Sunday, June 3, 2012

selayang pandang tentang SASTRA KITA


Sekilas tentang Kelompok diskusi  “SASTRA KITA”


            Mulai dibentuk pada tanggal      : 2 September 1984
                                                              Di Jakarta
            Para pendiri                              : Humam S. Chudori (cerpenis)
                                                              Ayid Suyitno PS (penyair)
                                                              Nanang R. Supriyatin (penyair)
                                                              Harianto Gede Panembahan (cerpenis)

            Kelompok diskusi “Sastra Kita” awalnya merupakan forum silaturahmi antar penulis karya sastra yang sering bertemu, secara bergantian di rumah (humam, ayid, dan Nanang). Akhirnya para penggagas tersebut sepakat untuk mengadakan suatu pertemuan dengan mengundang beberapa orang yang punya minat yang sama dalam bidang susastra.
            Maka pada pertemuan yang diadakan pada tanggal  2 September 1984 di rumah Pulo Lasman Simanjuntak (penyair yang juga wartawan sebuah media cetak) yang berada di Jalan  Rengas I No. 23-A (kebayoran baru, Jakarta) dengan dihadiri oleh: Humam S. Chudori, Ayid Suyitno PS, Nanang R. Supriyatin, Harianto Gede Panembahan, Yon AG. Bambang Prakoso, Doddy Permadi Indrajaya, Pulo Lasman Simanjuntak, Rudy Valentino Efendi, dan Victor Manohara Tampubolon. Telah disepakati untuk menjadikan sebuah (Komunitas meskipun tidak disebut sebagai komunitas melainkan dengan sebutan Kelompok Diskusi) Kelompok Diskusi “Sastra Kita”. Tujuan dibentuknya Kelompok Diskusi “Sastra Kita” ini adalah untuk mendiskusikan masalah-masalah sastra yang berkembang di tanah air pada saat itu. Memperbincangkan para sastrawan ‘besar’ yang saat itu mengklaim dirinya sebagai “Sastrawan Naga” yang memandang sebelah mata terhadap “Sastrawan Cacing”   
            Sejak itu, paling tidak sebulan sekali, anggota Kelompok “SASTRA KITA” mengadakan diskusi tentang masalah sastra yang berkembang pada saat itu. Namun, kegiatan yang diadakan dari rumah ke rumah (anggota komunitas) ini dirasakan kurang memberikan sumbangan bagi sastra secara lebih luas.
Karena itu kelompok “SASTRA KITA” mengadakan diskusi (untuk membahas karya sastra dan memotivasi anak-anak pelajar slta untuk mencintai karya sastra) dari sekolah ke sekolah. Dari kegiatan ini, lalu bergabunglah beberapa orang penulis (penulis cerpen, cerita anak, penyair, mahasiswa, dan pelajar slta) di antaranya: Murni Setiawati, Mariam Bahmid, Wahyuni Puji Saraswati, Nani Mutiara, Toto Sugiarto, Gunawan Maulana, Apin, Amazone Dalimunthe, Lucy, Ida Simatupang, dan Haris Barata. Namun, kegiatan ini tidak tiap bulan dilaksanakan dan hanya terbatas pada beberapa sma di Jakarta. Lantaran para ‘aktivis’ SASTRA KITA tidak hanya sebagai seorang sastrawan. Melainkan ada yang juga bekerja sebagai karyawan, wartawan, guru, dan mahasiswa. Hingga mereka seringkali tidak bisa mensinkronkan waktu antara satu orang dengan lainnya untuk membahas kegiatan tersebut.
            Meskipun telah melakukan kegiatan dari satu SMA ke SMA (sekarang SMU) lain, para pendiri Kelompok Diskusi SASTRA KITA, merasa belum puas dengan kegiatan ini.
Karena itu Kelompok diskusi “SASTRA KITA” menerbitkan sebuah buletin yang diberi nama “SIKAP”. Buletin ini didanai oleh pribadi dari beberapa pendiri “SASTRA KITA”. Buletin (berisi cerpen, puisi, ulasan karya sastra, dan tanya jawab tentang susastra) berupa fotocopy-an ini menjadi semacam media ‘diskusi’ antar anggotanya. Karena anggota kelompok SASTRA KITA mulai tersebar di beberapa kota di Jawa. Sayangnya buletin “SIKAP” hanya sempat bertahan hingga tujuh edisi. Setelah itu tidak terbit lagi.
            Kegiatan lain yang dilakukan anggota kelompok “SASTRA KITA” adalah saling melempar isu tentang susastra yang berkembang pada saat itu di media cetak. Berpolemik di media cetak, di samping itu – tentu saja – tetap menulis karya sastra (baik cerpen maupun puisi) untuk didiskusikan dalam pertemuan rutin (intern) anggota kelompok “SASTRA KITA” yang tinggal di Jakarta dan sekitarnya.
            Selain kegiatan-kegiatan tersebut di atas, kelompok “SASTRA KITA” juga menerbitkan buku karya sastra (kumpulan puisi, antologi cerpen dan puisi) dengan didanai oleh penulisnya sendiri. Penerbitan buku secara swadaya ini mengingat bahwa pada saat itu karya sastra (terutama puisi) tidak laku untuk dijual. Sementara itu, diakui atau tidak, yang akan dipertimbangkan oleh sebuah perusahaan penerbitan buku bukan semata-mata naskah tersebut laik terbit atau tidak. Melainkan juga akan laku di pasaran atau tidak. Berpijak dari arah inilah, hanya dengan ‘modal’ idealisme (dan modal nekad) anggota kelompok “SASTRA KITA” (dan simpatisannya) menerbitkan karyanya sendiri.
            Dalam rentang waktu kurang lebih duabelas tahun, sejak terbentuknya Kelompok “SASTRA KITA” setidaknya sudah lima belas buku yang telah diterbitkan oleh “Kelompok Sastra” antara lain:
  1. Empat Melongok Dunia (thn penerbitan 1984 - antologi puisi dan cerpen) oleh Humam, ayid, Nanang, dan Harianto.
  2. Suara-suara (1985 - kumpulan puisi) Karya Nanang R. Supriyatin.
  3. Balada Sarinah (1985 - kumpulan puisi) karya Diah Hadaning
  4. Sketsa Sastra Indonesia (1986 - antologi 27 penyair nusantara)
  5. Sang Matahari (1986 - kumpulan puisi) karya Diah Hadaning
  6. Tling tlung (1986 - kumpulan puisi) karya Pudwianto Arisanto.
  7. Penyair Luka (1987 - kumpulan puisi) karya Ayid Suyitno PS. 
  8. Nyanyian Bukit karang (1987 - kumpulan puisi) karya Ang Tek Khun.
  9. Memelihara cinta (1995 - kumpulan Puisi) karya Ayid Suyitno PS.
  10. Kabar Keluh (1995 - kumpulan puisi) karya Ayid Suyitno PS
  11. Prosa Pagi Hari (1995 - kumpulan puisi bekerja sama dengan Penerbit Agiamedia) karya Nanang R. Supriyatin. 
  12. Lagu Kesunyian (1995 - kumpulan puisi) karya Ayid Suyitno PS.
  13. Surat Bugil (1996 - kumpulan puisi) karya Pudwianto Arisanto. 
  14. Di Sekitar Puisi (1997 - kumpulan esei sastra) karya Ayid Suyitno
  15. Kalah atau Menang (1997 - kumpulan puisi) karya: Pulo Lasman Simanjuntak.

            Buku-buku tersebut di atas hanya dua judul yang sempat beredar di toko buku (di Jakarta) yaitu: buku Empat Melongok Dunia dan Sketsa Sastra Indonesia. Buku yang lainnya hanya beredar di kalangan terbatas – tidak dijual di toko buku. Dan kepada para peminat buku hanya dimintai prangko pengganti ongkos kirim.
            Selain menerbitkan buku (tersebut di atas) dan melakukan diskusi sastra di sma, kegiatan lain yang pernah dilakukan oleh Kelompok “SASTRA KITA” adalah mementaskan musikalisasi puisi dan cerpen yang bertemakan “PERANG” (yang diambil dari antologi cerpen dan puisi “empat melongok Dunia”). Yang merupakan ekspresi keprihatinan anggota kelompok SASTRA KITA setelah ditemukannya senjata-senjata mutakhir untuk berperang (baca: untuk menghabisi nyawa manusia). Namun, pementasan yang dipergelarkan di Pasar Seni jaya Ancol pada tanggal 20 September 1985, dan hanya mendapatkan ‘honor’ makan malam dengan nasi bungkus ini dinilai kurang memuaskan oleh kelompok SASTRA KITA sendiri.
            Sejak tahun 1990, karena berbagai kesibukan anggotanya, SASTRA KITA tidak lagi aktif – melakukan kegiatan diskusi atau mengunjungi sma seperti pada tahun-tahun sebelumnya. Meski masih menerbitkan buku, kegiatan yang dilakukan “SASTRA KITA” tak lagi aktif seperti tahun-tahun sebelumnya. (sudah tidak pernah lagi kumpul-kumpul untuk berdiskusi, kecuali hanya saling kunjung mengunjungi di antara anggotanya). Hal ini disebabkan para personilnya pindah alamat, dan ada pula yang karena kesibukan keluarga (ketika kelompok diskusi “SASTRA KITA” dibentuk belum ada satu pun anggotanya yang sudah berkeluarga), ada pula yang sibuk dengan pekerjaan yang ditekuninya hingga tidak lagi berkiprah dalam dunia susastra.
            Karena komunitas sastra ini merupakan organisasi tanpa bentuk (hanya semacam kelompok diskusi), maka tidak ada yang menduduki jabatan ketua, sekretaris, bendahara dan jabatan struktural lainnya. Yang ada hanya pendiri dan anggota. Sedangkan cara kerja yang dilakukan oleh kelompok “SASTRA KITA” dengan cara dikerjakan bersama-sama (tidak ada pembagian tugas secara khusus) melainkan hanya berdasarkan siapa yang sempat. Semacam paguyuban atau sambatan (seperti tradisi membangun rumah di daerah Jawa beberapa tahun yang lalu). Semua anggota berusaha saling membantu satu sama lain.
Kelompok diskusi “SASTRA KITA” tidak menganut ideologi tertentu. Melainkan hanya karena perasaan yang sama sebagai penulis muda kurang mendapatkan (baca: hanya dipandang sebelah mata) perhatian oleh sastrawan senior dan penerbit buku.
            Pada tahun 1996, kelompok “SASTRA KITA” bergabung dengan KSI (Komunitas Sastra Indonesia) yang dimotori oleh Wowok Hesti Prabowo. Nah, sejak bergabung dengan KSI dengan sendirinya “SASTRA KITA” menjadi bagian dari KSI. Meskipun sampai saat ini “SASTRA KITA” tak pernah secara resmi bubar. Dan sebagian pendiri dan aggota “Sastra Kita” (yang masih berkiprah di dunia karya sastra) sebagian menjadi aktivis KSI. Karena sebagian anggota kelompok diskusi SASTRA KITA sudah tidak lagi berkiprah dalam dunia sastra. (Humam S. Chudori)
           

Bekerja sebagai manifestasi ibadah


BEKERJA: SALAH SATU MANIFESTASI IBADAH

Oleh Humam S. Chudori

  
   Setiap manusia di dunia ini, mau tidak mau, harus bekerja kalau tidak ingin men-derita. Hasil jerih payah dalam bekerja itu-lah yang sanggup menutup tuntutan hi-dupnya. Tanpa bekerja, mustahil bisa me-menuhi kebutuhannya sendiri. Sebab Allah tak akan mungkin memberikan rezeki bagi orang yang tidak mau bekerja, tidak mau berusaha, dan pemalas. Bekerja adalah su-natullah yang telah ditetapkan-Nya untuk memakmurkan bumi ini.
   Dalam suatu riwayat diceritakan tentang seorang yang siang dan malam harinya te-kun beribadat, hingga tidak kemana-mana. Lalu Nabi bertanya, “Siapa yang menja-min makan dan minumnya?”
   “Saudaranya,” jawab para sahabat itu.
   “Saudaranya itu lebih baik daripada dia,” demikian Rasulullah.
   Betapa pentingnya bekerja bagi sese-orang mu’min, hingga Rasulullah menya-takan saudaranya lebih baik daripada orang (yang tekun beribadah) tersebut. Kendati, ia beribadat siang malam. Tetapi, telah melupakan sunatullah yakni kewa-jibannya mencari nafkah.
   Dalam riwayat lain, disebutkan, suatu ketika Rasulullah s.a.w. sekembalinya dari peperangan Tabuk, beliau bertemu dengan sahabatnya, Mu’az. Pada saat bersalaman, beliau mendapati tangan Mu’az. Lalu be-liau pun bertanya, apa sebab tangan Mu’az demikian kasar.
   “Saya membajak tanah, untuk nafkah ah-li rumahku, ya Rasulullah,” jawab Mu’az.
   Betapa gembiranya Rasulullah mende-ngar jawaban sahabatnya itu, hingga be-liau mencium sahabatnya seraya berkata, “Engkau tidak akan disentuh api neraka, ya Mu’az”
   Bekerja, dalam hal ini mencari nafkah, bagi ummat Islam hukumnya wajib. Apa-lagi yang dilakukan dengan ikhlas, lahir dan batin, serta dengan niat Lillahi ta ala. Demikian mulianya seseroang yang be-kerja, mencari nafkah demi keluarga. Hingga Rasulullah menyatakan “tak akan disentuh api neraka,” kepada sahabatnya itu.

Perintah Bekerja
   Perintah bekerja ini bayak terdapat da-lam alquran. Dalam surat al insyiqaq ayat 6, misalnya, “Hai manusia! Sesungguhnya engkau mesti bekerja keras dengan sesungguhnya (menuju) kepada Tuhan, kemudian itu kamu akan menemui-Nya.”
   Benar. Bahwa manusia itu diciptakan Tuhan dengan tujuan hidup yang mulia dan tugas yang berat sebagai makhluk yang termulia di dunia ini. Sebab itu, ma-nusia perlu bekerja keras dan me-numpahkan seluruh tenaga dan kesang-gupannya untuk menjalankan tugasnya dan mencapai tujuan yang luhur itu. De-ngan demikian, manusia dapat mengatasi segala kesulitan dan merasai kenikmatan dunia dan akherat.
   Dan, apabila selesai mengerjakan sembahyang, kamu sekalian boleh ber-tebaran di muka bumi dan carilah karunia Allah, dan ingatlah Allah sebanyak-ba-nyaknya supaya kamu beruntung (S. Al jumuah: 10)
   Bekerja, memang, merupakan pokok ke-tinggian derajat seseorang. Cita-cita yang tinggi selangit atau rencana apa pun, ti-daklah  akan berarti jika tidak disertai de-ngan kegiatan bekerja.
   Dan masing-masing orang memperoleh tingkatan (derajat) menurut pekerjaannya, dan tuhanmu tidak melengahkan apa yang mereka kerjakan (S.Al an-am 132)
   Tak heran jika seorag calon mertua, mi-salnya, akan mempertanyakan apa peker-jaan calon menantunya terlebih dahulu. Sebelum menerima seseorang menjadi menantunya. Sebab orangtua tidak ingin menerima menantu yang tidak mempunyai pekerjaan alias pengangguran. Keingin-annya ini adalah wajar, karena orangtua mana yang sudi menerima menantu yang berstatus sebagai pengangguran.

Salah Tafsir
   Sayangnya, di Indonesia ini masih ba-nyak orang yang salah menafsirkan beker-ja – mencari nafkah – ini. Bekerja atau mempunyai pekerjaan, diartikan sebagai karyawan atau pegawai di suatu instansi, perusahaan tertentu. Hingga kadang-kadang penilaian seseorang berdasarkan atas perusahaan di mana seseorang beker-ja. Bukan dirinya sendiri. Jangan heran bila banyak angkatan kerja – yang keba-nyakan beragama Islam – merasa was-was, cemas, takut dengan situasi dengan kondisi dewasa ini. lantaraan lowongan kerja yang tersedia semakin sempit, tidak sebanding dengan angkatan kerja yang tersedia. Takut kalau dirinya tidak sempat mendapatkan pekerjaan, karena semakin ketatnya persaingan.
   Padahal bekerja tidak harus identik de-ngan berkantor di perusahaan/instansi ter-tentu. Tidak harus duduk di belakang me-ja. Tidak harus menerima gaji bulanan dari kantor dan seterusnya. Tidak demikian yang namanya bekerja atau mencari naf-kah. Bekerja adalah melakukan suatu perbuatan yang diupayakan untuk mencari nafkah. Tentu saja dengan jalan yang halal, yang diridhoi Allah SWT. Dengan demikian, seseorang tidak perlu punya ketergantungan  terhadap ada atau tidak-nya lowongan kerja. Bukankah Allah men-jamin rezeki bagi makhluk-Nya – Wallahu yarzuqu man yahsyaa bighoiri hisaab
    Rasulullah dan para sahabatnya juga be-kerja. Mereka mempunyai mata penca-harian, misalnya, Amr bin Ash – pemuka Mesir. Ia seorang tukang potong hewan. Zubeir  bin Awwam, Abubakar Shiddiq, Ustman bin Affan, Talhah bin Ubaidilllah, Abdurrahman bin Auf, semuanya  sau-dagar-saudagar  yang cerdik. Umar bin Khattab seorang salesman, Sa’ad bin Abi Waqqash, tukan pintal tali. Wahid bin Mughirah adalah tukang pandai besi. Ash bin Wail dukun binatang (semacam dokter hewan sekarang, pen.), Abu Hanifah, sau-dagar sutra. Malik bin Dinar, penjual ker-tas. Muhallab bin Abi Shufrah seorang ahli perkebunan. Uyaimah adalah seorang guru.
     Kiranya contoh-contoh di atas tak perlu diperpanjang lagi. Yang jelas, bahwa me-reka adalah pekerja keras yang tidak ter-gantung dengan lapangan kerja yang dise-diakan oleh pihak lain.
 Mungkin karena selama ini pertanyaan yang senantiasa dilontarkan orang adalah “kerja di mana?”  tak heran jika bekerja selalu diidentikan dengan berkantor di suatu tempat. Bekerja pada suatu peru-sahaan.
Bisa dipahami kalau ada seseorang ber-tanya “Apa pekerjaannya?” dianggap tidak etis. Betapa tidak, jika kebetulan yang ditanya punya jabatan yang mem-banggakan atau pekerjaan yang dianggap tidak memalukan. Bisa menyebutkan diri sebagai  direktur atau manager di suatu perusahaan. Atau menjadi seorang pengusaha. Namun, jika yang ditanya pu-nya posisi yang kurang enak disebut. maka komunikasi ini akan terasa menohok ko-munikan.
Karena itu, tak heran  jika pertanyaan yang berkaitan dengan usaha mencari nafkah cenderung kepada di mana sese-orang bekerja. Toh bila yang bersangkutan bekerja sebagai seorang office boy atau supir, misalnya. Yang bersangkutan tidak akan merasa dipermalukan. Bahkan tidak tertutup kemungkinan yang bersangkutan akan tetap tidak merasa disudutkan. Se-butlah yang bersangkutan akan bisa mem-beri jawaban, ‘kalau anak saya ini kerja di Bank Anu atau perusahaan X,’ tanpa me-rasa harus malu.

Semua makhluk
Allah memang menjamin rejeki semua makhluk-Nya. Namun, perintah bekerja ini juga diberikan juga kepada binatang. Ten-tu yang dimaksud bekerja bagi binatang bukan berarti sebagaimana kerja yang dila-kukan manusia.
Bagi burung, misalnya. Bekerja yang da-lam arti untuk mendapatkan penghidupan yaitu dengan jalan meninggalkan sarang pada pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang sore hari dalam keadaan perut ke-nyang.
Bahkan hewan yang tampaknya hanya tenang-tenang saja, menunggu rejeki yang datang. Mereka tetap harus melakukan upaya untuk bisa bertahan hidup. Laba-laba,misalnya, sepintas lalu – mereka hanya menunggu serangga (nyamuk atau lalat yang akan terperangkap dalam je-bakannya. Tetapi, perlu kita ingat, bahwa sesungguhnya mereka sudah bekerja ter-lebih dahulu (baca: membuat rumah untuk jebakan). Lalu mereka baru bertawakal menunggu datangnya rejeki.
Nah, kalau untuk hewan semacam laba-laba saja bertindak seperti itu. Kenapa ma-nusia yang diberi banyak kelebihan dari-pada binatang tidak bisa seperti mereka? Padahal yang dilakukan manusia – jika nawaitu dalam mencari nafkah adalah menjalankan perintah-Nya (bukankah se-tiap hari kita berikrar – inna sholati wa nusuki wa mahyaya wa mamaati lillahi robbil alamin). Maka bekerja tidak saja akan mendapat imbalan (rejeki). Me-lainkan juga dinilai sebagai ibadah. Seba-gai bentuk pengabdian manusia terhadap Sang Kholik. Pekerjaan menjadi salah satu bentuk realisasi dari ibadah kepada-Nya. Bekerja menjadi sarana kepatuhan kita terhadap perintah-Nya.
Jika Allah berfirman “wa maa kholaqtul jinna wal insa illa li ya’budun”, tentu saja ibadah di sini bukan hanya dalam bentuk ibadah mahdhah. Melainkan pula segala pekerjaan yang diniatkan dengan tujuan un-tuk meraih ridho-Nya.
Wallahu alam bishshawab.****
Humam S. Chudori, pekerja seni, kegi-atan sehari-harinya mengenalkan huruf hijaiyah kepada anak-anak, tinggal di Tangerang Selatan.


Sumber: Tabloid SALAM, 14 Jumadil Akhir 1410 H