Sunday, June 30, 2019

acara ulang tahun penyair Rahmat Ali ke 80, dan bedah buku PUisi Mini PUisi Midi


Bedah buku "Puisi Mini Puisi Midi" karya Rahmat Ali, di PDS Hb. Jassin, 29 Juni 2019 bertepatan dengan Hari Ulang Tahun sang penyair yang ke 80 tahun.  Nampak dalam foto (dari kiri ke kanan). Rita Sri Hastuti, Paramitha Rusady, Remmy Novaris DM, Humam S. Chudori, Rahmat Ali.                 (foto Arief Joko Wicaksono)

Saturday, June 29, 2019

Sajak-sajak Nasionalisme Rahmat Ali dalam PUISI MINI PUISI MIDI


Sajak-sajak nasionalisme Rahmat  Ali

            Laksana tentara memberondongkan peluru. Ia tak perlu menjelaskan pelurunya berkaliber berapa atau jenis senjata yang digunakan. Demikian juga penyair ini tanpa banyak berteori, tanpa menyodorkan kredo, tanpa basa basi, atau semacamnya. Rahmat Ali meluncurkan serentetan puisi kepada publik. Berondongan puisi tersebut dikemas dalam satu buku kumpulan sajak yang diberi tajuk “Puisi Mini Puisi Midi”.
Sebagaimana judulnya – Puisi Mini Puisi Midi – buku ini terbagi dalam dua bagian. Pertama sajak-sajak pendek yang terhimpun di dalamnya disebut oleh sang penyair sebagai puisi mini. Kedua, sajak-sajak panjang yang disebutnya sebagai puisi midi. Sederhana sekali alasan sang penyair ini menjelaskan karya sastra yang ditulisnya. Barangkali ini lantaran sang penyair  pernah bertugas sebagai KKO.
Kesederhanaan Rahmat Ali, bukan hanya dalam memberikan penjelasan atas sajak-sajak yang ditulisnya. Melainkan juga dalam batang tubuh puisi juga ia sangat ‘sederhana’. Saya katakan demikian, karena sajak-sajak yang ditulisnya tidak banyak  menggunakan banyak metafora,  symbol, idiom-idiom, atau diksi-diksi yang njlimet, ruwet, aneh-aneh, atau absurd seperti yang dilakukan sejumlah penyair belakangan ini.
***
Ada sajak yang memberi kesan ‘main-main’ pernah ditulis sejumlah penyair. Seperti Sapardi yang menulis “Perahu Kertas,” Eka Budianta dalam sajak “Bang Bang Tut”, Yudhistira ANM Massardi dengan sajak “Sikat Gigi” atau Jose Rizal Manua dalam “Mengkhayal Jadi Presiden.”
Dalam sajak Mengkhayal Jadi Presiden, Jose Rizal Manua menulis begini:  Termenung di atas kloset/Menghayal, jadi Presiden./....../Plung!
Sejumlah sajak yang juga terkesan ‘main-main’ ditulis Rahmat Ali di buku ini. Namun, ia tak sekedar ‘main-main’ dengan kata-kata. Melainkan mengandung moral message yang patut menjadi bahan renungan. Ada pesan tersirat yang ingin disampaikan oleh sang penyair. Simaklah sajaknya yang berjudul KORUPSI. Sungai musi/airnya surut/ dikorupsi/ negara bangkrut. (halaman 14 – Puisi Mini).
Sajak yang mirip pantun ini, sesungguhnya, mengingatkan kita bahwa salah satu penyebab kehancuran sebuah bangsa adalah menjamurnya wabah korupsi. Anehnya di negeri ini tak jarang kita orang yang mengenakan jaket orange masih bisa tersenyum bahkan cengengesan saat disorot kamera.
Koes Plus dalam salah satu lagu (jawa) yang dinyanyikannya ada yang berjudul Ela Elo. Dalam salah satu baitnya Koes Plus menuliskan demikian, ela elo/ sawo dipangan uler/ ela elo/ wong bodo ngaku pinter.
Apa yang ditulis Koes Plus memang tak terlalu spesifik (dalam hal ini kata pinter  tersebut). Ngaku pintar, memang tak terukur. Sebab di dalam istilah orang pinter bukan saja orang yang berpendidikan tinggi. Tetapi, juga orang-orang yang dianggap punya doyo luwih. Semacam paranormal atau dukun. Bahkan tak jarang seorang ahli agama. Kyai, misalnya, juga bisa disebut sebagai orang pinter.
Beda dengan sajak yang ditulis Rahmat Ali dalam sajaknya yang berjudul “Si Bodo Amat” sajak yang terdiri dari dua baris ini berbunyi Kupido dewi cinta/ orang bodo ngaku sarjana. Di sini Rahmat Ali memperjelas ukuran ‘pintar’ seseorang. Yakni jika ia menyandang gelar kesarjanaan. Padahal, bisa jadi gelar itu hasil kong kali kong. Atau bahkan mungkin hasil dari ‘membeli’ alias ijazah palsu. Hal seperti ini – orang yang bergelar sarjana dan ternyata gelar itu palsu – sudah tak sedikit yang sempat dipaparkan media massa. dan, hal ini terjadi pada pejabat publik. Kenapa demikian? Karena untuk menduduki jabatan atau profesi tertentu mensyaratkan adanya gelar sarjana. Akibatnya orang bodo pun mencari “pengakuan” untuk disebut sarjana. Meskipun ijazahnya aspal.
Padahal, diakui atau tidak, gelar kesarjanaan bukan tolok ukur seseorang punya pola pikir akademis. Bukankah banyak orang yang menyandang gelar akademis, tapi tak pernah mampu berpikir secara akademik. Sementara, tak sedikit orang yang tak menyandang gelar kesarjanaan justru selalu berpikir secara akademik dalam pola pikirnya.
Banyaknya infrastruktur yang ditangani secara amburadul juga menjadi sorotan Rahmat Ali. Sebab, diakui atau tidak, banyak infrastruktur yang roboh sebelum digunakan. Sebutlah di tol kertosono – Solo, Lampung, grider tol Batang – Semarang, di Pasuruan, Minahasa, juga grider yang dipasang di tol becakayu yang jatuh (hanya menyebut beberapa contoh). Ketidak sempurnaan ketika merancang infrastruktur ini pun tak lepas dari pengamatan Rahmat Ali. Dan ia menuangkannya dalam puisi yang berjudul “Oh Jembatanku, Oh jembatanmu, Oh, jembatan kita”
Lagi-lagi rakyat gelisah
Dan amat resah
Setelah jembatan-jembatan pada rebah
Apa akibat rancangan mentah
Dan pimpro
Serta konco-konconya
Mencatut serakah parah?
(Halaman 19)
Demikian pula sajak yang berjudul PROYEK MUSIBAH, minum anggur botol-botol/ membangun infrastruktur jangan ambrol (hal. 13)
Di samping sajak-sajak yang berisi kritik seperti yang dicontohkan di atas. Dalam puisi mini Sang Penyair juga menyorot kehidupan sosial masyarakat kalangan bawah. Seperti kehidupan tukang ojek, anak muda yang mati sia-sia karena korban oplosan, tentang penjual bendera yang tiap bulan agustus akan menjamur – bahkan berkeliling dari kampung ke kampung, hingga renungan tentang perjuangan seorang ibu.
***
 Tak kalah pula menariknya sajak-sajak Panjang Rahmat Ali, yang disebut oleh penyairnya sebagai puisi midi. Pun, dalam puisi midi Rahmat Ali nyaris tak menggunakan diksi yang sulit ditangkap oleh pembaca atau kata bersayap dalam bentuk kata konotatif atau denotatif. Tak pula banyak menggunakan gaya bahasa seperti lazimnya sebuah puisi. Puisi yang terhimpun dalam puisi midi merupakan prosa liris dengan narasi yang bersahaja.
Barangkali sang penyair tak ingin berasyik-asyik sendiri dengan karya sastranya. Ia tak  menulis dengan gaya eksperimental seperti yang dilakukan oleh beberapa penyair yang pernah eksis. Sebutlah umpamanya seperti yang dilakukan oleh Ibrahim Sattah dalam kumpulan sajaknya yang berjudul Dan Dan Did, tak pula menulis puisi dengan Bahasa gado-gado seperti yang dilakukan oleh Darmanto Jatman. Penyair dari Semarang ini, memang, punya ciri khas menulis dengan bahasa campur aduk (ada Bahasa Indonesia, Bahasa Jawa, dan Bahasa Inggeris).   
Seperti dalam puisi mini-nya, puisi-puisi yang ada dalam puisi midi juga memotret kehidupan masyarakat kita. Dalam sajak yang berjudul BERKARAOKE DI ATAS KAPAL, misalnya. Dengan gaya bertutur yang sederhana, sajak ini mengisahkan seorang tkw yang akhirnya menjadi pemandu karaoke di kapal. Setelah ia mendapat perlakuan tak senonoh dari majikan. Yati – demikian nama tkw itu – tak pernah berani pulang ke kampung asal. Dalam sajak ini, Rahmat Ali ingin mengatakan Yati adalah korban sulitnya mencari pekerjaan di dalam negeri. Sementara pekerjaan di luar negeri memberi peluang untuk mendapatkan penghasilan besar. Namun, kenyataannya bekerja di luar negeri sebagai tkw tak seindah yang dibayangkan. Akibatnya Yati terdampar menjadi pemandu karaoke di atas kapal.
Lain lagi dengan sajak yang berjudul SOS KEPADA RAJAWALI. Sajak yang oleh penyairnya dikategorikan sebagai puisi midi sepertinya sebuah teriakan kepada Garuda agar memberi rasa nyaman kepada sang penyair. Nyaman bukan untuk diri sendiri. Melainkan untuk masyarakat. Betapa tidak, di negeri yang semestinya ayem tenterem karto raharjo, gemah ripah loh jinawi ini justru tak ada kenyamanan menjalani kehidupan normal. Masyarakat yang sudah bekerja keras hanya mendapat penghasilan pas-pasan, tetapi masih juga dicekik dengan harga kebutuhan yang senantiasa melambung tinggi. Padahal mereka menggantungkan harapan kepada  wakil rakyat yang dipilihnya bisa mengatasi keadaan. Namun, kenyataannya rakyat hanya dijejali janji-janji. Simaklah bait-bait berikut ini,
….  Cobaan ngeri di rumah dambaan diriku macam-macam/ bukan disebab letusnya gunung berlahar hebat/ bukan oleh gempa, banjir, longsor dan tsunami menggila/ yang amat menggelisah dan memalukan/ justru oleh makin banyak pejabat melenceng tak kira-kira/ harusnya wakili rakyat kita orang-orang kecil ini/ janjinya dulu hanya pemanis kampanye saja/ akhir-akhirnya menggerogoti harapan kami/ rakyat keluhkan harga-harga makin tak terjangkau beli/ termasuk kawulamu ini serius kerja toh susah payah sekali/ penghasilan mencekik leher sangat jauh dari mencukupi/ jadi pengojek capek sebab berjubel yang saingi/ begal rampok makin tak berperi …..
Dalam kondisi yang serba tak nyaman hidup di negeri ini. Sang penyair melanjutkan sajaknya dengan berharap kepada sang rajawali
… hai rajawali kepak-kepaklah dengan lebih ganas/ sergap cakarlah itu para krimi biar jadi aman lestari/ sehingga tenteram negeri ini.
Tentu saja rajawali ini dapat dimaknai dengan tegaknya hukum dan keadilan. Dengan tegaknya hukum dan keadilan, maka negeri yang berada di garis katulistiwa ini akan menjadi tenteram. Sajak ini, sungguh mewakili suara rakyat banyak yang tidak memperoleh keadilan. Keadilan dalam hal mendapatkan pekerjaan yang layak, pemerataan pendidikan, hak untuk hidup layak, hak mendapatkan kedudukan yang sama di mata hukum, dan lain-lain.
***
Pemilihan kata yang lugas dan jelas, sajak-sajak yang ada di sini boleh dikatakan – meski tidak sama dan sebangun – seperti pilihan kata yang digunakan oleh WS. Rendra dengan sajak-sajak pampletnya. Atau sajak-sajak protesnya Widji Thukul. Tentu saja, sekali lagi, untuk dapat menikmati buku kumpulan sajak “Puisi Mini Puisi Midi” tidak perlu harus memahami teori tentang sajak yang bertele-tele atau harus banyak mengernyitkan dahi.
Meskipun demikian, pilihan kata yang digunakan Rahmat Ali lebih bijak. Lebih anggun, tak meledak-ledak, penuh emosi, atau memberi kesan pemberontakan seperti halnya puisi yang ditulis Widji Thukul.
Membaca sajak-sajak dalam buku ini, saya seperti tengah berdiskusi dengan seorang nasionalisme sejati. Seseorang yang ingin memberikan sesuatu yang terbaik buat negeri (dalam hal ini sejumlah puisi) agar tercipta negeri yang ayem tenterem karto raharjo, gemah ripah loh jinawi.
Memang. Sajak-sajak yang ditulisnya tak menggunakan istilah-istilah yang menunjukkan semangat patriotism atau nasionalisme. Penyair ini pun tak perlu menggunakan kata-kata sloganistis seperti yang belakangan ini menjamur dalam masyarakat. Ya, Rahmat Ali tak perlu berteriak-teriak menggunakan istilah: Cinta Pancasila, NKRI harga mati, atau yang semacamnya. Penyair ini cukup menuliskan sajak yang ingin dijadikan sesuatu yang dapat menimbulkan kecintaan murni terhadap bangsa.
Tak salah, memang. Sebab penyair ini pernah mengabdi sebagai “penjaga negara” dalam hal ini bertugas sebagai KKO. Nah, barangkali, saat ini ia tetap ingin menjadi ‘penjaga keutuhan kesatuan negeri ini’ – yang mulai dirusak dengan wabah korupsi, dicekik oleh harga-harga kebutuhan pokok, sulitnya mendapatkan lapangan kerja, menjamurnya narkoba, ketidak adilan dalam penerapan hukum, dan lain-lain – dengan merangkum sajak-sajak dalam buku Puisi Mini Puisi Midi.
Di luar itu semua, ada ‘sesuatu’ yang perlu kita catat di sini. Ternyata jumlah puisi mini dan midi yang dibukukan ini berjumlah 45. Apa ini punya makna bahwa buku ini dipersembahkan untuk negeri yang memperoleh kemerdekaan pada tahun 1945. Ataukah angka 45 ini sebuah kebetulan belaka – jumlah puisi mini 21 dan puisi midi berjumlah 24. Yang bisa menjawab pertanyaan ini, tentu saja, sang penyairnya sendiri.***Humam S. Chudori