjadi “ catatan sejarah” tentang pantura. *** Humam S. Chudori