Tuesday, April 13, 2021

kenangan usai mengisi acara di STIANI, Parung, Bogor


 

SURAT SASTRA UNTUK HUMAM S. CHUDORI

 Surat Sastra

Humam S. Chudori

. Entah, bagaimana cara aku menulis surat terbuka ini. Padahal kita sama-sama bergerak dan berjuang untuk menciptakan karya abadi. Aku sudah sangat sangat mengenal fakta dan fiksi darimu. Setidaknya, aku banyak menggali dan belajar dari ilmu yang engkau miliki. Tapi belakangan ini aku begitu takjub dan bahkan agak gugup. Ternyata, di usiamu saat ini, kamu begitu gigih belajar tentang banyak hal, dan kamu dengan santainya bahkan masuk ke dunia milenial. Sesuatu yang memang digandrungi generasi kita.

#Humam, Puisi, Cerita Pendek.

Apalah artinya puisi? Puisi hanya sebatas ungkapan yang tersaji dengan bahasa linier. Ia mudah ditulis, bahkan oleh anak-anak SD. Namun, masalahnya bukan hanya sekadar sebagai bahasa tulis. Semudah-mudahnya puisi dicipta, pastilah terkandung nilai-nilai historis. Chairil Anwar, mungkin dalam hidupnya hanya menulis puisi (murni) kurang dari 100 puisi. Tapi coba perhatikan dan amati, bagaimana puisi-puisi Chairil mampu menusuk jiwa raga hingga mengobarkan heroik? Dan, pada masanya HB Jassin, Iwan Simatupang, Arifin C. Noor, dsb-nya, juga pernah melahirkan karya puisi. Untuk cipta puisi, mereka termasuk tidak produktif. Tapi, dikarenakan Jassin sudah lebih dulu diakui sebagai kritikus dan penerjemah. Iwan diakui sebagai novelis. Dan Arifin, kita tahu ia sebagai seorang dramawan dan penulis naskah drama. Tentulah harus kita acungi jempol buat mereka.

Humam, engkau termasuk penulis puisi dan rajin mengirim puisi untuk media massa serta untuk antologi bersama. Bahkan engkau pernah melahirkan sebuah antologi puisi berjudul "Perjalanan Seribu Airmata" (2013). Kalau boleh jujur, engkau tetaplah seorang novelis yang menulis dengan humanis. Meskipun awalnya engkau banyak melahirkan cerita pendek, tentunya sama-sama karangan berbentuk prosa. "Rumah Yang Berkabung" (bersama Harianto Gede Panembahan), "Dua Dunia", "Barangkali Tuhan Sedang Mengadili Kita", dan "Percakapan Malam Hari" -- adalah judul buku kumpulan cerpenmu.

#Humam dan Novel.

Aku membayangkan di hari-harimu dalam suasana sepimu, khususnya saat kau tak sedang galau, tenang, tentram. Anak-anak yang pendiam, istri yang penyabar. Keluarga yang sakral. Engkau begitu khusyuk bersila di sebuah karpet, dengan kipas angin berputar dan tentunya laptop di hadapanmu. Menggali ide dan menemukan tema-tema agamis dan tradisi lokal, dengan tetangga yang harmonis. Begitu totalitasnya engkau berkarya. Ya, aku jadi teringat bagaimana seorang Putu Wijaya menghabiskan waktunya dalam sebuah kamar hingga melahirkan karya besar. Korrie Layun Rampan yang sangat rajin mengurai kalimat di buku maupun kertas eceran untuk sebuah cerita seperti novel "Upacara"-nya yang kemudian menjadi buku novel terbaik versi DKJ (1978). Pergulatan literasi ini tentunya akan sangat banyak diungkapkan pengarang, yang kemudian dinamakan sebagai proses kreatif.

Aku tak bisa membayangkan untuk berapa lama kamu menulis novel "Bukan Hak Manusia" (2007), "Sepiring Nasi Garam" (2007), "Gufron" (2008), "Shobrun Jamil (2010), "Rezeki" (2016), "Berlibur di Desa" (2010), serta yang terakhir "Hijrah" (2021). Novel-novel ini, sebagian pernah aku lihat di toko buku ternama. Tentulah ada kebanggan tersendiri.

#Humam dan Budaya Betawi.

Kita nyaris bertetangga ya? Saat aku tinggal di Gembira. Kamu ngontrak di Setiabudi. Tak jauh dari rumah pelawak Bagio. Kamu juga pernah menetap di Menteng Atas (?). Kini, aku masih di kawasan Menteng. Kamu sudah hijrah ke Tangerang Selatan (Pondok Mahartha). Tapi yang pasti, pergaulan kita tetap sama. Sama-sama tak beda dengan masyarakat Jakarta.

Sudah hampir seharian aku mengamati novel barumu, "Hijrah". Keren abis. Kenapa aku katakan keren abis? Ya, kamu kelahiran Pekalongan (tapi sudah menetap di Jakarta sekitar tahun 1980-an). Sesuatu yang biasa saja. Toh SM Ardan (Syamardan) juga kelahiran Medan. Nyatanya beliau diakui sebagai Pengarang Betawi karena karyanya "Terang Bulan Terang Di Kali", dengan cerita menggunakan bahasa keseharian. Termasuk juga Aman Datuk Madjoindo, juga bukan asli orang betawi, tapi telah melahirkan karya abadi "Si Doel Anak Betawi" (1936).

Humam Santoso Chudori. Judul-judul novelmu seperti "Sepiring Nasi Garam", "Gufron" dan "Sobrun Jamil" sudah menyiratkan bahwa isi dalam novelmu pastilah bernuansa Betawi. Tak dipungkiri, novelmu "Hijrah" (Penerbit CV Prabu21, Maret 2021) nyatanya makin tajam merefleksikan ke-betawi-an itu. Aku yang asli lahir di Jakarta, nyatanya harus membaca ulang perpustakaan/ kebahasaan yang tercantum sebagai 'Glosarium (kosa kata Betawi). 363 'kata betawi' masuk dalam percakapan 24 episode yang terangkum jadi sebuah novel.

"Kalo elu mau 'beli', liat-liat dulu deh..." (istilah yang sering digunakan di kalangan perampok, agar memperhatikan siapa calon korbannyq. Agar tidak sembarang orang dijadikan korban.)

"Berak di sini ceboknya juga di sini..." (istilah ini digunakan untuk menyebut orang yang hanya berani mencuri di lingjungannya sendiri, tetangga sendiri yang dijadikan korban pencurian.)

Banyak istilah/ ucapan betawi dimasukan dalam percakapan masyarakat pada novel ini, misalnya satronin, terime, nyamperin, dan sebagainya.

Novelmu lumayan tebal ya, 299 halaman. Novel ini kelak akan menjadi sesuatu yang abadi dalam peta kesusasteraan Indonesia, mungkin juga nenjadi best seller. Artinya pasca kepengarangan Aman Datuk Madjoindo, SM Ardan, Firman Muntaco dan M. Balfas, kita masih memiliki generasi sesudahnya.

Dan terakhir sebelum kututup surat sastra terbuka ini, usahakan JJ. Rizal (Sejarawan), Ridwan Saidi (Budayawan),

Yahya Andi Saputra

(Penyair), dan Nur Zein Hae (Pengamat), memiliki novel ini. Chairil Gibran Ramadhan, Zeffry Alkatari dan Aba Mardjani, ke mana ya?

Salam,

Nanang R Supriyatin